Showing posts with label love and friendship. Show all posts
Showing posts with label love and friendship. Show all posts

Wednesday, November 3, 2021

Bodoh


“Kamu tuh bodoh atau apa sih?” oceh temanku ketika dia mendengar lagi cerita lanjutanku tentang Huang.

Aku tidak menjawab pertanyaannya, tapi aku terima pernyataannya bahwa aku memang bodoh. Tapi bukankah bodoh dalam cinta adalah hal yang biasa? Bukankah cinta itu memang tidak pakai logika, seperti lagunya Agnez Mo? Bukankah hati memang tidak bisa memilih ia ingin jatuh kepada siapa?

 

“Kamu sadar ngga sih, cintamu itu cuma ILUSI.” Lanjutnya lagi.

Lagi-lagi aku tidak mau menjawab ocehannya, karena percuma, penjelasanku hanya akan menjadi perdebatan diantara kami. Namun sejak pertama kali aku patah hati pada Huang, aku menolak cintaku dikatakan ilusi. Menurutku cinta yang hanyalah ilusi, jika yang aku cintai adalah karakter fiktif, seperti tokoh-tokoh Webtoon atau Manga favoritku atau para selebriti dunia. Tapi Huang bukanlah karakter fiktif. Aku sudah bertemu dengannya, aku pernah berbicara dan berbagi cerita dengannya, aku pernah makan bersamanya, aku pernah hang out bersamanya karena itu aku mempercayai keberadaan Huang.

Saat aku menyadari perasaanku kepada Huang, aku percaya itu sebuah perasaan yang NYATA. Hasrat yang nyata, cinta yang nyata. Dan karena aku sungguh-sungguh nyata dalam mencintainya, 11 tahun yang lalu aku memutuskan melepaskannya dari cintaku. Agar ia bisa menjadi dirinya sendiri, agar ia tidak terbebani dengan cintaku, agar dia bisa sungguh-sungguh berbahagia dengan pilihan hatinya.

Dan ternyata meski sudah belasan tahun berlalu, perasaanku terhadap Huang masih tetap sama seperti dulu, saat kami pertama bertemu.

 

“Dia tuh hanya butuh kamu karena kemarin itu dia sedang bermasalah?” lanjut temanku semakin emosi.

Saat bertemu Huang lagi setelah 11 tahun kami memutuskan untuk hidup masing-masing, aku justru mendapatkan refleksi baru tentang cinta Tuhan kepadaku, lewat cintaku yang bertepuk sebelah tangang kepada Huang.

Aku baru menyadari betapa Tuhan mencintaiku, di usiaku yang ke-36 jalan ke 37. Dimana selama 36 tahun hidupku, aku hanya datang kepada Tuhan dikala aku sedang bermasalah, dan membutuhkan keluh kesah, setelah masalahku berlalu, aku kembali melupakanNya. Aku bahkan tidak pernah menyadari bahwa Ia selalu hadir dalam setiap detik kehidupanku. Bahwa Ia selalu menjaga dan menyertaiku di setiap masalah yang aku hadapi.  

 

“Kamu tuh ngga capek yah? Aku yang dengernya aja capek loh.” Emosi temanku sepertinya semakin tidak terbendung

Capek? Aku pun pernah merenungkan pertanyaan ini. “apakah Tuhan pernah merasa capek dalam mencintai aku yang sama sekali tidak peka ini?” aku rasa jawabannya TIDAK.

Aku yakin Tuhan tidak pernah merasa capek dalam mencintaiku dan seluruh umatNya yang lain, karena itu Ia tetap membiarkan matahari menyinari bumi untuk menjadi waktu pergantian hari, Ia tetap membiarkan hujan membasahi bumi dan memberi kesegaran, Ia tetap membiarkan oksigen tersisa untuk dihirup cuma-cuma.

Karena Tuhan mencintaiku dengan sabar sampai aku menyadari hal tersebut, begitu pula aku harus bisa mencintai orang yang menolak dan melukai hatiku dengan sabar. Bukan untuk mengharapkannya membalas cintaku di kemudian hari, namun hanya untuk menyatakan bahwa cintaku adalah NYATA.

Aku memang masih manusia biasa yang bisa merasa capek saat menghadapi orang-orang di sekitarku. Apalagi kepada orang-orang yang terang-terangan mengecewakanku, menolakku, membuatku sedih. Tapi aku juga belajar, bila aku terus memohon untuk diberi hati yang bisa mencintai dengan tulus, yang bisa mencintai tanpa mengharapkan balas, yang bisa selalu memaafkan, maka Ia akan mengabulkan. Memang berat, tapi bukankah itu yang Ia ajarkan?

 

“Kamu tuh terlalu mencari ARTI di setiap peristiwa. Dibawa santai aja napa?” di akhir ocehannya.

Justru dengan merenungkan setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupku, aku jadi bisa melihat peristiwa itu dari sudut pandang yang berbeda. Dengan melihat dari sudut pandang yang berbeda, aku jadi bisa lebih cepat berdamai dengan keadaan, dan bisa belajar untuk bersikap lebih baik ke depannya. Jadi apa salahnya?

 

“Apa kamu tidak memikirkan perasaan pasanganmu?”

Huang adalah masa laluku, jauh sebelum aku bertemu dengan pasanganku. Aku hanya berharap pasanganku dapat sungguh-sungguh menerima masa laluku, dengan seluruh proses yang pernah aku lewati.

Huang adalah takdir yang harus aku temui, proses yang harus aku lewati. Aku tidak pernah menyesali pertemuanku dengan Huang. Aku juga tidak pernah menyesali cintaku yang bertepuk sebelah tangan dengan Huang.

Lagi pula, aku berhutang sebuah jalan kehidupan dari Huang. Tanpa mengenalnya dan patah hati kepadanya, mungkin aku tidak akan pernah belajar untuk lepas bebas. Mungkin aku tidak akan pernah menyadari betapa besarnya cinta Tuhan kepadaku. Dan aku tidak akan menjadi aku yang sekarang.

 

Tentang aku yang masih mencintai Huang dulu, sekarang, dan entah sampai kapan, memang hanyalah keegoisanku untuk membahagiakan diriku sendiri. Aku menyadari secara penuh, jika bisa hidup bersama Huang hanyalah sebuah keserakahan bagiku, dan tetap bisa berada di sisinya dikala ia membutuhkanku sudah merupakan kemewahan bagiku. Maka itu aku sudah tidak berharap kami bisa bersama. Yah semoga saja pasanganku dapat menerima aku yang egois ini. Toh saat ini aku hanya bisa berdoa untuk Huang, semoga ia sungguh menemukan kebahagiaan sejati bersama pilihan hatinya. 


Grey_S

Tuesday, June 29, 2021

Yang pertama bagiku

Semua orang pasti memiliki pengalaman “Pertama Kali”, begitu pun aku. Untuk urusan hubungan cinta, meski dia bukan cinta pertamaku, tapi dia adalah semua yang pertama bagiku. Dia pacar pertamaku, dia ciuman pertamaku, bersamanya aku pertama kali menghabiskan saat-saat romantis.

Pertama kali mendapat kiriman buket bunga, pertama kali punya panggilan sayang selain untuk adik dan keponakan, pertama kalinya bisa bersama seseorang penting di moment penting keluarga besar, pertama kalinya bisa merasakan wisuda di dampingi kekasih, pertama kalinya liburan ke negara impianku sejak kecil, pertama kalinya pergi Camping meski berakhir nginep di mobil karena hujan deras dan tenda kami gagal dibangun, dan sepertinya masih banyak hal-hal pertama lainnya yang aku alami bersamanya, termasuk pertama kalinya aku putus.

Untuk pertama kalinya, akhirnya aku punya MANTAN PACAR. Suatu yang sangat tidak ingin aku banggakan sama sekali.

Apakah yang kurasakan saat ini adalah perasaan yang wajar ketika orang baru berpisah dari kekasihnya? Perasaan serba salah, serba ragu.

Apakah keputusan ini adalah keputusan yang benar? Bagaimana kalau ternyata aku saja yang terlalu egois?

Apakah akan ada orang lain yang lebih baik darinya? Bagaimana kalau tidak akan ada orang lain lagi untukku?

Apakah aku siap bila ia sudah bersama orang lain?

Apakah suatu saat kami bisa tertawa bersama lagi, saling bercerita lagi, bagai sahabat lama, seperti saat kami belum menjalin hubungan khusus?

Pusing.

Sedih.

Kecewa.

Mungkin aku hanya terlalu banyak berharap kepadanya, makanya aku merasa kecewa.



Grey_S 

Thursday, May 13, 2021

Ketika Depresi-ku kambuh

“Apa sih yang paling kamu inginkan ketika Depresi-mu lagi kambuh?” tanya seorang teman kepadaku, saat kami sedang membicarakan kondisi mamanya yang sedang sakit cukup berat.

Dan seperti biasa, ketika ditanya secara langsung, aku malah tidak bisa menjelaskannya secara detail, karena itu aku coba jelaskan lewat tulisan lagi.

Pada saat aku mengalami masalah cukup berat, merasa terpuruk, mengalami kesedihan yang dalam, bahkan masuk ke tahap Depresi, pastinya yang aku inginkan adalah kabur dari kenyataan, tidak perlu terbangun lagi dari alam mimpi, tidur selamanya (atau kata kasarnya yah… maunya sih mati aja lah). Maka pada saat mengalami itu, biasanya aku bisa tidur belasan jam, tidak nafsu makan, merasa tubuh lemas, lemah, lelah, bahkan semua penyakit bisa terasa (psikosomatis), dan pastinya pikiran dan perasaan juga menjadi jelek terus.

Nah pada saat itu terjadi, yang penting itu justru bukan “apa yang aku inginkan” tapi “apa yang aku BUTUHKAN

Pada saat itu terjadi sebenarnya aku hanya butuh: ada yang mengingatkan aku betapa aku dicintai, betapa kehadiranku masih dibutuhkan, bahwa aku tidak sendirian di dunia ini, bahwa badai yang aku alami pasti akan berlalu, dan hal-hal positif lainnya.

Tapi untuk diingatkan hal-hal tersebut diatas pun, tidak melulu harus lewat kata-kata. Cukup dengan tidak menghakimi kadang itu sudah sangat membantu. Tetap bertahan di sisi-ku, atau dengan sebuah pelukan hangat, atau kecupan kecil, itu sudah membuatku sangat bersyukur.

Aku masih terkenang sebuah kejadian belasan tahun lalu, ketika adikku yang paling kecil, saat itu baru berusia 8-9 tahunan, memelukku erat sambil berkata “Cici, cici lagi stress yah. Jangan stress-stress dong.” Mungkin dia bahkan sudah melupakan kejadian itu, tapi pelukannya saat itu berhasil menyelamatkanku dari keterpurukan. Hal-hal sederhana ini lah yang paling aku butuhkan disaat aku sedang terpuruk atau Depresiku sedang kambuh.

Oh ya, tiap-tiap orang memiliki Bahasa Cinta yang berbeda-beda. Sehingga tiap orang pasti memiliki cara yang berbeda pula untuk mengingat pengalaman-pengalaman dicintai tersebut. Saranku, pelajarilah Bahasa Cinta orang yang ingin kamu dampingi untuk melewati masa sulitnya. Kalau kamu sungguh-sungguh mencintai orang tersebut, pasti tidak masalah kan untuk kamu mencoba memahami lebih dalam apa yang ia butuhkan? Dan bersabarlah menghadapinya, karena tiap orang membutuhkan waktu yang berbeda pula untuk bisa pulih dari keterpurukannya. 


Grey_S

Wednesday, April 21, 2021

Teman Seperjalanan


Alkisah ada 2 orang teman lama yang memutuskan berjalan bersama, sebut saja si A dan si B.

Sebenarnya mereka tau dan sadar, bahwa mereka memiliki jarak saat berjalan bersama itu, namun setelah memikirkan matang-matang, dan sedikit berharap bahwa jarak tersebut suatu saat akan menyatu di ujung jalan, mereka tetap memutuskan untuk berjalan bersama.

Perbedaan karakter keduanya, yang cukup berkebalikan bumi dan langit, juga tidak menjadi masalah, dan bahkan pada awalnya terasa saling melengkapi. Jalan yang awalnya sunyi dan membosankan, berubah menjadi seru dan menyenangkan. Semua karena mereka menempuh jalan tersebut berdua.

Namun dengan semakin berjalannya waktu, dan semakin jauhnya perjalanan yang mereka tempuh, jarak yang terbentang diantara mereka ternyata justru semakin melebar, bukan menyatu seperti yang mereka harapkan.

Mereka masih bisa saling memandang dari kejauhan, namun untuk mendengarkan suara satu sama lain, semakin sulit untuk dilakukan. Sehingga kesalahpahaman diantara mereka pun menjadi semakin sering terjadi. Apalagi ketika mereka menemukan sebuah kenyataan baru bahwa ujung jalan yang mereka harus tempuh ternyata berkebalikan. A harus terus berjalan ke arah kanan, sedangkan B harus terus berjalan ke arah kiri.

Untuk melompati jarak yang mereka miliki sekarang, untuk memilih salah satu jalan saja, ternyata sudah tidak mungkin karena jarak tersebut sudah terlalu lebar. Untuk memutar balik juga tidak mungkin, karena jalan yang mereka tempuh adalah Jalan Kehidupan, dimana hanya terdapat satu arah maju saja, tidak pernah ada arah mundur atau kembali.  

Pilihan mereka hanya, tetap bersama namun harus diam ditempat dan tidak kemana-mana lagi, atau tetap melanjutkan perjalanan namun terpaksa harus berjalan masing-masing, seperti saat mereka belum memutuskan untuk berjalan bersama.

Sayangnya keputusan untuk diam ditempat juga bukan keputusan yang bijaksana, mengingat persediaan bekal mereka yang terbatas dan di lokasi tersebut juga tidak ada yang menyediakan bahan makanan. Sehingga kalau mereka memaksakan diri untuk tetap bersama dan berdiam diri, maka hanya dalam hitungan hari, salah satu dari mereka, atau bahkan mereka berdua akan mati.

Akhirnya dengan mempertimbangkan keselamatan bersama, salah satu dari mereka membuat keputusan untuk terus berjalan, meski ia pun menjadi sangat sedih karena harus berpisah dengan teman seperjalanannya yang sudah 9 tahun lebih menemaninya berjalan bersama.

Ia hanya bisa mempercayakan takdir mereka kembali kepada Tuhan. Tuhan yang mempertemukan mereka, Tuhan yang mengijinkan mereka berjalan bersama selama 9 tahun, maka bila Tuhan berkehendak, suatu saat mungkin saja jalan kehidupan yang mereka tempuh bisa bersisian lagi bahkan bisa menjadi satu jalan yang tidak berjarak.



Grey_S 

Ad Maiorem Dei Gloriam


Ad maiorem Dei gloriam,

Engkau yang mempertemukan kami,

Engkau yang menyatukan kami,

Hanya Engkau lah yang dapat memisahkan kami.

 

Ad maiorem Dei gloriam,

Engkau yang mendampingi setiap langkah hidup kami,

Bila ternyata perpisahan ini akan memuliakan namaMu lebih besar,

Membuat aku dan dia menjadi lebih bisa mendekat kepadaMu,

Maka terjadilah sesuai kehendakMu.

 

Ad maiorem Dei gloriam.

Untuk keagungan Allah yang lebih besar,

Bila aku harus merengkuh luka-lukaku,

Mencintainya meski tak dapat bersama

Maka terjadilah padaku sesuai kehendakMu.

 

Ad maiorem Dei gloriam,

Untuk keagungan Allah yang lebih besar,

Aku serahkan segenap hidupku, segenap karyaku,

Keselamatan orang-orang yang aku cintai, dan

Hubunganku dengannya.

 

 

Ad Maiorem Dei Gloriam, sebuah kalimat dalam bahasa Latin, artinya adalah: "Untuk Keagungan Allah Yang Lebih Besar." Motto Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG) adalah inspirasi indah dari seorang yang secara totalitas menyerahkan segenap hidup dan karyanya untuk keagungan Allah yang tergambar di dalam hidup dan karya Yesus Kristus, yaitu yang sekarang di kalangan Gereja Katolik terkenal dengan nama Santo Ignatius Loyola, pendiri Tarekat Ordo Serikat Yesus dalam Agama Katolik.



Grey_S

Wednesday, January 20, 2021

Orang Tua Group

Orang Tua Group yang aku maksud disini bukan perusahaan OT Group yah. Orang Tua Group yang ingin aku ceritakan disini, adalah nama Group WA aku dan teman-temanku. Dimana dalam WAG ini secara orientasi sex terdiri dari 1 orang heterosex, 1 orang lesbian, 1 orang gay, 1 orang bisexual, dan 1 orang asexual (?). Secara kepercayaan kami terdiri dari 1 Muslim, 2 Agnostik, 1 Kristen, dan 1 Katolik. Beragam bukan?

Kami sudah saling mengenal lebih dari 10 tahunan. Kami pun memutuskan untuk bekerja sama bahu membahu untuk memperjuangkan kesetaraan bagi semua manusia.

Dalam kurun waktu tersebut, sudah banyak hal yang kami alami. Dikhianati sahabat, ditinggal pacar, uang dibawa kabur orang, diserang dan diteror orang tak dikenal, dan banyak hal lainnya. Bahkan hubungan diantara kami pun kerap naik turun.

Seperti becandaan aku dan teman-teman seusia lainnya yang memutuskan tidak menikah atau memiliki keturunan, kadang saat memikirkan akan masa depan, kami pun sering menceritakan kemungkinan untuk tinggal bersama dan pension bersama. Kami juga berjanji untuk saling menjaga satu sama lain, meski mungkin hanya bisa lewat doa dan chat WA.

Memiliki mereka, dan teman-temanku yang lainnya, membuatku semakin bersyukur dapat merasakan kasih Allah lewat lingkungan yang positif. Lingkungan yang saling mendukung satu dengan yang lain. Teman, kolega, atau kenalan, datang dan pergi, tapi sahabat sejati akan selalu ada di hati meski raga kami terpisah jauh. 



Grey_S

Monday, October 12, 2020

Saskia

Beberapa bulan terakhir ini aku lagi fangirling ke beberapa artis BULE. Jarang-jarang yes, aku ngefans sama artis bule. Secara dari kecil fangirling-nya selalu ke artis-artis Asia, seperti HongKong, Taiwan, Jepang. Baru sekarang jadi fangirling ke artis bule, sampai ngikutin socmed mereka, ngikutin akun fanbase mereka, dan jadi nontonin film-film apa aja yang mereka main disitu.

Dari beberapa artis yang aku lagi suka, salah satunya adalah Katie McGrath. Pemeran Lena Luthor di serial Supergirl. Dan aku tertarik sama serial Supergirl, awalnya justru karena terkecoh sama para fandom Supercorp, yaitu para fans yang ngarep banget Lena Luthor a.k.a CEO dari L-Corps dan Kara Danvers a.k.a Supergirl bisa jadian.

Apalagi diceritakan bahwa Lena Luthor pernah memenuhi ruang kerja Kara Danvers dengan bunga (meski hanya digambarkan dalam dialog doang) dan Lena Luthor sampai membeli 100% saham CatCo senilai US $750,000,000 cuma karena Kara memohon Lena untuk menyelamatkan CatCo. Gimana ngga queer bait banget ye kan jalan ceritanya?

Waktu awal-awal aku sampai penasaran banget, “emang bener yah Supergirl pacaran sama Lena Luthor?” Kan jadi ikutan ngarep yes. Ehhhhhh…. Ternyata…. Cuma khayalan babu belaka.

Tapi dari situ, aku jadi tau kenapa para fans Katie McGrath, khususnya yang dari kalangan LGBT, pada ngarep sama Supercorps. Karena yah mereka pada ngarep aja si Katie beneran lesbian. Secara yah lesbian mana yang ngga halu halu babu bisa jadi pacar dari Katie McGrath. Aku pun jadi ikutan halu halu babu.

Dan para fans ini jadi halu halu babu sama Katie McGrath, karena si Katie ini ada beberapa kali meranin karakter sebagai lesbian / bisexual di film-film yang dia kerjakan. Nah, salah satu karakter Katie sebagai lesbian / bisexual, yang paling berkesan buatku adalah saat dia memerankan Saskia de Merindol di mini seri Secret Bridesmaid Business.


Btw, berhubung aku bukan pengamat film, aku tidak akan membahas karakter Saskia ini dari context seni atau pun kualitas film. Aku ingin menuliskan kesanku dengan karakter Saskia sebagai manusia biasa.

 

***

Karakter Saskia de Merindol diceritakan sebagai seorang wanita yang memiliki karir yang cukup cemerlang sebagai seorang pengacara. Bahkan di usia yang terbilang muda, dia berhasil meraih impiannya untuk menjadi partners di biro hukum terbesar di Australia. 

Selain itu secara fisik Saskia juga sangat menarik, sehingga banyak orang yang berharap bisa berkencan dengannya dan menjadi kekasihnya. Sayangnya Saskia ini tidak percaya dengan hubungan yang monogami, sehingga ia tidak pernah mau terikat dengan siapa pun.

Dibalik sikap dingin Saskia dalam memandang hubungan percintaan, ternyata dia sangat mencintai sahabatnya sejak kuliah yaitu Olivia Cotterill yang menjalani bisnis perkebunan anggur dan mengidap penyakit kanker.

Cinta Saskia ke Olivia ini sebenarnya diketahui oleh hampir semua orang di dalam circle mereka. Dari calon suami Olivia, orang tua Olivia, mantan pacar Saskia, semua tau kalau Saskia adalah Budak Cinta-nya Olivia. Apapun yang Olivia minta pasti akan dikabulkan oleh Saskia, seberapa pun gilanya permintaan itu. Bahkan demi si Olivia ini, Saskia berani mempertaruhkan seluruh karirnya dengan menggelapkan uang perusahaan untuk membantu bisnis Olivia yang sempat hampir bangkrut. Saskia juga sampai harus hidup dalam ketakutan dan trauma percobaan pembunuhan karena berusaha melindungi Olivia dan seorang sahabatnya yang lain, yang kebetulan kedua-duanya terlibat dengan seorang psikopat yang sama. Sayangnya Olivia sendiri malah sepertinya tidak menyadari perasaan Saskia kepadanya. Olivia tetap saja cuma anggap Saskia sahabat.

Nah… di point ini lah aku merasa sangat terkesan dengan karakter Saskia ini.

Tetap mencintai tanpa harap kembali. Tetap mencintai meski sadar tidak bisa memiliki. Tetap mendampingi sebagai sahabat dalam suka maupun duka, meski sadar cintanya tidak pernah berbalas. Rela berkorban demi orang yang dicintai apapun resikonya.

Kok bisa yah Saskia mencintai Olivia sebegitu besarnya? Apa karena dia hanya karakter film? Ada ngga yah Saskia di dunia real?

Dan aku masih merenungkan pertanyaan-pertanyaanku diatas dan membandingkannya dengan ceritaku sendiri. 




Grey_S

Wednesday, August 12, 2020

Surat rindu untuk seorang sahabat

Hi JD, Kamu lagi ngapain? Bagaimana disana? Semoga disana benar-benar jauh lebih menyenangkan yah.

Topik pembicaraan pagi ini di WAG kita tentang kamu loh.

Yeah… We missed you JD.

Padahal baru 27 hari kamu pergi meninggalkan kami.

Son masih teringat saat saat “nakal”nya bersama kamu.

Mak masih belum sanggup menghabiskan snack perpisahan yang kamu kirim, sehari sebelum kamu pergi.  

Lex, juga masih menyimpan dan memutar kembali lagu-lagu yang pernah kamu kirim setiap pagi, untuk mewarnai pagi kami.

Pas beberes kamar akhir pekan lalu, aku pun secara kebetulan menemukan tiket bioskop yang kamu traktir aku nonton bareng, meski filmnya sudah berkali-kali kamu tonton. Padahal waktu itu aku juga yang ngajakin nonton bareng, karena ngga ada temen yang bisa diajakin.

Aku juga menemukan oleh-oleh yang kamu berikan ketika travelling. Kemarin saat back up laptop, secara kebetulan juga aku menemukan foto-foto kita, dan aku berasa seperti baru kemarin kita menghabiskan waktu bersama.

 

Oh ya, pagi ini Bay, teman lama kita bergabung di WAG. He said, he missed you too.

Bergabungnya Bay pagi ini, seakan-akan menggantikan kamu, jadi WAG kita balik lagi jadi ber-8. Tapi tenang aja, kamu tidak akan pernah tergantikan, setidaknya di hati kami.

JD, salam buat mas Den yah.

Tolong bilangin, meski cuma sempet 1x ketemuan, aku kangen ketawa sampe ngikik-ngikik bareng dia.  

 JD, bahagia disana yah. Tunggu kami juga.

Nanti bila sudah waktunya kami tiba, kita gossip-gossip cantik lagi disana.

Wisata kuliner lagi, makan apapun yang kita suka, tanpa takut sakit. Jadi ngga perlu lagi tuh 1 porsi sharing rame-rame.  

Jalan-jalan lagi, kemana pun tanpa takut kehabisan duit, atau dicariin bos.

 

Sampai ketemu lagi JD.

We loved you. 

 

Grey_S

Thursday, July 30, 2020

Eat, Pray, Love (me version 2)

10 tahun yang lalu, ketika selesai menonton film Eat, Pray, Love yang dibintangi oleh Julia Roberts, aku merasa film tersebut sangat relevan dengan pengalaman hidupku. Bila tokoh utama film tersebut harus mengunjungi Itali, India, dan Bali untuk menemukan hidupnya kembali, maka aku cukup pergi ke Beijing.

Hari sabtu yang lalu, aku dan teman-teman yang sama-sama pernah menghabiskan waktu bersama di Beijing, berkumpul via Zoom untuk sekedar melepas kangen. Sebenarnya kumpul online via Zoom ini sudah menjadi rutinas kami tiap malam minggu sejak 2 bulan terakhir. 

Biasanya kami mengambil undi untuk siapa yang akan menjadi host, dan host akan mempresentasikan apapun yang ingin dia jadikan topik pembahasan hari itu. Nah sabtu yang lalu, “ketua genk” kami yang menyebut dirinya “Nai-nai” a.k.a Neneknya cucu cucu, yang menjadi host, dan dia mengambil topik kenangan-kenangan ketika kami di Beijing. 

Kebetulan Nai-nai adalah yang paling hobby foto-foto diantara genk kami, sehingga koleksi foto-foto kenangan yang dia simpan bisa dibilang yang paling lengkap. Jadilah sabtu yang lalu menjadi ajang buka-bukaan foto aib di masa lalu. 

Dan layaknya orang-orang yang sedang bernostalgia, satu per satu dari kami pun kembali bercerita tentang moment-moment yang kami ingat dari foto-foto yang di share screen oleh Nai-nai. Hasil dari nostalgia tersebut akhirnya malah menjadi pengakuan dari masing-masing kami, dimana ternyata kami disatukan oleh sebuah persamaan. 

Yup. It’s Eat, Pray, Love – Time. 

Beberapa dari kami, ternyata pergi ke Beijing memang bukan untuk serius belajar bahasa Mandarin. Kami pergi kesana karena saat itu kami membutuhkan waktu “istirahat dari kehidupan” kami. Termasuk aku salah satunya. 

10 tahun yang lalu, aku pernah menuliskan curhatanku dengan judul yang sama. Waktu itu aku sudah menyadari tentang waktu EAT dan PRAY. Hanya LOVE yang waktu itu menjadi pertanyaanku, karena saat itu aku belum menemukan LOVE-ku. 
 
Hampir 1,5 tahun kemudian dari tulisan Eat, Pray, Love (me version) yang pertama, akhirnya menjalin hubungan dengan seseorang yang aku kenal di gereja di Beijing. Aku pikir dialah satu-satunya LOVE-ku. 

Nah kemarin ketika aku dan teman-teman Beijingers-ku berkumpul, dan saling berbagi kenangan tentang EAT, PRAY, LOVE kami masing-masing. Ada 1 teman yang mengingatkan bahwa LOVE tidak hanya selalu tentang sepasang kekasih. LOVE bisa berarti Cinta kepada diri sendiri, Cinta kepada sahabat, Cinta kepada keluarga, Cinta kepada orang-orang terdekat, dan Cinta kepada sesama.

Inilah yang 10 tahun lalu aku lupakan di tulisanku saat itu. Aku mempertanyakan tentang LOVE-ku, padahal karena kesempatan untuk tinggal di Beijing, aku akhirnya bisa menerima dan mencintai diriku sendiri. 

Dan karena aku sudah bisa mencintai diriku sendiri, aku pun bisa menerima cinta dari keluarga, dari sahabat-sahabatku, bahkan dari orang-orang yang baru saja aku kenal, atau orang yang hanya lewat begitu saja dalam hidupku. 

Pengalaman mencintai dan dicintai inilah yang ternyata membawaku menemukan “Surga” dalam hidupku. Surga yang harus aku kabarkan kepada orang-orang lain yang sedang berjuang mencari surga.



 
Ya Tuhan,
Terima kasih atas Waktu yang Engkau berikan kepadaku.
Terima kasih atas Rejeki  yang Engkau berikan kepadaku.
Terima kasih atas Cinta yang Engkau curahkan kepadaku. 


Grey_S