Showing posts with label Opini pribadi. Show all posts
Showing posts with label Opini pribadi. Show all posts

Thursday, May 13, 2021

Ketika Depresi-ku kambuh

“Apa sih yang paling kamu inginkan ketika Depresi-mu lagi kambuh?” tanya seorang teman kepadaku, saat kami sedang membicarakan kondisi mamanya yang sedang sakit cukup berat.

Dan seperti biasa, ketika ditanya secara langsung, aku malah tidak bisa menjelaskannya secara detail, karena itu aku coba jelaskan lewat tulisan lagi.

Pada saat aku mengalami masalah cukup berat, merasa terpuruk, mengalami kesedihan yang dalam, bahkan masuk ke tahap Depresi, pastinya yang aku inginkan adalah kabur dari kenyataan, tidak perlu terbangun lagi dari alam mimpi, tidur selamanya (atau kata kasarnya yah… maunya sih mati aja lah). Maka pada saat mengalami itu, biasanya aku bisa tidur belasan jam, tidak nafsu makan, merasa tubuh lemas, lemah, lelah, bahkan semua penyakit bisa terasa (psikosomatis), dan pastinya pikiran dan perasaan juga menjadi jelek terus.

Nah pada saat itu terjadi, yang penting itu justru bukan “apa yang aku inginkan” tapi “apa yang aku BUTUHKAN

Pada saat itu terjadi sebenarnya aku hanya butuh: ada yang mengingatkan aku betapa aku dicintai, betapa kehadiranku masih dibutuhkan, bahwa aku tidak sendirian di dunia ini, bahwa badai yang aku alami pasti akan berlalu, dan hal-hal positif lainnya.

Tapi untuk diingatkan hal-hal tersebut diatas pun, tidak melulu harus lewat kata-kata. Cukup dengan tidak menghakimi kadang itu sudah sangat membantu. Tetap bertahan di sisi-ku, atau dengan sebuah pelukan hangat, atau kecupan kecil, itu sudah membuatku sangat bersyukur.

Aku masih terkenang sebuah kejadian belasan tahun lalu, ketika adikku yang paling kecil, saat itu baru berusia 8-9 tahunan, memelukku erat sambil berkata “Cici, cici lagi stress yah. Jangan stress-stress dong.” Mungkin dia bahkan sudah melupakan kejadian itu, tapi pelukannya saat itu berhasil menyelamatkanku dari keterpurukan. Hal-hal sederhana ini lah yang paling aku butuhkan disaat aku sedang terpuruk atau Depresiku sedang kambuh.

Oh ya, tiap-tiap orang memiliki Bahasa Cinta yang berbeda-beda. Sehingga tiap orang pasti memiliki cara yang berbeda pula untuk mengingat pengalaman-pengalaman dicintai tersebut. Saranku, pelajarilah Bahasa Cinta orang yang ingin kamu dampingi untuk melewati masa sulitnya. Kalau kamu sungguh-sungguh mencintai orang tersebut, pasti tidak masalah kan untuk kamu mencoba memahami lebih dalam apa yang ia butuhkan? Dan bersabarlah menghadapinya, karena tiap orang membutuhkan waktu yang berbeda pula untuk bisa pulih dari keterpurukannya. 


Grey_S

Friday, August 7, 2009

Kasih Mama (Papa) sepanjang masa


Kasih ibu, kepada beta
tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi,

tak harap kembali,
Bagai sang surya,
menyinari dunia.


Lagu itu pasti sudah tidak asing di telinga, khususnya buat anak-anak yang saat ini sudah seumuran denganku atau di atas umurku. Tapi aku tidak tahu apa anak-anak jaman sekarang masih suka menyanyikan lagu itu?? Ataukah hanya lagu almarhum Mbah Surip yang mereka pelajari di sekolah??

Meski lagu itu hanya menyebutkan kasih ibu, bukan berarti Ayah atau Papa tidak pernah menyayangi kita sepenuh hati kan???

***

Pernahkah kamu berpikir? Meski mama yang mengandung dan melahirkanmu, tapi tanpa sperma dari papa kamu juga tidak akan pernah ada.

Pernahkah kamu berpikir? Meski hanya mamamu yang sibuk di rumah memasak dan mengurusmu, yang selalu menemanimu belajar dan bermain, tapi papamu juga sibuk di kantor untuk mencari nafkah agar ia tetap bisa membiayai hidup keluarganya, istri dan anaknya. Agar anak-anaknya jangan sampai putus sekolah dan kekurangan suatu apapun.

Pernakah kamu berpikir? Meski Papamu selalu galak padamu bahkan tidak jarang kalian sampai bertengkar, dan akhirnya mamamu harus melerai kalian sambil memelukmu, tapi Papamu selalu bangga padamu. Ia marah hanya karena khawatir kamu akan terluka karena keingintahuanmu yang berlebihan sehingga di bilang nakal oleh orang lain.

Pernahkah kamu berpikir? Mungkin saja demi membelikanmu mobil, sepeda motor, atau handphone keluaran terbaru, dan semua barang yang kau inginkan demi menjaga image, Papamu harus berhutang kepada orang lain atau kepada bank dan membayarkan bunga yang tidak kecil.

***

Tidak semua hal-hal diatas pernah aku rasakan.

Papiku tidak pernah membiayaiku, karena penghasilannya selalu habis untuk membayar hutang usaha. Tapi setelah aku terjun ke dunia kerja, aku baru sadar itu semua beliau lakukan demi memperbesar usahanya. Agar suatu hari aku tinggal masuk ke perusahaan itu tanpa perlu memulainya dari awal. Agar orang lain menghormatiku sebagai anak Bos, dan tidak menginjak-injak aku hanya karena aku pegawai kecil.

Aku jarang sekali bertemu muka dengan Papiku. Sekalinya bertemu muka tidak jarang kamu bertengkar dan berbeda pendapat. Tapi dari teman-temannya aku tau dia selalu menceritakan dan membanggakan aku kepada semua orang.

Aku pernah menyalahkan Papiku atas ketakutanku terhadap pernikahan, tapi kini aku sadar, gagalnya sebuah pernikahan tidak selalu karena pihak lelaki, mungkin saja pihak perempuan juga bermasalah.

Dengan kejadian akhir-akhir ini yang menimpa keluarga kami, aku sadar tidak sepantasnya aku pilih kasih dalam mencintai orangtua-ku. Karena bagaimana pun juga tanpa mereka aku tidak akan pernah ada. Dan mungkin saja segala permasalah diantara aku dan Papiku hanyalah sebuah kesalah pahaman.


Kasih ayah kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi,

tak harap kembali,
Bagai sang surya,
menyinari dunia.




Grey_S

Saturday, August 1, 2009

Homosexualitas dan genetika



Tema kali ini aku angkat setelah membaca cerita camilan sepocikopi tentang Donna yang shock, dan tidak bisa menerima keadaan kalau ABG yang jadi rebutan cowo-cowo gay di restaurantnya Margareth mirip keponakannya. Hmmm… tante lesbian dan keponakan gay, sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga. Minimal di telingaku.

Selama aku ikutan jadi volunteer di QFF, aku jadi punya tambah banyak teman. Dan semalam waktu lagi makan bareng sambil ngegosip, tau-tau teman gay aku cerita tentang temannya yang kembar dan 2-2nya gay. WOW!!

Salah satu panelis di Acara Silat Lidah Binan juga cerita kalau dia punya kakak lelaki, yang sudah menikah dengan Boyfriendnya di Belanda. Teman sekolahku kakak beradik, kakaknya gay, adiknya lesbian. WOW lagi!!!

Sejak aku memiliki teman-teman dari dunia per-Homosexualitas-an, HAMPIR SEMUAnya bercerita kalau mereka punya om / tante / sepupu / keponakan yang juga homosex. Lagi-lagi WOW!!!!

Di tambah lagi dengan penemuan-penemuan baru kalau ternyata (katanya para peneliti) Homosex itu tidak hanya ada di dunia manusia, tapi terjadi punya di dunia binatang. Seperti ulasan dari teman kita di blog Fried Durian tentang burung Penguin yang gay. Juga beberapa cerita yang aku dengar (juga dari teman) tentang anjing atau kucing yang homosex.

Aku tambah yakin deh kalau memang homosex itu ada hubungannya dengan genetika dan homosex itu memang di ciptakan oleh Tuhan sendiri.

So, untuk aku saat ini buat apa takut jadi homosex? Yang penting aku menjadi orang homo yang baik dan berakhlak tinggi, hanya takut sama Tuhan, sayang keluarga, dan melakukan hal-hal baik lainnya.

Tadi aku juga sempet browsing tentang Homosexualitas dan Genetika, ada 2 artikel yang menurutku sangat mendukung peryataan aku. Satu di serendip.brynmawer.edu, lainnya di www.covervapedia.com. Mungkin untuk jelasnya kalian bisa buka sendiri di kedua web tersebut.


Grey_S


Friday, July 24, 2009

Boom!!!!


Hari ini Jumat 24 Juli 2009. Seminggu sudah sejak ledakan Bom kuningan II meledak.

DUUAAARRRRRRRR!!!

Mungkin seperti itulah bunyinya. Kalau aku gambarkan lewat tulisan.

Terkejutkah aku dengan peristiwa hari itu? Tidak. Aku sama sekali tidak terkejut. Sebagai seorang yang sudah berkali-kali mendengar berita tentang pemboman di Indonesia, aku menjadi terbiasa dengannya. Satu-satunya yang terucap olehku saat itu adalah “terjadi lagi”.

Jumat 17 Juli 2009. Aku baru seminggu pulang dari tugas belajarku di negara lain. Selama 10 bulan aku di negara orang, selama itu pula aku berusaha menceritakan tentang keindahan dan keramahan negaraku, kepada teman-temanku yang notabene orang-orang asing yang belum mengenal Indonesia. Selama itu pula aku sering mengatakan “Indonesia waiting for you friends” setiap ada teman yang mengatakan ingin berkunjung ke negaraku. Tapi baru satu minggu aku pulang, bom itu sudah meledak lagi.

DUUAAARRRRRRRR!!!

9 orang kehilangan nyawa, puluhan orang terluka fisiknya, ribuan orang terluka batinnya karena kehilangan orang terdekat mereka, dan jutaan orang mengalami trauma. Dan pada akhirnya trauma itu pasti akan berbuntut krisis kepercayaan.

Indonesia tidak akan di percaya lagi sebagai negara yang aman. Umat muslim sebagai tertuduh tidak akan di percaya lagi sebagai pembawa damai. Perekonomian Indonesia tidak akan di percaya lagi akan menguntungkan untuk berinvestasi. Apakah memang ini yang di inginkan? Apakah memang ini yang di harapkan?


Grey_S


Saturday, June 13, 2009

Idola juga manusia

Beberapa hari yang lalu saya membaca blognya Ibu Sinyo, yang menuliskan betapa risihnya ia dengan banyaknya ABG saat ini yang mengikuti gaya band “the Virgin”. Band hasil bentukan Ahmad Dhani, yang beranggotakan dua perempuan belia Mitha dan Dara.

Kalau saja yang di tiru oleh ABG-ABG penggemar band virgin hanyalah cara berpakaian atau cara berdandan, mungkin ibu Sinyo tidak akan merasa begitu risih. Sayangnya ABG-ABG itu meniru pula kemesraan-kemesraan yang di tampilkan oleh Mitha-Dara dalam setiap foto session atau setiap aksi panggung mereka. Jadilah saat ini mendadak banyak yang ABG-ABG yang LESBIAN (ngeLESBI di jalAN).

Fenomena ini tentu saja membuat risih para lesbian yang masih in the closet. Sampai Keizo, bertanya apakah semua perempuan itu punya “bakat” menjadi lesbian. Jawab Sinyo, mungkin benar sebagian perempuan mempunyai bakat menjadi lesbian, namun sebagian lagi hanyalah ikut-ikutan gaya dari idola mereka.

Loh?? Kok bisa lesbian menjadi “gaya”??

Bisa dong.

Dalam Kamus Kata-kata Serapan Asing Dalam Bahasa Indonesia, “idola” adalah orang atau tokoh yang di jadikan pujaan. Memiliki seseorang pujaan, membuat orang yang memuja merasa ingin selalu berada di dekat pujaannya. Caranya tentu saja dengan meniru gaya sang pujaan, mengkoleksi benda-benda yang bisa mengingatkannya kepada sang pujaan, atau menjadi pengikut sang pujaan.

Jadi kalau sang idola itu merupakan pria-pria “cantik” atau perempuan-perempuan “tampan”, maka penggemarnya pun akan ikutan berdandan menjadi seperti mereka. Dan kalau sang idola itu lesbian atau berlagak lesbian, yah penggemarnya juga akan ikut-ikutan bergaya lesbian.

Tapi apakah dengan mengidolakan mereka artinya sang penggemar sudah menjadi homosex?

Tentu saja belum tentu.

Karena dalam mengidolakan seseorang tidak ada hubungannya dengan gender dan orientasi sex apalagi dengan perasaan cinta. Semua bisa menjadi homo dan hetero secara bebas. Sama seperti jaman dahulu kaum pagan memuja para dewa-dewi yang cantik dan tampan, atau yang memiliki kemampuan hebat. Saat ini pun orang menjadi tidak peduli yang di pujanya itu pria atau wanita, selama mereka cantik dan tampan atau memiliki kemampuan, pastilah mereka mempunyai penggemar fanatik yang selalu mengikuti mereka.

Sayangnya saat seseorang sudah mengidolakan secara fanatik, kadang mereka sudah tidak menggunakan logika lagi. Apapun akan di lakukan untuk mendekati kehidupan sang idola. Bahkan terkadang dengan alasan yang sangat berlebihan dan tidak masuk akal, mereka bisa berbuat anarkis.

Tidak sedikit kita mendengar kasus selebriti yang di bunuh oleh penggemarnya sendiri seperti Gianni Versace dan John Lennon. Atau kasus 3 penggemar Hideto Matsumoto, gitaris sekaligus penulis lagu band X Japan, yang bunuh diri dengan cara yang sama seperti yang di lakukan Hideto.

Padahal kalau para penggemar itu mau sedikit menggunakan logika, idola mereka kan masih manusia biasa yang memiliki kekurangan dan bisa melakukan kesalahan. Kenapa juga tidak di tiru sisi baiknya saja, dan belajar dari kesalahan mereka.



Grey_S
atas ide dari Sinyo & Laksmi

Wednesday, April 15, 2009

Berani Menang, Berani Kalah


Hari ini (Rabu 15 April 2009) aku membaca berita yang cukup lucu, di salah satu tabloid Online yang cukup popular di Indonesia. Judulnya “Stres, Caleg Tak Pahami Konsekuensi Kekalahan”. Tentu saja karena judulnya yang sangat menarik, berita tersebut menjadi pilihan pertama untuk aku baca.

Di paragraf pertama artikel tersebut tertulis seperti ini “Pasca pelaksanaan Pemilu Legislatif 9 April lalu, banyak calon anggota legislatif (caleg) yang kini mengalami stres hingga depresi karena kalah bersaing.” Aku langsung tertawa saat membacanya. Dan poin inilah yang sangat amat menarik untukku.

***


Saat aku dan adikku masih kecil, setiap kali kami memainkan sebuah permainan, maka permainan itu akan berakhir dengan pertengkaran kami. Salah satu dari kami pasti ada yang tidak terima dengan kekalahan. Tapi orang tua dan para pendidik kami, tidak bosan-bosannya mengajarkan bahwa dalam setiap permainan atau pertandingan, yang namanya menang atau kalah adalah hal yang biasa.

Saat aku mulai beranjak dewasa aku baru sungguh mengerti bahwa menang dan kalah dalam setiap pertandingan, persaingan, ataupun permainan adalah hal yang biasa. Yang luar biasa adalah PROSES pembelajaran yang akan aku dapatkan setiap kali aku berani untuk bertanding atau bersaing. Karena proses yang disebut “belajar dari kesalahan” itu tidak akan pernah didapatkan di sekolah atau kelas manapun kecuali kalian berani mencoba. Berani “mencoba” menjadi pihak yang menang, juga berani “mencoba” menjadi pihak yang kalah.

Menjalankan sebuah PROSES memang tidak mudah. Namanya saja sudah PROSES, pasti membutuhkan waktu yang panjang dan mungkin harus melewati cara yang berliku-liku. Lihat saja proses produksi sebuah barang di rumah produksi. Pasti ribet dan membutuhkan waktu produksi yang tidak sebentar. Sayangnya saat ini kebanyakan orang lebih menyukai segala sesuatu yang berbau Instant, sehingga akhirnya kebanyakan orang-orang ini jadi kurang memahami tentang pentingnya sebuah PROSES.

Pada akhirnya aku berpendapat bahwa di dunia ini ada 4 jenis orang. Yaitu orang takut kalah dan takut menang, orang yang berani kalah, orang yang berani menang, dan orang yang berani menang juga berani kalah.

Orang yang takut kalah juga takut menang adalah tipe orang-orang yang tidak berani mencoba apapun. Dia selalu berpikir untuk apa mencoba ikut dalam persaingan kalau pada akhirnya pasti kalah juga. Dan seandainya ia memenangkan persaingan tersebut, ia takut menjadi sombong dan segala alasan lainnya yang membuat mereka memutuskan tidak pernah ambil bagian dalam sebuah persaingan.

Orang yang berani kalah adalah tipe orang-orang yang sudah mencoba ikut dalam persaingan, tapi selalu berpikir bahwa mereka hanyalah penggembira suasana, yang tidak mungkin memenangkan persaingan. Sehingga mereka selalu mengalah dan tidak pernah berusaha untuk menang. Bagi mereka kemenangan hanyalah sebuah keberuntungan yang tidak perlu diusahakan.

Orang yang berani menang adalah tipe orang-orang ambisius yang selalu ikut dalam persaingan, tapi selalu berpikir bahwa hasil dari pertandingan itu adalah hal mutlak yang harus mereka capai. Sehingga akhirnya mereka mungkin saja akan menghalalkan berbagai cara untuk memenangkan persaingan tersebut. Dan ketika mereka harus menghadapi kenyataan bahwa mereka kalah, mereka akan mencari-cari pihak yang bisa mereka persalahkan atas kekalahan tersebut.

Yang terakhir adalah orang yang berani menang juga berani kalah. Orang-orang tipe ini adalah orang-orang berhati besar yang sejak awal memang sudah memahami arti dari sebuah persaingan dan proses pembelajaran di dalamnya. Biasanya orang-orang ini mengikuti persaingan karena memang memiliki tujuan mulia dalam kemenangannya. Sehingga mereka akan berusaha sebaik-baiknya untuk menang, tapi ketika kalahpun mereka akan tetap menghormati hasil yang ada.

Tipe orang seperti apa caleg-caleg kita yang akan duduk di bangku parlemen, bukan hak saya untuk menilai mereka. Dan tipe orang-orang seperti apa diri anda, andalah yang menilai sendiri.


Link : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/229835/38/



Grey_S


Sunday, January 11, 2009

LDR (Long Distance Relationship)

Pernah ngalamin yang namanya harus pacaran jarak jauh sama pasangan kamu??? atau istilah kerennya LDRan. Jaman sekarang kayaknya LDR udah ga aneh lagi deh. Secara banyak banget pasangan yang karena kebutuhan ekonomi atau kebutuhan untuk menuntut ilmu di tempat lain, akhirnya terpaksa harus LDR untuk sementara waktu. 
Banyak yang bilang LDR itu sulit di jalankan. Tapi banyak juga tuh pasangan yang berhasil melewati ujian cinta yang satu ini. Salah satu orang yang takut sama LDR, adalah adik kandung semata wayangku. Dia sampai batal pergi ke China, karena takut pisah sama pacarnya. Akhirnya aku pergi sendiri deh. Padahal tadinya, salah satu alasan aku disuruh pergi ke China, untuk menemani adikku belajar bahasa. 

Aku sendiri karena belum pernah pacaran, jadi belum pernah yang ngalamin LDR. pacaran aja belum pernah gimana mau LDR yah?? Tapi seandainya harus LDRan yah….Meski berat… apa boleh buat. Apalagi kalau tujuan LDR itu untuk masa depan berdua yang lebih baik. Tapi kalo di bandara, ternyata yayank bilang jangan pergi, aku juga pasti batal pergi seh. Hihihi… 

Yang penting kan tetap menjaga hati, komunikasi, dan kepercayaan. Lagian hari gini, komunikasi kan udah canggih. Buat apa Telepon, Internet dan Web-Cam di ciptakan??? Itu kata orang yang sudah pengalaman LDR. 

Nah ini masalah barunya… bagaimana kalau ternyata karena kemajuan teknologi itu, terciptalah satu jenis LDR lagi?? Yang buat aku, LDR jenis ini, jadi Believe it or not. Agak tidak masuk akal, tapi ini yang terjadi dengan sebagian teman-temanku. Jadian lewat internet, LDR, belum pernah ketemuan. Nah lho??? Bagaimana bisa??? 

Aku juga bingung kenapa bisa jadian?? Memang seh ngomong minta jadian itu ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan dulu. Tinggal bilang “May you be my girlfriend??” terus kalau dijawab “Yes, I do” resmi deh jadian. Tapi yang sampai sekarang tetap saja tidak masuk dalam akal sehatku, adalah bagaimana dengan perasaan dan chemistry yang seharusnya ada dalam suatu hubungan. Apakah bisa perasaan cinta dan chemistry itu terbentuk tanpa kita pernah dekat, apalagi tanpa pernah bertemu sebelumnya dengan pasangan kita itu?? Lalu bagaimana kalau ternyata pasangan kita tidak seperti yang kita bayangkan?? 

"Itu sudah resiko” kata temanku saat kami diskusi masalah ini. Entah karena aku orang yang sangat serius memandang suatu hubungan, atau karena aku juga sudah lelah patah hati, aku pribadi memiliki pendapat yang berbeda tentang masalah ini. Menurut aku “hati” bukan untuk di coba-coba atau di buat sebagai permainan judi. Kalau nanti pas sudah ketemuan ternyata klop yah lanjut, kalau tidak yah putus. Yah kalau rasa sayang atau cinta itu belum terlalu dalam, bisa begitu. Kalau salah satu pihak sudah terlanjur mencintai terlalu dalam, tentu akan menyakiti perasaannya kan?? 

Saat ini aku juga sedang dekat dengan seseorang yang jaraknya berbeda 9 jam perjalanan dengan pesawat. Aku selalu merasa nyaman bertukar pikiran dengan dia. Pembicaraan diantara kami juga selalu nyambung. Aku tidak pernah bosan untuk ngobrol sama dia. Dia single, aku single. Dia cukup cantik, aku cukup handsome (narsis mode on). Dia dewasa, aku penggemar daun tua. 

Intinya banyak teman yang mempertanyakan kelajutan hubungan kami. Kenapa kami tidak segera meresmikan hubungan saja? Tapi buat aku tidak segampang itu jadian. Aku masih 7 bulan lagi disini. Itu pun kalau tidak jadi extend. Ngajak jadiannya seh memang gampang, tapi bagaimana dengan kualitas hubungan kami nantinya. 

Apalagi chemistry diantara kami saat ini baru terbangun sebatas chatting. Dengar suara dia baru 2x, itu pun baru Hallo-hallo sebentar sudah putus. Apalagi ketemuan, belum pernah sama sekali. Lha wong aku baru dekat dengannya sewaktu aku sudah di Beijing. Aku sendiri sangat sadar, kalau aku yang di dalam dunia Maya dan aku yang di dunia Nyata, adalah 2 orang yang berbeda 180 derajat. Sehingga ada sedikit keraguan, kalau nanti copy darat temanku bisa menikmati ngobrol denganku, seasyik saat kami chatting. 

Aku pun tidak bisa berharap banyak, teman dunia mayaku akan sesuai dengan gambaranku selama kami belum berjumpa. Hal-hal seperti itulah yang membuatku harus berpikir dulu sebelum memutuskan untuk jadian. 

Jujur aku takut kecewa, dan takut mengecewakan. Bukan karena aku memandang fisik, tapi karena aku memandang chemistry yang seharusnya terbentuk. Chemistry yang akan menentukan seseorang itu akan menjadi kekasih hatiku, sahabatku, atau cukup sekedar teman biasa. 



GreyS To : Someone 
PS: Untung kita punya cara pandang yang sama.

Thursday, September 4, 2008

Arti Sebuah Nama

Dalam salah satu dialog lakon Romeo and Juliet, Shakespeare pernah berkata “Apalah arti sebuah nama?“ Mungkin bagi sebagian orang nama memang tidak begitu penting. Bahkan sampai ada yang rela mengganti namanya sendiri untuk berbagai macam alasan.

Alasan-alasan yang paling sering digunakan biasanya adalah agar bisa lebih “menjual”, agar kedengaran lebih keren, seperti yang banyak dilakukan oleh para selebriti. Atau sekedar menutupi jati diri yang sebenarnya, seperti yang banyak dilakukan oleh para agen rahasia maupun peselancar di dunia maya. Dan satu alasan lagi yang cukup masuk akal untuk mengganti nama yaitu untuk melupakan masa lalu.

Tetapi tidak sependapat dengan Shakespeare, sejak jaman dahulu orang China dan orang Asia lainnya memiliki kebiasaan bila memberi nama anak selalu ada artinya. Arti nama tersebut tidak boleh jelek maupun terlalu bagus, karena dipercaya nama yang berarti jelek akan memberikan masa depan yang suram bagi si anak. Begitu juga bila arti nama tersebut terlalu bagus, anak tersebut malah akan berat nama dan menjadi sakit-sakitan.

Hal ini yang membuat jauh-jauh hari sebelum aku berangkat ke Beijing, aku dan teman-temanku sudah heboh mencari nama yang bagus. Tidak hanya yang sekedar terdengar keren, tapi juga memiliki arti yang cukup bagus. Seperti yang diketahui, di China nama barat pun akan diubah menjadi nama Mandarin meski akan terdengar lucu. Misalnya Gilbert menjadi GuBo, Fransiska menjadi PaLanKa, dan lainnya.

Kembali lagi ke soal pemberian nama. Tiap orang tua saat memberi nama kepada bayinya, pasti sudah memperhitungkan arti nama tersebut. Dan arti nama itulah yang menjadi harapan setiap orang tua kepada anaknya. Contohnya, bila seorang anak diberi nama Budi, orangtuanya pasti berharap anak itu akan menjadi anak yang berbudi baik. Atau bila anak itu bernama Hartawan, mungkin orangtuanya berharap anak tersebut di masa depannya akan menjadi orang yang kaya raya.

Selain arti dalam sebuah nama, setiap manusia yang lahir ke dunia pun memiliki artinya masing-masing. Seperti sebuah quotation yang pernah saya dengar “Mungkin bagi dunia, kamu hanyalah seseorang. Tapi bagi seseorang, kamu adalah Dunianya.” Bila kamu tidak ada, pasti akan tetap ada orang yang merasa kehilangan.

Seperti pantun lama “Gajah mati meninggalkan gading, Orang mati meninggalkan nama.” Nama itu pun seperti stempel abadi yang akan terus kamu bawa seumur hidupmu. Meski kamu mengganti namamu menjadi apapun, atau berapa kali pun kamu mengganti nama, tapi nama aslimu akan tetap kamu bawa sampai akhir hayat. Maka itu baik-baik lah dalam menjaga nama. Karena sekali namamu tercoreng, selamanya orang akan sulit percaya. Apalagi meski sudah mengganti nama namun kelakuanmu tetap tidak berubah.



GreyS