Sunday, December 22, 2019

Memory

“Mungkin suatu saat aku akan melupakanmu. Sungguh melupakanmu, dan melupakan semua kenangan akan kita. Akan tetapi bila itu terjadi artinya aku pun sudah melupakan diriku sendiri.”

*** 

Sejak Mami meninggal, aku jadi lebih dekat dengan Papiku. Bahkan hal-hal yang dulu tidak pernah aku tau dari Papi, mulai papi ceritakan. Papi mulai membagi kepadaku hal-hal yang ada dipikirannya, bahkan termasuk ketakutan-ketakutannya. Salah satu ketakutan Papi adalah tentang penyakit Alzheimer yang memang diturunkan oleh keluarganya. 

Jadi aku baru tau, bahwa nenekku yang dari papi meninggal karena penyakit Alzheimer yang dideritanya sejak usia 37 tahun. Beliau meninggal di usia 44 tahun. Tidak hanya nenekku yang meninggal karena Alzheimer, tapi juga kakak dan adik dari nenekku meninggal karena Alzheimer. 

Diantara saudara-saudara kandung papi, kakak nomor 1 dan adik bungsunya juga menderita Alzheimer di akhir hidup mereka. Kakaknya papi sudah meninggal belasan tahun lalu, sedang adik bungsunya kini sudah tidak bisa beraktivitas sama sekali. Sehingga bisa diperkirakan mereka mengidap Alzheimer di usia yang masih cukup muda. 

Kenyataan ini membuat papi selalu takut akan mengalami hal yang sama. Dan ketika papi menceritakan hal ini, aku pun menjadi takut mengalami hal yang sama. 

Tahun depan usiaku sudah menginjak 36 tahun, artinya hanya lebih muda 1 tahun dari waktu ketika nenekku mulai menderita Alzheimer. Semoga yang aku takuti tidak pernah kejadian.

Inspiration ???

Aku hidup dengan Depresi udah puluhan tahun. 20 tahun seingatku. Sejak saat itu banyak hal yang pernah terjadi dalam hidupku. Up and Down. Cukup banyak cara yang aku lakukan untuk bertahan hidup dengan Depresiku. Waktu itu aku bahkan tidak tau kalau Depresi adalah suatu penyakit mental, yang harus ditangani oleh professional sama seperti jika aku terkena penyakit fisik. Sehingga waktu itu, aku hanya bertahan untuk hidup karena aku takut dengan Tuhan jika bunuh diri. 

Kira-kira 11 tahun lalu, sekitar pertengahan 2008. Aku menemukan salah satu cara yang cukup efektif untuk mengobati Depresiku tanpa obat-obatan, yaitu dengan MENULIS. 

Awal menulis karena aku patah hati, sedih, tidak bisa tidur. Selesai menulis, aku mulai bisa tidur. Ada perasaan lega di dalam dada. Setelah itu satu tulisan dilanjutkan dengan tulisan berikutnya. Aku juga menemukan aplikasi baru di social media, yaitu BLOG. Aku pun mulai nge-BLOG. 

Dari BLOG, aku mulai berkenalan dengan teman-teman Blogger lain yang memiliki pengalaman kurang lebih sama, dan aku juga beberapa kali diberi kesempatan untuk menulis di Majalah Online. Teman-temanku bertambah, kepercayaan diriku semakin naik. Keinginan bunuh diri, hilang sudah. 

Setahun lebih aku aktif menulis hampir setiap hari, lewat masa-masa galauku, aku mulai tidak bisa lagi menulis terlalu Panjang. Di saat yang sama, muncul lah Twitter. Aplikasi yang mengclaim sebagai Micro Blog, dan hanya bisa menulis maximal 140 karakter. Mulailah aku main Twitter. 

Keasikan di Twitter ini jelas berbeda dengan di Blog. Kalau di blog aku menuliskan isi hati panjang-panjang, bisa 1-2 halaman A4 bahkan lebih. Maka di Twitter aku hanya menuliskan hal-hal tidak penting yang tiba-tiba terlintas di otak. Tapi setidaknya baik menulis di blog maupun di Twitter, itu membuatku masih bisa mencurahkan isi hati. Minimal Depresiku terobati dan aku terhindar dari pemikiran bunuh diri. 

2-3 tahun terakhir ini, aku memutuskan keluar dari dunia maya. Aku berhenti posting-posting di social mediaku. Twitter hanya aku gunakan untuk membaca berita. Blog, lebih parah, benar-benar tidak tersentuh. Bahkan dimasa-masa sulitku, aku sudah tidak bisa menulis lagi. Sehingga aku pun memutuskan untuk meminta bantuan professional untuk mengatasi depresiku kali ini. 

Yah aku sempat berada di bawah pengawasan Psikiater selama hampir 3 tahun. Aplikasi asuransiku pun sampai ditolak ketika pihak asuransi tau aku berada dibawah pengawasan Psikitater. Setiap bulan aku habiskan uang berjuta-juta hanya untuk konsultasi dan konsumsi obat. Dokterku sempat bertanya bagaimana caranya aku bertahan selama belasan tahun, dan aku pun bercerita tentang therapy menulisku. Namun saat diminta melakukannya kembali, aku sama sekali tidak bisa. 

Selain ke dokter, aku pun berkonsultasi dengan kawan lamaku yang seorang Psikolog Klinis, hanya untuk mendapatkan kembali kemampuanku untuk menulis. Kebetulan ia dan team-nya sering mengadakan workshop Art Therapy. Tapi tetap saja, aku kesulitan untuk menulis dan mencurahkan isi hatiku lagi. 

Hingga beberapa minggu lalu, beberapa orang dari masa lalu kembali menyapa. Mereka meminta kembali berhubungan denganku via Twitter. Meski awalnya aku ragu, tapi aku memberanikan diri untuk menerima  mereka kembali masuk ke dalam “hidupku”. Jujur aku sampai tidak bisa tidur saat memikirkan akan menerima atau tidak permohonan mereka.  

Sejak hari itu tiba-tiba aku kembali bisa bercuit-cuit, istilah di Twitter. Aku yang sejak 3 tahun terakhir tidak dapat merangkai kata, tiba-tiba bisa mengeluarkan hal-hal tidak jelas di otakku. Di satu sisi aku cukup lega, tapi disisi lain aku juga tidak terlalu nyaman jika kali ini perasaan hatiku ketauan oleh orang-orang dari masa lalu ini. 

Mulailah aku kembali mencoba menulis di Blog, dan ternyata aku bisa. Aku kembali bisa menuliskan perasaanku secara total. Pikiran-pikiran yang mengganjal, mendadak tertumpah semua ke dalam tulisan. Minimal malam ini, aku kembali bisa tidur nyenyak. 

Ntah lah apakah aku harus berterima kasih dengan orang-orang dari masa lalu itu, atau memang mereka lah sumber inspirasiku. Mengingat dulu aku bisa menulis banyak ketika masih bermain YM Confrence dengan mereka. Yang pasti aku ingin menikmati masa-masa ini. Disaat aku bisa menulis lagi.

Lucky

I Feel so lucky, with everything I am.

Hari ini sepanjang perjalanan pulang, aku merasa menjadi orang yang beruntung.
Aku beruntung masih memiliki waktu yang dapat ku habiskan bersama dengan orang-orang yang kucinta.
Aku beruntung memiliki tubuh yang cukup sehat dan lengkap.
Aku beruntung masih memiliki penghasilan yang mencukupi.
Aku beruntung masih memiliki sahabat-sahabat yang selalu ada di waktu susah maupun senang, sakit maupun sehat.

Tulisan ini adalah tentang sahabat-sahabatku dimana mereka berada.

Sepanjang perjalanan hidup setiap orang pasti pernah menemukan kawan-kawan palsu. Aku pun pernah. Apalagi dengan jaman social media seperti sekarang, dimana mudah sekali mendapatkan ratusan atau bahkan ribuan kawan. Bohong kalau ratusan atau ribuan kawan itu semuanya adalah orang yang pantas disebut “Kawan”.

Aku adalah seseorang yang tumbuh pada generasi awal dimana Internet dan Social media tumbuh subur. Aku pun sempat mengalami nikmatnya hidup di dunia maya, dengan sosok Alter. Kalau sekarang mungkin sebutannya Anonym. Aku yang aslinya pendiam dan cupu, bisa sangat popular di dunia maya. Aku pun sempat menikmati masa-masa dimana, semakin banyak follower, semakin aku merasa “Hidup”.
Hingga di suatu titik, aku merasa bahwa semua yang aku miliki di dunia maya adalah ilusi.

Akhirnya aku pun mulai menutup beberapa social media yang aku punya, dan hanya menyisakan seperlunya saja. Privacy Account yang dulu aku buka bebas, mulai aku Private. Aku yang dulu hobby posting apapun, mulai tidak pernah posting, khususnya foto-foto.

Ketika aku memutuskan tidak main lagi social media, aku bilang ke temanku yang bertanya “Real Friends will always knew a way to found you”. Dan benar saja, sejak saat itu teman-temanku pun mulai semakin tersaring. Orang-orang yang sungguh menganggap aku teman, sampai sekarang kami masih saling berhubungan. Kami masih saling bercerita, saling berbagi keluh kesah. Teman-teman baikku tidak perlu mengetahui kabarku via social media.

Dan aku semakin yakin dan merasa nyaman dengan teman-temanku yang semakin terbatas, tapi nyata saat tidak ada diantara kami yang saling menjelekan, saat kami selalu saling dukung satu sama lainnya, dan kami saling mengingatkan satu sama lain. Mungkin secara fisik kami tidak bisa selalu bersama, tapi secara spirit aku yakin kami selalu bersama. Sejauh apapun kami terpisah, kami akan selalu saling mendukung.

Partnerku pernah bilang “Teman-temanmu itu semua unik-unik yah, tapi aku bisa merasakan mereka orang-orang yang tulus.” Aku bilang “Iya. Aku bersyukur dengan hal itu. Aku sangat beruntung Tuhan menjauhkanku dari kawan-kawan palsu.”

Saturday, December 21, 2019

Rumah Sakit

Rumah Sakit

Setelah bertahun-tahun aku bersahabat dengan “Rumah Sakit” baru hari ini aku sadar kalau ternyata aku membenci Rumah Sakit. 

*** 

Sejak beberapa tahun yang lalu, tepatnya sejak aku beranjak dewasa dan memulai kehidupan sosialku di lingkungan gereja maupun keluarga, aku mulai bersahabat dengan Rumah Sakit. 

Kenapa Rumah Sakit? Karena bagiku, di Rumah Sakitlah sebuah kehidupan dimulai maupun diakhiri. Dari ibu yang akan melahirkan anaknya, sampai orang yang akan melepas ajal. Semua paling mudah ditemukan di Rumah Sakit. Karena hal tersebut pula maka awal dari kehidupan sosialku pun dimulai dari Rumah Sakit. 

Tanteku dan suaminya adalah seorang dokter, adik sepupuku pun sekarang adalah seorang dokter. Karena sejak kecil aku tinggal bersama nenek, dan rumah tanteku di depan rumah nenek, otomatis setiap kali ada anggota keluarga atau kenalan yang sakit, maka tante akan dihubungi dan diminta menjenguk. Saat itu pula aku akan diajak untuk menjenguk mereka. 

Waktu kecil aku tidak terlalu berasa akan “tugas” menjenguk ini, karena kan memang di RS ada peraturan anak di bawah 12 tahun dilarang masuk. Tapi ketika aku mulai dewasa, apalagi ketika aku sudah bisa menyetir sendiri, maka aku mulai bertugas sebagai “sopir” untuk nenek atau tanteku saat mereka menjenguk saudara atau kerabat yang sakit. 

Saat adik lelaki mami yang paling kecil mulai sakit-sakitan, aku pun mulai memiliki tugas baru, yaitu gantian “berjaga” dengan anggota keluarga yang lain. Apalagi saat itu anak om-ku masih dibawah umur, sehingga tidak bisa terlalu diharapkan untuk menjaga (karena bila mendadak butuh persetujuan keluarga, secara hukum ia belum bisa bertanggung jawab). 

Selain berjaga untuk om-ku, di gereja aku juga sempat bergabung dengan sebuah komunitas pendoa. Selain rapat, tugas dari komunitas ini adalah melakukan kunjungan dan berdoa bagi orang yang dikunjungi. Kunjungan itu bisa dilakukan ke siapa saja, dimana saja dan kapan saja tergantung kesediaan orang yang akan dikunjungi. 

Nah saat itu lah, aku cukup sering diminta melakukan kunjungan ke para lansia dan orang-orang sakit, bahkan beberapa diantaranya aku ikut dampingi sampai mereka melepas ajal. Dari tugas-tugas kunjungan ini pun, aku semakin membiasakan diri dengan Rumah Sakit. Semakin kemari, dengan semakin bertambahnya usia nenekku, beliau pun semakin sering sakit-sakitan. Tambahlah aku harus semakin membiasakan diri dengan Rumah Sakit. 

Untungnya 3 tahun terakhir ini, aku bekerja di kantor yang agak flexible secara waktu dan tempat kerja. Sehingga bila diperlukan, aku bisa sewaktu-waktu meninggalkan kantor untuk menjaga nenekku di Rumah Sakit. Seperti saat aku menulis ini, aku sedang mati gaya di Rumah Sakit. 

Baru hari ini pula aku menyadari, sebenarnya aku benci berada di Rumah Sakit. Apalagi bila di Rumah Sakit dalam rangka tugas “berjaga”, yang artinya ngga bisa kemana-mana terlalu jauh dari kamar pasien. Mau tiduran susah, mau kerja juga susah konsentrasi. Mau jalan-jalan yah jelas ngga mungkin. Mau ngoceh-ngoceh di Twitter, tapi kok yah nyampah banget. Tapi positifnya aku jadi bisa nulis blog lagi, menulis ini sangat membantu untuk terapi psikis-ku.