Showing posts with label My days. Show all posts
Showing posts with label My days. Show all posts

Thursday, September 4, 2025

Roh Tuhan Ada Padaku

Jalan Tuhan itu UNIK. Masalah pekerjaan yang aku alami di akhir 2023 sampai awal 2024 malah kembali membawaku dari satu konseling ke konseling lainnya, dari satu retreat ke retreat lainnya, dan dari satu training ke training lainnya. Dimana semua kegiatan tersebut memiliki benang merah yang sama, yaitu di PEMPROGRAMAN PIKIRAN atau bahasa gaulnya MIND PROGRAMMING.

Lewat Retreat-retreat dan training-training yang aku ikuti itu, aku dilatih untuk semakin percaya diri dan melawan pikiran-pikiran yang salah tentang citra diriku sebagai ciptaan Tuhan.

Ada satu kenangan menarik ketika pertama kali aku mengikuti training Mind Programming ini.

Beberapa hari sebelum training tersebut dimulai, Leader-ku di kantor yang terkenal Agnostik (karena dia menolak disebut Atheis) memberi peringatan kepadaku sambil tertawa mengejek: “Hati-hati loh yah Grey, kalau lo belajar begituan, siap-siap aja lo bakal keluar dari Gereja. Karena lo bakal disadarkan kalau Tuhan itu tidak ada, karena yang ada memang hanya diri lo sendiri.”

Aku yang sudah terbiasa dengan ejekannya hanya terdiam, berusaha menahan sabar untuk tidak mendebatnya, dan tetap mendoakannya dalam hati agar suatu saat dia dan keluarganya bisa sungguh-sungguh mengenal Tuhan.   

Tapi ternyata persis di hari pertama aku mengikuti Training tersebut, aku memang mendapat serangan Roh Jahat yang berusaha menggoyahkan imanku. 

“Tuh lihatkan, cukup kamu lebih percaya diri, dan percaya dengan kemampuanmu, kamu bisa menjadi apa saja kok. Bahkan kekuatan Black Magic para dukun itu saja bisa dijelaskan secara ilmiah lewat ilmu Psikologi. Jadi kamu bisa kok melakukan semuanya sendiri, kamu ngga perlu tuh doa-doa lagi. Yang penting kamu percaya sama diri kamu sendiri, setelah itu kamu ngga butuh Tuhan lagi.”

Kata-kata itu berulang-ulang muncul di otakku sepanjang hari pertama Training. Aku sampai merinding sendiri dan ketakutan sendiri. Sepanjang malam itu aku sampai tidak bisa tidur dan tidak bisa berbicara dengan orang lain. Aku hanya bisa mengucap: “Tuhan tolong kuatkan imanku.” 

Keesokan harinya, meski perasaanku masih campur aduk, aku tetap harus berangkat kerja dan bermacet-macetan dijalan. Disaat itulah aku malah jadi memiliki waktu hening sejenak, dan disaat hening tersebut tiba-tiba ayat dari Injil Lukas 4:18a terlintas di otakku “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik.” 

Aku langsung menangis bahagia di dalam mobil dan berterima kasih kepada Tuhan karena sudah mengungkapkan kebenaran baru dalam hidupku. Bahwa aku memang bisa menjadi apa saja, siapa saja, sesuai impian dan cita-citaku, selama aku meyakini hal tersebut, dan selama Tuhan memang mengizinkan hal tersebut.

Setelah pagi itu aku jadi semakin bersemangat dengan Training-training lanjutan mengenai Mind Programming ini. Aku juga berusaha mempraktekan ilmu-ilmu yang aku pelajari setiap harinya. Meski tetap tidak mudah untuk mengubah kebiasaan yang sudah ada selama puluhan tahun.

Aku merefleksikan jatuh bangunnya aku dalam membentuk kebiasaan-kebiasaan baik dan pikiran-pikiran yang objective seperti jatuh bangunnya aku dalam berjalan di jalan Salib Tuhan. Kata-kata “ Roh Tuhan ada pada-Ku.” Beberapa waktu terakhir ini sungguh-sungguh menjadi peganganku disaat keraguan dan ketakutan tidak berdasar kembali menyerang pikiranku.

Hari ini buatku seperti “Nas yang tergenapi saat aku mendengarnya”, aku yakin bukan sebuah kebetulan kata-kata “Roh Tuhan ada pada-ku” muncul di Presentasi terakhir Rekoleksi PDI Sahabat Yesus siang ini (26 Januari 2025) dan di bacaan Injil hari ini.

Aku diutus untuk melayani dan mengabarkan kabar baik pada orang-orang disekitarku, lewat pekerjaanku saat ini sebagai Agen Asuransi. Pekerjaan yang sama sekali tidak aku harapkan, bukan pekerjaan impian, tapi hanya lewat pekerjaan inilah aku bisa mengembangkan diri, aku bisa dilatih untuk MERENDAHKAN HATI, dan aku bisa MEMULIAKAN TUHAN lebih besar lagi.

 

AMDG



Grey_S

25 Januari 2025

Panggilan Untuk Menjadi SANG PELAYAN

Kemarin sore aku mendapat panggilan telephone yang seharusnya memberikan aku kabar gembira, bahwa aku akan kembali diterima bekerja sebagai karyawan tetap setelah lebih dari 2 tahun aku bekerja sebagai Freelancer. Bukan hanya itu saja, perusahaan yang menerimaku bekerja adalah sebuah group perusahaan yang sangat besar dan ternama. Posisi yang akan aku tempati juga sebuah posisi yang sudah cukup tinggi, yang tentu saja akan mendapat bayaran yang cukup tinggi dibanding bayaran mayoritas para pencari kerja.


Pada saat interview aku juga bisa merasakan bahwa team yang akan bekerja sama denganku adalah team orang-orang baik yang bisa sejalan dengan prinsip-prinsip yang aku pegang. Belum pernah sepanjang karirku, aku bisa sungguh-sungguh mendiskusikan kemampuan-kemampuanku dan prinsip-prinsip dalam hidupku, tanpa perasaan dihakimi atau diremehkan. Itu yang membuatku bisa lepas bebas mempresentasikan diriku dan pengalaman-pengalamanku di perusahaan lama, di hadapan para interviewer saat itu.


Sayangnya kesempatan emas ini malah harus aku tolak. Tentu saja tidak mudah untukku saat harus membuat keputusan tersebut. Apalagi posisi yang ditawarkan adalah posisi impianku sejak lama, yang aku yakin, juga merupakan posisi impian banyak orang lainnya. Ada beberapa kejadian yang terjadi hanya kurang dari 1 jam setelah interview yang sangat membuatku bersemangat kembali itu selesai.


Dalam perjalanan pulang menuju rumah, setelah selesai interview, aku mendapatkan panggilan telephone dari adikku, “Cici, Papi harus masuk Rumah Sakit lagi” dan suara dibalik telephone tersebut langsung berubah menjadi suara tangisan, sedangkan aku hanya bisa diam termenung. 


Sesampainya di rumah, begitu aku membuka HP, ternyata aku juga mendapat 2 pesan text dari 2 client yang berbeda.

Pesan pertama: “Grey, saya kecopetan di Eropa. Saya mau klaim asuransi perjalanan saya.”

Pesan kedua: “Grey, penerbangan saya di Istanbul ditunda. Saya mau klaim asuransi perjalanan saya.”  


1 panggilan telephon dan 2 pesan text tersebut membuatku kembali mempertanyakan impian-impian dan panggilan dalam hidupku.

“Apakah kembali bekerja sebagai pegawai tetap di korporasi ternama sungguh-sungguh merupakan impianku?”

“Apakah berkontribusi dalam project-project penting itu sungguh-sungguh cita-citaku?

“Apakah dengan kembali mendapatkan gaji tetap dan posisi tinggi seperti dulu, sungguh-sungguh akan membuatku bahagia?”

“Apakah aku akan bisa membagi waktu antara pekerjaan kantor dengan pelayananku kepada keluarga dan orang-orang di sekitarku yang membutuhkan kehadiran dan bantuanku?”

“Seberapa banyak orang yang dapat aku layani kalau aku kembali bekerja tetap di perusahaan?”

“Bukankah aku ingin mengubah orientasi hidupku untuk berfokus hanya kepada Tuhan, bukan lagi kepada kepentingan diriku sendiri?”


2 tahun yang lalu hanya nenekku yang membutuhkanku untuk merawatnya, saat ini ada Papiku yang sedang sakit, Om-ku yang juga sedang sakit, belum lagi ada tanteku yang sudah berumur sedangkan anak-anaknya berada jauh diluar kota dan luar negeri, client-client asuransiku, client-client Accounting Service-ku, peserta retret dimana aku menjadi fasilitator, orang-orang lingkungan Gereja, yang semuanya membutuhkan kehadiranku untuk melayani mereka.


Uang dan Posisi bisa aku cari, tapi WAKTU tidak akan pernah kembali. Mungkin saat ini aku terpaksa melewatkan kesempatan untuk kembali memiliki penghasilan dan posisi yang cukup tinggi, namun aku tidak ingin menyesal karena melewatkan kesempatan untuk berbakti dan memuliakan Tuhan lebih tinggi lewat pelayanan-pelayanan kecil yang aku lakukan. 



Grey_S

14 Juli 2022

SUDAH SELESAI

Bacaan Injil hari Senin 9 Juni 2025 diambil dari Yohanes 19:25-34, tapi ayat yang paling mengena untukku hari ini adalah di ayat 30, ketika Yesus pada akhirnya mengatakan “SUDAH SELESAI”. 

Ketika aku mengikuti kelas Emaus Journey di 2021 yang lalu, buku terakhir yang digunakan adalah “Seven Last Words From The Cross” oleh Rich Cleveland. Dari 7 kata terakhir Yesus di kayu salib, yang paling berkesan untukku adalah kata “SUDAH SELESAI”. Yang menandakan bahwa Yesus sudah berhasil menjalani semua kehendak Allah Bapa dalam hidupNya dan sudah berhasil mengalahkan sisi kedaginganNya sendiri.

Sejak mempelajari buku tersebut, aku sangat terinspirasi oleh Yesus untuk pada akhirnya aku juga bisa mengatakan “SUDAH SELESAI” untuk semua tugas perutusanku di dunia ini. Dan ternyata kesempatan itu datang padaku di bulan Juni 2022.

***

Tanggal 8 Juni 2022, pagi itu aku terbangun dengan sedikit kaget setelah memimpikan almarhumah nenekku masuk ke dalam kamar tidurku sambil mengomel dengan suaranya yang melengking “Greyyyyyyy, tengokin tuh si Papi. Jangan sampai dia sudah masuk peti baru kamu tengokin.”

Tapi karena bagiku mimpi hanyalah sebuah bunga tidur, maka setelah terbangun penuh, aku tidak terlalu memikirkan tentang mimpi tersebut lagi. Apalagi ketika di Video Call beberapa hari sebelumnya, Papiku masih baik-baik saja.

Beberapa hari setelah hari itu, aku pergi mengikuti Retreat yang diadakan oleh Komunitas School By Spirit (SBS) di Wisma Samadi selama 5 hari 4 malam. Saat itu aku mengikuti Retreat tersebut sebagai hadiah ulang tahun bagi diriku sendiri, karena sejak 2021 aku menemukan kebahagian pada saat bisa memiliki waktu berkualitas dengan Tuhan di hari ulang tahunku. 

Uniknya sepanjang retreat tersebut, selama 5 hari berturut-turut, rhema yang keluar untukku adalah “Bersiap-siaplah untuk kejutan dari Tuhan.” Dan melalui retreat itu aku juga jadi berkenalan dengan sahabat baik Mami-ku di lingkungan, yang sebenarnya beliau bukan anggota SBS namun diajak untuk mengikuti retreat tersebut.

2 hari setelah retreat berakhir, aku ada janji meeting dengan calon client di sebuah Mall yang lokasinya sangat dekat dengan rumah Papi. Hari itu hari Sabtu, yang dalam kepercayaan Papi itu adalah hari Sabat. Biasanya hari itu Papi akan pergi ke gereja dari pagi hingga sore.

Pagi itu ketika sedang bersiap-siap untuk meeting, ada suara yang terus-terusan mengganggu pikiranku “Dith, jenguk Papi. Kan kamu akan meeting di dekat sana, sekalian saja mampir untuk menjenguk Papi. Terserah kamu mau berapa lama, 10 menit, 5 menit, terserah. Tapi jenguklah Papi.”

Selama beberapa menit suara tersebut terus berperang dengan logikaku. Logikaku mengatakan “Buat apa mampir? Papi pasti sudah pergi ke gereja. Nanti sajalah kalau aku sudah agak senggang.” Tapi suara tersebut, tetap gigih memintaku untuk menjenguk Papi. Sampai akhirnya logikaku mengalah kepada suara tersebut.

Aku menelpon papi. Dan ternyata memang Sabat tersebut Papi memutuskan untuk tidak bepergian karena kata beliau kakinya sedang sakit. Beberapa bulan terakhir beliau memang mengeluhkan kalau dengkulnya sakit, sehingga kami berdua sedang rutin pergi terapi pijat bersama. Karena papi ada di rumah, maka aku berjanji untuk datang menjenguknya lebih dahulu sebelum pergi meeting.

Sesampainya di rumah Papi, aku sangat terkejut karena ternyata sakit kaki yang Papi maksud bukanlah sakit pada bagian dengkul seperti yang sebelumnya beliau keluhkan, namun ternyata karena ada luka borok sebesar uang koin pada mata kakinya. Dan yang lebih membuatku terkejut lagi adalah keadaan rumah yang sangat berantakan dengan ceceran darah dimana-mana.

Papi memang memiliki riwayat penyakit Diabetes, dan tidak pernah mau minum obat Diabetes atau pun memeriksakan diri karena kepercayaannya yang salah dengan ilmu kedokteran.

Karena awalnya Papi tetap tidak mau dibawa ke dokter, maka aku untuk pertolongan pertama,  meminta tolong kepada sahabat mami yang aku temui ketika Retret SBS, untuk mencarikan ART untuk membantu papi beberes rumah, menyiapkan makanan, dan memantau kondisi papi setiap hari.

Aku juga meminta bantuan tanteku yang pensiunan dokter untuk merawat luka papi, dan partnerku yang sinshe untuk obat-obatannya papi. Dan ini bertahan hanya selama 1 minggu karena kondisi papi yang memburuk sehingga mau tidak mau, suka tidak suka beliau menyerah dan bersedia dibawa ke RS.

Pertama kali papi bersedia dirawat di RS, aku bingung apakah harus ikut menginap bersama beliau, atau bisa aku tinggal saja? Kalau menginap di RS artinya aku harus siap tidur dilantai tanpa kasur dan bantal, tapi kalau ditinggal khawatir sama Papi, dan pihak RS pun mewajibkan keluarga pasien untuk ikut berjaga.

Meski papi mengatakan untuk pulang saja, tapi suara yang membimbingku memintaku untuk tetap tinggal di RS. Benar saja, di malam hari ternyata ada beberapa kejadian dimana papi membutuhkan bantuanku. Untung aku mendengarkan suara itu.

***

 Pada saat pertama kali aku mengetahu kondisi Papi, aku juga sempat mengeluh kepada Tuhan. “Tuhan, kok kejutan untukku begini amat sih?” lalu dalam kontemplasiku saat itu Tuhan menjawab “Kan kamu sudah Aku persiapkan sejak bulan Januari.”

Aku pun teringat pengalaman pertama kali mengikuti Latihan Rohani Pemula modul Gelap dan Terang, di bulan Januari 2022, yang saat itu masih diuji cobakan.

Di bulan Januari 2022, karena aku dan beberapa teman sedang mengalami pergumulan, Ko Robin mengajak kami mendoakan sekaligus menguji cobakan Latihan Rohani Pemula Modul Gelap dan Terang bersama. Pada waktu itu sebenarnya yang aku doakan adalah tentang pekerjaan dan keinginanku untuk keluar dari Jakarta, namun Rahmat yang aku dapatkan adalah kata-kata “Bagaimana kalau tugasmu saat ini bukanlah untuk mengejar karir tapi untuk merawat Papi?” 

Saat itu aku bingung dengan Rahmat yang aku dapatkan. Papi masih sehat-sehat saja, dan Papi juga masih tinggal bersama 2 orang karyawan. Jadi buat apa aku merawat Papi? Ternyata hal itu terjawab beberapa bulan kemudian.

***

 Singkat cerita, sepanjang 3 tahun terakhir kondisi papi memang naik turun. Sepanjang sisa tahun 2022, hampir sebulan sekali Papi pasti harus dirawat di RS, dan sempat beberapa kali juga masuk ke Ruang  ICU. Dari yang awalnya aku berusaha merawat papi sendiri, sampai akhirnya aku harus membutuhkan bantuan caregiver untuk membantuku menjaga papi 24 jam. Karena tiap kali papi sehat sedikit, bandelnya papi kambuh dan tidak mau minum obat lagi, atau pun merawat lukanya lagi. Sedangkan aku pun tidak bisa 24 jam memantau papi terus menerus.

Di 2023 sampai quarter ke 3 di 2024 kondisi Papi cukup stabil, Papi sudah bisa ke gereja lagi, bahkan di awal 2024 kami sempat 2 kali pergi berlibur ke Villa di Cipanas. Namun mulai Oktober 2024 akhir, kondisi Papi kembali menurun jauh. Sepanjang semester pertama di 2025, Papi lebih banyak di Rumah Sakit dibanding di rumah sendiri. Bahkan di bulan Februari 2025 papi sempat mengalami koma dan berhenti detak jantung.

Aku yang sejak awal terpanggil untuk mendampingi Papi, ikut merasakan penderitaan Papi. Tiap kali papi berteriak-teriak minta tolong karena sesak napas atau saat seluruh badannya terasa sakit karena cuci darah, aku hanya bisa menangis sambil berdoa. Aku sadar ini adalah Jalan Salib yang harus kami lalui.

Sepanjang Jalan Salib ini, aku bersyukur banyak menerima bantuan-bantuan dari beberapa “Simon Kirene” yang hadir melalui sosok para Caregiver, Saudara-saudara yang siap membantu, dan teman-teman gereja Papi yang selalu ada untuk kami.

Aku juga tidak memungkiri, bahwa dalam menjalani Jalan Salib ini, aku sempat beberapa kali “terjatuh”. Hubunganku dengan Papi yang sudah sempat membaik, beberapa kali kembali memanas. Sebelum akhirnya aku disadarkan bahwa Papi menjadi sangat menyebalkan seperti itu karena sakitnya dan karena Demensia yang mulai di deritanya.

Puncaknya adalah di bulan Mei 2025, dimana selama 31 hari penuh Papi harus dirawat di RS tanpa bisa pulang sehari pun. Saat papi memaksa untuk pulang, baru pulang dibawah 12 jam, kami sudah terpaksa harus melarikan Papi kembali ke RS karena terjatuh dari ranjang dan mengalami pendarahan hebat.

3 hari papi kembali masuk RS, sebelum akhirnya beliau menghembuskan napas terakhirnya. Pastinya beliau sudah terlalu lelah dalam berjalan di Jalan Salib kami ini. Papi menghembuskan napas terakhirnya persis setelah aku selesai mendoakan Rosario, dan Papi dinyatakan sudah tidak ada oleh dokter yang bertugas tidak lama setelah aku selesai mendoakan Doa Koronka.

Saat itulah air mataku sudah tidak menjadi air mata penuh duka, namun menjadi air mata  penuh haru, karena akhirnya kami bisa menyelesaikan Jalan Salib kami. Kami bisa mengklaim Mahkota Kebenaran seperti yang tertulis dalam 2 Timotius 4:7-8a “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan Tuhan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya”

Kami bisa dengan bangga mengatakan kepada semua orang “SUDAH SELESAI”.

Tugas perutusanku mendampingi papi “SUDAH SELESAI”.

Hidup Grey yang lama “SUDAH SELESAI”.

Kini di 9 Juni 2025, telah lahir Grey yang baru. Grey yang siap untuk melanjutkan tugas perutusan berikutnya.

 

AMDG

Tuesday, June 29, 2021

Yang pertama bagiku

Semua orang pasti memiliki pengalaman “Pertama Kali”, begitu pun aku. Untuk urusan hubungan cinta, meski dia bukan cinta pertamaku, tapi dia adalah semua yang pertama bagiku. Dia pacar pertamaku, dia ciuman pertamaku, bersamanya aku pertama kali menghabiskan saat-saat romantis.

Pertama kali mendapat kiriman buket bunga, pertama kali punya panggilan sayang selain untuk adik dan keponakan, pertama kalinya bisa bersama seseorang penting di moment penting keluarga besar, pertama kalinya bisa merasakan wisuda di dampingi kekasih, pertama kalinya liburan ke negara impianku sejak kecil, pertama kalinya pergi Camping meski berakhir nginep di mobil karena hujan deras dan tenda kami gagal dibangun, dan sepertinya masih banyak hal-hal pertama lainnya yang aku alami bersamanya, termasuk pertama kalinya aku putus.

Untuk pertama kalinya, akhirnya aku punya MANTAN PACAR. Suatu yang sangat tidak ingin aku banggakan sama sekali.

Apakah yang kurasakan saat ini adalah perasaan yang wajar ketika orang baru berpisah dari kekasihnya? Perasaan serba salah, serba ragu.

Apakah keputusan ini adalah keputusan yang benar? Bagaimana kalau ternyata aku saja yang terlalu egois?

Apakah akan ada orang lain yang lebih baik darinya? Bagaimana kalau tidak akan ada orang lain lagi untukku?

Apakah aku siap bila ia sudah bersama orang lain?

Apakah suatu saat kami bisa tertawa bersama lagi, saling bercerita lagi, bagai sahabat lama, seperti saat kami belum menjalin hubungan khusus?

Pusing.

Sedih.

Kecewa.

Mungkin aku hanya terlalu banyak berharap kepadanya, makanya aku merasa kecewa.



Grey_S 

Wednesday, April 21, 2021

Ad Maiorem Dei Gloriam


Ad maiorem Dei gloriam,

Engkau yang mempertemukan kami,

Engkau yang menyatukan kami,

Hanya Engkau lah yang dapat memisahkan kami.

 

Ad maiorem Dei gloriam,

Engkau yang mendampingi setiap langkah hidup kami,

Bila ternyata perpisahan ini akan memuliakan namaMu lebih besar,

Membuat aku dan dia menjadi lebih bisa mendekat kepadaMu,

Maka terjadilah sesuai kehendakMu.

 

Ad maiorem Dei gloriam.

Untuk keagungan Allah yang lebih besar,

Bila aku harus merengkuh luka-lukaku,

Mencintainya meski tak dapat bersama

Maka terjadilah padaku sesuai kehendakMu.

 

Ad maiorem Dei gloriam,

Untuk keagungan Allah yang lebih besar,

Aku serahkan segenap hidupku, segenap karyaku,

Keselamatan orang-orang yang aku cintai, dan

Hubunganku dengannya.

 

 

Ad Maiorem Dei Gloriam, sebuah kalimat dalam bahasa Latin, artinya adalah: "Untuk Keagungan Allah Yang Lebih Besar." Motto Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG) adalah inspirasi indah dari seorang yang secara totalitas menyerahkan segenap hidup dan karyanya untuk keagungan Allah yang tergambar di dalam hidup dan karya Yesus Kristus, yaitu yang sekarang di kalangan Gereja Katolik terkenal dengan nama Santo Ignatius Loyola, pendiri Tarekat Ordo Serikat Yesus dalam Agama Katolik.



Grey_S

Thursday, March 18, 2021

Seperti Fajar

Minggu lalu, hampir seminggu penuh aku mengalami desolasi. Akibat perasaan desolasi itu, depresiku pun kambuh. Perasaan bersalah terus menghantuiku. Padahal aku tau, Tuhan akan selalu mengampuniku. Ia akan selalu mendampingiku.

Puji syukur kepada Tuhan, Ia memberiku petunjuk lewat frater, yang aku hubungi juga karena mengikuti petunjuk dari buku LRP. “Ingat Mazmur 23: sekalipun aku berjalan dalam lembah “kegelapan”, Engkau tetap besertaku. Desolasi yah kegelapan itu. Tetap berdoa dan mohon penyertaan Allah.” begitu pesan frater.

Maka setelah chat aku langsung berdoa. Tapi hari ini aku sedang tidak ingin berdoa dengan duduk manis. Aku ingin merenungkan semua kejadian-kejadian yang aku alami seminggu ini sambil berjemur dibawah sinar matahari pagi. Kebetulan pagi itu matahari bersinar cukup hangat.

Dalam percakapan rohani yang aku lakukan sambil berjemur, aku mengungkapkan semua perasaan sesalku, aku memohon untuk bisa keluar dari suasana kelam tersebut. Aku bercerita bahwa akibat perasaan desolasi yang berhari-hari, depresiku mulai kambuh, aku jadi tidak bisa berpikir dan semakin tidak bisa menyelesaikan tugas-tugasku. Lalu ketika aku sudah tidak bisa bercerita lagi, dan membiarkan suasana hening untuk sebagai waktu mendengarkan, tiba-tiba ada awan yang bergerak menutupi matahari, membuat sinar matahari yang sedang menyinariku meredup, namun hal tersebut berlangsung tidak lama. Ketika awan itu berlalu, sinar matahari kembali menghangatkan tubuhku.

Pada saat sedang memperhatikan fenomena tersebut sambil masih mengambil sikap mendengarkan, aku merasa ada bisikan yang muncul “Matahari akan bersinar lagi. Tenang saja, matahari-nya akan bersinar lagi.”

Saat itu lah aku tidak bisa membendung air mataku. Perasaan desolasi yang sudah menghantuiku selama berhari-hari tiba-tiba dipulihkan. Aku merasakan lagi kehadiran Tuhan di dekatku. Aku kembali merasa dicintai. Aku kembali merasa berharga.

Lalu lewat sharing iman dengan kelompok LRP-ku, aku juga diingatkan oleh salah seorang peserta bahwa, kita tetap harus bersyukur bisa mengalami pengalaman desolasi tersebut, sehingga kita bisa tetap rendah hati dan tetap bisa merasakan kasih Tuhan. Kalau tidak pernah mengalami hal itu, mungkin saja buntut-buntutnya aku bisa menjadi tinggi hati.

Yah, aku bersyukur mengalami hal ini. Setidaknya aku jadi punya bahan untuk sharing iman kepada orang lain. Aku juga jadi memiliki pengalaman yang berbeda dari pengalaman LRP yang sebelumnya

Apalagi peserta lainnya juga meneguhkanku lewat pernyataannya yang mengatakan, setelah mendengar sharingku, ia jadi teringat dengan lagu “Janji-Mu S’perti Fajar”, dimana lagu itu memang persis menggambarkan pengalamanku saat itu, dan juga seperti menjadi pengantar untuk retret minggu ke-4 yang akan kami jalani. Dimana untuk minggu ke-4 ini, kami akan diajak merenungkan Cinta Tuhan yang bagaikan sinar matahari dan mengalir seperti air di sungai. 

Sungguh luar biasa Tuhan dalam memberikan pengajaran hidup.

 

JanjiMu S'perti Fajar

 

Ketika kuhadapi kehidupan ini

Jalan mana yang harus ku pilih

Ku tahu ku tak mampu

Ku tahu ku tak sanggup

Hanya Kau Tuhan tempat jawabanku

 

Aku pun tahu ku tak pernah sendiri

Sebab Engkau Allah yang menggendongku

TanganMu membelaiku

CintaMu memuaskan ku

Kau mengangkatku

Ke tempat yang tinggi

 

JanjiMu seperti fajar pagi hari

Dan tiada pernah terlambat bersinar

CintaMu seperti sungai yang mengalir

Dan ku tahu betapa dalam kasihMu


Grey_S

Monday, March 8, 2021

Perbuatan Ajaib Tuhan

Lagi-lagi late post yah. Karena aku ngga sanggup juga kalau ketemu renungan yang mengena langsung posting panjang, apalagi yang mau aku tuliskan adalah sharing iman pribadi, jadi yah butuh waktu khusus untuk menulis sambil mengingat-ingat.

Tuhan sungguh luar biasa sih, minggu lalu aku memang sedang memiliki pergumulan, dan bisa-bisanya Ia seperti mengingatkanku 3 hari berturut-turut. Latihan Rohani Pemula yang sedang aku lakukan, plus renungan kitab suci, plus renungan pas misa harian, semua temanya bisa nyambung dengan pergumulanku.

Kalau kemarin-kemarin yang mengena di aku kata-kata dari bacaan Kitab Suci, maka yang kali ini dari kata-kata Mazmur. Mazmur ada di kitab suci juga sih, tapi kalau di Gereja Katolik Mazmur lebih sering dinyanyikan dibanding dibacakan, kecuali kayak kondisi sekarang ngga ada yang nyanyiin, ya udah deh dibacain.

Nah di Mazmur tanggal 5 Maret 2021, kata-katanya seperti ini:

“Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan Tuhan.”

Lalu bacaan-bacaan pada hari itu, kalau direnungkan, 2-2nya juga mengenai perbuatan ajaib Tuhan yang Ia lakukan untuk misi penyelamatan manusia, meski semua berawal dari perbuatan dosa manusia.

Di bacaan pertama, itu tentang Yusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya karena mereka iri hati dan dengki, tapi karena perbuatan tersebut, justru bangsa mereka diselamatkan dari bencana kelaparan yang terjadi belasan tahun kemudian.

Di bacaan kedua, itu juga tentang nubuat akan penyaliban Yesus, yang juga didasari oleh iri hati dan dengki para pemuka agama saat itu. Namun seperti yang dipercaya oleh seluruh umat Kristiani, bahwa penyaliban tersebut malah menjadi penebusan dosa umat manusia.

Nah berdasarkan kedua bacaan plus Mazmur dalam misa harian tanggal 5 Maret 2021, aku mau membagikan pengalaman iman pribadiku. Semoga berguna bagi yang menemukan tulisan ini yes.

Aku bahkan tidak bisa menuliskan satu per satu perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan dalam hidupku, karena terlalu banyak dan sambung menyambung. Jadi sebenarnya untuk yang berhasil menemukan tulisan ini, sebaiknya sekalian saja telusuri blog yang aku tulis dari tahun 2008 ini.

Kejadian yang paling dekat yang bisa aku ceritakan, karena baru saja kejadian dalam 2 minggu terakhir ini adalah ketika aku merasa lelah dan tidak sabar lagi dalam menghadapi seorang teman yang memang membutuhkan perhatian khusus, sayangnya anak ini juga memiliki ego yang cukup tinggi dan kesenangan yang aneh, yaitu mencari perhatian lewat keributan.

Aku kenal anak ini saat aku mengikuti sebuah pengajaran di Gereja-ku. Dia tidak memiliki teman dekat karena semua orang dibuat tidak nyaman dengan kesenangannya mencari perhatian lewat keributan tersebut. Dia juga di black list hampir di semua komunitas yang ia ikuti. Namun saat mengenal anak ini, dan mencoba lebih memperhatikannya, aku malah menjadi iba. Sehingga pada saat semua teman-teman menyerah untuk menemani anak ini, aku memutuskan untuk tidak ikutan menyerah.

Dan sudah setahun terakhir aku berusaha sabar dalam menghadapi anak ini, berusaha berbicara baik-baik, meski dia juga selalu berusaha membuatku kesal dan marah. Sampai akhirnya 2 minggu lalu, dia berhasil membuatku kehilangan kesabaran. Akhirnya aku berbicara cukup ketus dan secara terang-terangan aku mengatakan aku bosan dan lelah mendengarkan semua keluhan dia tentang semua orang di dunia ini, yang menurut dia tidak ada yang bersikap baik padanya. Tapi setelah puas marah-marah sama anak itu, aku merasa menyesal sendiri.

Sekitar semingguan aku berpikir bagaimana untuk menjadi teman bagi anak ini, kalau dia tidak berubah, aku juga lelah dan tidak sanggup menemani terus menerus, tapi kalau dia tidak ditemani, aku juga kasihan. Disaat aku sudah tidak sanggup berpikir sendirian lagi, akhirnya hari senin lalu aku meminta waktu untuk konseling ke Pembina kami.

Luar biasanya, si ibu Pembina ini cerita, di minggu yang sama saat aku jadi bermasalah dan jadi kepikiran dengan anak itu, si ibu juga sedang memikirkan anak itu. Apalagi ia melihat anak itu sedang luntang-lantung di jalan. Jadi si ibu pun berdoa supaya Tuhan memberikan ia jalan untuk berkomunikasi dengan anak itu dan agar anak itu mau konseling dan bisa diajak berdamai dengan keadaan.

Mendengar cerita dari Ibu Pembina, aku jadi merasa bahwa aku dibiarkan untuk kehilangan kesabaran oleh Tuhan agar aku meminta tolong ke orang yang lebih berpengalaman, dan lebih mampu untuk menolong anak tersebut. Dan karena aku memutuskan bercerita kepada Ibu Pembina, kami jadi punya jalan keluar untuk membantu anak itu, plus aku juga jadi menemukan jalan keluar untuk membantu masalah yang sedang dihadapi oleh saudara sepupuku sendiri. 2 masalah menemukan jalan keluar, karena 1 emosi yang meledak yang memberikan rasa penyesalan.

Luar biasanya Tuhan, saat akhirnya aku mencoba menghubungi lagi anak itu, untuk membujuk dia ikut konseling, tiba-tiba dia menyatakan bersedia. Padahal aku sudah takut anak ini akan menolak dan aku akan mengalami kesulitan saat membujuk dia.

Yah sebelum berbicara lagi dengan anak ini, aku juga berdoa sih supaya aku bisa berbicara dengan lebih tenang dan bisa mengutarakan maksudku lebih mudah, dan juga supaya anak ini bersedia. Ehh beneran. Baru 1x diomongin, anak ini langsung bersedia. Aku langsung merasa sukacita luar biasa.

Aku merasa sedikit berbangga hati, tugas evangelisasi pertamaku berhasil aku jalani dengan baik. Setidaknya meski secara karir di dunia aku tidak bagus-bagus banget, yah kali secara tugas pewartaan aku bisa lebih baik. Sekarang aku tinggal harus mendoakan agar anak ini benar-benar bisa menemukan kedamaian dan akhirnya bisa memiliki teman-teman lain sehingga tidak melulu bergantung kepadaku.

Cerita diatas baru salah satu dari banyak kejadian ajaib yang aku rasakan dalam hidup. Masih banyak lagi yang sebenarnya bisa aku ceritakan. Tapi yah itu bisa ngga abis-abis ceritanya.  



Grey_S

Friday, January 1, 2021

Welcome 2021

Postingan pertama di tahun 2021 ini akan aku persembahkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa, Allah-ku, Bapa-ku, Tuhanku Yesus Kristus.

Aku ingin mengucapkan syukur dan terima kasih yang sangat mendalam kepada Tuhanku, Tritunggal yang Maha Kudus, atas semua penyertaan-Nya sepanjang tahun 2020 yang sebenarnya sangat berat bagiku, dan mungkin bagi semua orang di dunia.

Masih teringat dengan jelas bagaimana di akhir tahun 2019 yang lalu, dengan sebuah kesalahpahaman, justru itulah cara Tuhan memanggilku untuk kembali mendekat pada-Nya. Dan seperti anak domba yang terpanggil untuk mendekati gembalanya, di awal tahun 2020, aku mencoba mengikuti panggilan tersebut.

Saat itu aku tidak pernah menyangka sama sekali, bahwa panggilan tersebut adalah sebuah panggilan untuk menyiapkan diri, agar aku dapat menghadapi segala macam pencobaan sepanjang tahun 2020, yang bahkan sudah dimulai sejak semalam sebelum Imlek, atau pergantian tahun menurut tanggalan Chinese.

Sejak malam sebelum imlek, sampai pergantian tahun 2020 ke 2021 ini, jujur saja, masalahku dan orang-orang terkasihku selalu datang silih berganti. Dengan permasalahan sebanyak ini, dan seberat ini, aku yang dulu, tidak akan mungkin sanggup menghadapi semuanya. Apalagi dengan latar belakang Depresi selama 20 tahun yang pernah aku alami. Boro-boro bisa mendampingi orang-orang terkasihku, mungkin menyelamatkan diri sendiri saja, belum tentu aku bisa.

Namun karena mengikuti panggilan Tuhan untuk mendekat itulah, aku dan orang-orang terkasihku dapat selamat melewati tahun 2020. Setidaknya karena menuruti panggilan tersebut, aku dapat menyelamatkan diriku sendiri dari keterpurukan, dan membantu orang-orang terkasihku dengan dukungan moril atau bantuan doa.

Tahun 2020 mungkin memang tahun yang memiliki banyak masalah atau tahun yang BERAT, namun karena K(ristus) yang menyiapkan jalan untukku, aku ingin mengenang tahun 2020 lalu sebagai tahun yang penuh BER(K)AT. Tahun yang menjadi titik balik dalam hidupku, untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam hidupku, seberat dan serumit apapun permasalahan yang aku hadapi. Aku hanya perlu untuk tetap percaya pada janji-Nya dan memohon Roh Kudus-Nya untuk membuatku lebih peka dalam merasakan petunjuk-petunjuk yang Ia berikan.

Dan dengan kepercayaanku yang baru ini, aku yakin seberat apapun masalah yang akan aku hadapi di tahun 2021 nanti, maupun di tahun-tahun yang akan datang, aku pasti bisa melewati semuanya, dan semua masalah itu akan menjadi BER(K)AT dalam hidupku, yang dapat aku nikmati maupun aku bagikan kepada sesamaku.

Terpujilah Tuhan Allah yang Maha Kuasa, pencipta langit dan bumi, dan seluruh isinya. Alam semesta memuji kebesaranNya. Amen.  


Grey_S

Friday, December 25, 2020

Natal 2020

Natal tahun 2020 menjadi sangat amat berbeda dari biasanya.  Selain karena Pandemi COVID-19 yang membuat semua orang harus tetap di rumah, tahun ini Oma-ku pun sudah tidak ada.

Tahun ini untuk pertama kalinya, tidak ada tugas gereja, tidak ada lomba-lomba, tidak ada makan-makan dan tuker kado bersama teman-teman Choir, tidak ada lagi mengantar oma ke misa lansia. Aku pun masih tidak tahu akan bagaimana suasana Natal tahun 2021 nanti.

Tahun ini aku (dan seluruh dunia) merayakan Natal dalam senyap, meski pastinya masih tidak sesenyap malam kelahiran Yesus 2020 tahun yang lalu, tapi aku jadi bisa menghayati secara lebih khusuk perayaan Natal kali ini.

Kemarin sore pada waktu mendapat kesempatan misa offline pun, dari menginjakan kaki di gereja, aku sudah berusaha menahan air mata. Betapa aku merasa beruntung masih bisa mengikuti misa offline, yang protocolnya sangat ketat, mengingat banyak orang lain di luar sana yang juga merindukan untuk dapat mengikuti misa offline lagi namun tidak bisa karena tidak memenuhi persyaratan untuk bisa ikut misa offline.

Lalu pas misa dimulai, lagi-lagi aku hampir menangis, karena misa Natal yang biasanya dirayakan sangat megah, kali ini dibuat sesederhana mungkin. Tidak ada doa perwakilan dari anak dan orang tua, tidak ada lilin Natal, tidak ada lagu-lagu paduan suara.

Dan air mataku pun menjadi tidak bisa dibendung saat penerimaan komuni. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih atas waktu dan kesempatan yang masih Tuhan berikan kepadaku, atas kekuatan dan pendampingan yang Tuhan berikan padaku di masa-masa sulit yang harus aku lalui, atas semua berkat yang masih boleh aku terima, atas kelahirannya ke dunia untuk memberitakan secara langsung kabar gembira tentang Kasih dan Kerajaan Allah.  

Aku juga mengucapkan syukur atas masuknya festival film yang aku dan teman-teman kerjakan dengan susah payah ke dalam nominasi Festival Film Independent Terkeren versi Kompasiana. Betapa penghargaan tersebut, semakin membuat aku (dan teman-teman) termotivasi untuk tetap berkarya untuk memanusiakan manusia, untuk tetap mengabarkan Kasih Allah kepada seluruh manusia lewat karya seni, tidak peduli apapun Suku, Ras, Agama, Gender, pilihan Gender, orientasi sexualnya, perbedaan fisiknya, ataupun perbedaan psikisnya, semua orang adalah 100% Manusia dan semua berhak merasakan Kasih Allah.

Selamat Natal 2020, untuk orang-orang yang kebetulan membaca tulisan ini. Tuhan memberkati dan mengasihi anda. 


Grey_S

Friday, November 20, 2020

SELESAI

Selasa, 17 November 2020 pk 14.20
.
.
.
.
.

Salah satu tugasku SELESAI

Thursday, October 22, 2020

Lahir kembali

Tahun 2020 ini beneran luar biasa sih tantangannya. Cobaan datang silih berganti. Sampai-sampai ada teman yang kepikiran kalau 2020 = 2+0+2+0 = 4 (Mati) dalam kepercayaan Chinese.

Untuk dunia secara global, cobaan di 2020 ini masih sekitaran COVID-19, Resesi Ekonomi, gejolak politik, bencana alam, dan lain-lain. 

Untuk aku cobaan di 2020 ini, mulai dari kehilangan pekerjaan (meski atas pilihanku sendiri), kehilangan bisnis yang mengakibatkan aku terlibat hutang dengan nominal yang cukup besar, merelakan bisnis persewaan property yang aku miliki kosong selama berbulan-bulan, menyiapkan hati kalau-kalau Oma-ku harus berpulang karena melihat kondisinya yang turun terus setiap harinya, dan semalam setelah berbicara serius dengan kekasihku, aku pun harus menyiapkah hati kalau-kalau hubungan kami harus selesai sampai disini.

Untuk masalah yang aku sebut terakhir, kami belum membuat keputusan apapun sih tentang masa depan kami. Aku masih membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Sepertinya dia pun begitu. Tapi yah aku tetap harus menyiapkan hati, kalau-kalau yang akhirnya terjadi bukan lah hal yang aku harapkan.

Nyesek? Iya. Kecewa? Iya. Sedih? Juga iya. Bagaimana juga kami sudah bersama lebih dari 8 tahun, mau memasuki tahun ke-9 bahkan.

Sejujurnya aku lelah bila harus memulai sebuah hubungan baru dengan orang baru lagi. Saling mengenal lagi, saling beradaptasi lagi. Namun aku pun tidak ingin kami terjebak di sebuah hubungan yang sudah tidak sejalan.

Lalu aku teringat akan perenunganku yang sempat aku tuliskan beberapa hari yang lalu, yang berkaitan dengan siklus Shio. Saat itu kan aku kan sudah menyadari bahwa Tuhan sepertinya sedang memintaku untuk menata ulang hidupku. Meski aku tidak menyangka bahwa hubunganku dengan kekasihku pun sepertinya juga harus ikut ditata ulang.

Tiba-tiba pagi ini aku pun menemukan ayat dibawah ini saat sedang menenangkan diri dengan berdoa dan membaca Alkitab.

“Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." (Yohanes 3 : 3)


Dan aku terpana dengan kata-kata “dilahirkan kembali

Dalam perenunganku, sepertinya tahun ini aku benar-benar sedang diminta untuk kembali masuk ke dalam “kandungan” Allah Roh Kudus, untuk kemudian “dilahirkan kembali”.

Agar saat aku sudah terlahir kembali nanti, aku akan lebih siap dalam menerima rejeki baru, karir baru, orang-orang baru, pengalaman hidup yang baru.


2020

2+0+2+0 = 4 (Mati)

Setelah Mati maka akan ada kebangkitan (kehidupan baru)

 

Doa-ku hari ini :

Tuhan, berilah saya keikhlasan untuk melepaskan semua hal yang bukan menjadi anugerah saya. Berilah saya kekuatan untuk tetap berjalan dijalanMu. Teguhkan lah hati saya untuk tetap setia dalam menantikan janjiMu, sampai waktunya aku dilahirkan kembali untuk dapat merasakan Kerajaan Allah. 



Grey_S

Monday, October 19, 2020

Aku akan merindukan HARI INI

Dalam tata Bahasa Inggris, Yesterday is a PAST tense. Tomorrow is a FUTURE tense. And Today is a PRESENT tense. Sedangkan PRESENT sendiri bisa diartikan sebagai HADIAH.

Sehingga banyak kata-kata bijak yang menyatakan kurang lebih seperti ini : Yang lalu sudah tidak dapat kembali, yang akan datang belum tentu dapat diraih, yang ada sekarang itulah yang dapat  dinikmati.

Banyak orang sudah pernah membaca dan tau tentang kata-kata bijak diatas, namun sedikit orang yang bisa memahaminya dan benar-benar menikmatinya.

Karena hari ini adalah HADIAH untukku, aku ingin menikmati hari ini dengan sungguh-sungguh. Karena mungkin saja, esok aku akan merindukan hari ini.  

Mungkin saja esok aku akan merindukan lelahnya tidur dibangku Rumah Sakit karena harus menunggu Oma-ku dirawat.

Mungkin saja esok aku akan merindukan suara berisik Oma-ku yang membangunkanku karena minta disuapi sarapan.

Mungkin saja esok aku akan merindukan kemanjaan Oma-ku yang selalu menantikanku kembali untuk sekedar menemaninya tidur lagi.

Mungkin saja esok, aku akan merindukan HARI INI. 




Grey_S