Showing posts with label love and family. Show all posts
Showing posts with label love and family. Show all posts

Thursday, September 4, 2025

Untukmu yang selalu bertanya dengan manja

Untukmu yang selalu bertanya dengan manja kepadaku,

“Apakah aku mencintaimu?”

Bolehkah kali ini giliranku yang bertanya kepadamu,

“Apakah kamu sungguh mencintaiku?”

 

Dengan seluruh kekuatan dan kelemahanku,

Dengan seluruh kelebihan dan kekuranganku,

Dengan seluruh luka-luka masa laluku.

 

Dengan Grey kecil yang akan sekali-sekali muncul kembali,

Dengan Grey kecil yang juga ingin sekali-sekali dimanja,

Dengan Grey kecil yang juga ingin dicintai secara utuh.

 

Apakah kamu sungguh mencintaiku secara utuh? 

SUDAH SELESAI

Bacaan Injil hari Senin 9 Juni 2025 diambil dari Yohanes 19:25-34, tapi ayat yang paling mengena untukku hari ini adalah di ayat 30, ketika Yesus pada akhirnya mengatakan “SUDAH SELESAI”. 

Ketika aku mengikuti kelas Emaus Journey di 2021 yang lalu, buku terakhir yang digunakan adalah “Seven Last Words From The Cross” oleh Rich Cleveland. Dari 7 kata terakhir Yesus di kayu salib, yang paling berkesan untukku adalah kata “SUDAH SELESAI”. Yang menandakan bahwa Yesus sudah berhasil menjalani semua kehendak Allah Bapa dalam hidupNya dan sudah berhasil mengalahkan sisi kedaginganNya sendiri.

Sejak mempelajari buku tersebut, aku sangat terinspirasi oleh Yesus untuk pada akhirnya aku juga bisa mengatakan “SUDAH SELESAI” untuk semua tugas perutusanku di dunia ini. Dan ternyata kesempatan itu datang padaku di bulan Juni 2022.

***

Tanggal 8 Juni 2022, pagi itu aku terbangun dengan sedikit kaget setelah memimpikan almarhumah nenekku masuk ke dalam kamar tidurku sambil mengomel dengan suaranya yang melengking “Greyyyyyyy, tengokin tuh si Papi. Jangan sampai dia sudah masuk peti baru kamu tengokin.”

Tapi karena bagiku mimpi hanyalah sebuah bunga tidur, maka setelah terbangun penuh, aku tidak terlalu memikirkan tentang mimpi tersebut lagi. Apalagi ketika di Video Call beberapa hari sebelumnya, Papiku masih baik-baik saja.

Beberapa hari setelah hari itu, aku pergi mengikuti Retreat yang diadakan oleh Komunitas School By Spirit (SBS) di Wisma Samadi selama 5 hari 4 malam. Saat itu aku mengikuti Retreat tersebut sebagai hadiah ulang tahun bagi diriku sendiri, karena sejak 2021 aku menemukan kebahagian pada saat bisa memiliki waktu berkualitas dengan Tuhan di hari ulang tahunku. 

Uniknya sepanjang retreat tersebut, selama 5 hari berturut-turut, rhema yang keluar untukku adalah “Bersiap-siaplah untuk kejutan dari Tuhan.” Dan melalui retreat itu aku juga jadi berkenalan dengan sahabat baik Mami-ku di lingkungan, yang sebenarnya beliau bukan anggota SBS namun diajak untuk mengikuti retreat tersebut.

2 hari setelah retreat berakhir, aku ada janji meeting dengan calon client di sebuah Mall yang lokasinya sangat dekat dengan rumah Papi. Hari itu hari Sabtu, yang dalam kepercayaan Papi itu adalah hari Sabat. Biasanya hari itu Papi akan pergi ke gereja dari pagi hingga sore.

Pagi itu ketika sedang bersiap-siap untuk meeting, ada suara yang terus-terusan mengganggu pikiranku “Dith, jenguk Papi. Kan kamu akan meeting di dekat sana, sekalian saja mampir untuk menjenguk Papi. Terserah kamu mau berapa lama, 10 menit, 5 menit, terserah. Tapi jenguklah Papi.”

Selama beberapa menit suara tersebut terus berperang dengan logikaku. Logikaku mengatakan “Buat apa mampir? Papi pasti sudah pergi ke gereja. Nanti sajalah kalau aku sudah agak senggang.” Tapi suara tersebut, tetap gigih memintaku untuk menjenguk Papi. Sampai akhirnya logikaku mengalah kepada suara tersebut.

Aku menelpon papi. Dan ternyata memang Sabat tersebut Papi memutuskan untuk tidak bepergian karena kata beliau kakinya sedang sakit. Beberapa bulan terakhir beliau memang mengeluhkan kalau dengkulnya sakit, sehingga kami berdua sedang rutin pergi terapi pijat bersama. Karena papi ada di rumah, maka aku berjanji untuk datang menjenguknya lebih dahulu sebelum pergi meeting.

Sesampainya di rumah Papi, aku sangat terkejut karena ternyata sakit kaki yang Papi maksud bukanlah sakit pada bagian dengkul seperti yang sebelumnya beliau keluhkan, namun ternyata karena ada luka borok sebesar uang koin pada mata kakinya. Dan yang lebih membuatku terkejut lagi adalah keadaan rumah yang sangat berantakan dengan ceceran darah dimana-mana.

Papi memang memiliki riwayat penyakit Diabetes, dan tidak pernah mau minum obat Diabetes atau pun memeriksakan diri karena kepercayaannya yang salah dengan ilmu kedokteran.

Karena awalnya Papi tetap tidak mau dibawa ke dokter, maka aku untuk pertolongan pertama,  meminta tolong kepada sahabat mami yang aku temui ketika Retret SBS, untuk mencarikan ART untuk membantu papi beberes rumah, menyiapkan makanan, dan memantau kondisi papi setiap hari.

Aku juga meminta bantuan tanteku yang pensiunan dokter untuk merawat luka papi, dan partnerku yang sinshe untuk obat-obatannya papi. Dan ini bertahan hanya selama 1 minggu karena kondisi papi yang memburuk sehingga mau tidak mau, suka tidak suka beliau menyerah dan bersedia dibawa ke RS.

Pertama kali papi bersedia dirawat di RS, aku bingung apakah harus ikut menginap bersama beliau, atau bisa aku tinggal saja? Kalau menginap di RS artinya aku harus siap tidur dilantai tanpa kasur dan bantal, tapi kalau ditinggal khawatir sama Papi, dan pihak RS pun mewajibkan keluarga pasien untuk ikut berjaga.

Meski papi mengatakan untuk pulang saja, tapi suara yang membimbingku memintaku untuk tetap tinggal di RS. Benar saja, di malam hari ternyata ada beberapa kejadian dimana papi membutuhkan bantuanku. Untung aku mendengarkan suara itu.

***

 Pada saat pertama kali aku mengetahu kondisi Papi, aku juga sempat mengeluh kepada Tuhan. “Tuhan, kok kejutan untukku begini amat sih?” lalu dalam kontemplasiku saat itu Tuhan menjawab “Kan kamu sudah Aku persiapkan sejak bulan Januari.”

Aku pun teringat pengalaman pertama kali mengikuti Latihan Rohani Pemula modul Gelap dan Terang, di bulan Januari 2022, yang saat itu masih diuji cobakan.

Di bulan Januari 2022, karena aku dan beberapa teman sedang mengalami pergumulan, Ko Robin mengajak kami mendoakan sekaligus menguji cobakan Latihan Rohani Pemula Modul Gelap dan Terang bersama. Pada waktu itu sebenarnya yang aku doakan adalah tentang pekerjaan dan keinginanku untuk keluar dari Jakarta, namun Rahmat yang aku dapatkan adalah kata-kata “Bagaimana kalau tugasmu saat ini bukanlah untuk mengejar karir tapi untuk merawat Papi?” 

Saat itu aku bingung dengan Rahmat yang aku dapatkan. Papi masih sehat-sehat saja, dan Papi juga masih tinggal bersama 2 orang karyawan. Jadi buat apa aku merawat Papi? Ternyata hal itu terjawab beberapa bulan kemudian.

***

 Singkat cerita, sepanjang 3 tahun terakhir kondisi papi memang naik turun. Sepanjang sisa tahun 2022, hampir sebulan sekali Papi pasti harus dirawat di RS, dan sempat beberapa kali juga masuk ke Ruang  ICU. Dari yang awalnya aku berusaha merawat papi sendiri, sampai akhirnya aku harus membutuhkan bantuan caregiver untuk membantuku menjaga papi 24 jam. Karena tiap kali papi sehat sedikit, bandelnya papi kambuh dan tidak mau minum obat lagi, atau pun merawat lukanya lagi. Sedangkan aku pun tidak bisa 24 jam memantau papi terus menerus.

Di 2023 sampai quarter ke 3 di 2024 kondisi Papi cukup stabil, Papi sudah bisa ke gereja lagi, bahkan di awal 2024 kami sempat 2 kali pergi berlibur ke Villa di Cipanas. Namun mulai Oktober 2024 akhir, kondisi Papi kembali menurun jauh. Sepanjang semester pertama di 2025, Papi lebih banyak di Rumah Sakit dibanding di rumah sendiri. Bahkan di bulan Februari 2025 papi sempat mengalami koma dan berhenti detak jantung.

Aku yang sejak awal terpanggil untuk mendampingi Papi, ikut merasakan penderitaan Papi. Tiap kali papi berteriak-teriak minta tolong karena sesak napas atau saat seluruh badannya terasa sakit karena cuci darah, aku hanya bisa menangis sambil berdoa. Aku sadar ini adalah Jalan Salib yang harus kami lalui.

Sepanjang Jalan Salib ini, aku bersyukur banyak menerima bantuan-bantuan dari beberapa “Simon Kirene” yang hadir melalui sosok para Caregiver, Saudara-saudara yang siap membantu, dan teman-teman gereja Papi yang selalu ada untuk kami.

Aku juga tidak memungkiri, bahwa dalam menjalani Jalan Salib ini, aku sempat beberapa kali “terjatuh”. Hubunganku dengan Papi yang sudah sempat membaik, beberapa kali kembali memanas. Sebelum akhirnya aku disadarkan bahwa Papi menjadi sangat menyebalkan seperti itu karena sakitnya dan karena Demensia yang mulai di deritanya.

Puncaknya adalah di bulan Mei 2025, dimana selama 31 hari penuh Papi harus dirawat di RS tanpa bisa pulang sehari pun. Saat papi memaksa untuk pulang, baru pulang dibawah 12 jam, kami sudah terpaksa harus melarikan Papi kembali ke RS karena terjatuh dari ranjang dan mengalami pendarahan hebat.

3 hari papi kembali masuk RS, sebelum akhirnya beliau menghembuskan napas terakhirnya. Pastinya beliau sudah terlalu lelah dalam berjalan di Jalan Salib kami ini. Papi menghembuskan napas terakhirnya persis setelah aku selesai mendoakan Rosario, dan Papi dinyatakan sudah tidak ada oleh dokter yang bertugas tidak lama setelah aku selesai mendoakan Doa Koronka.

Saat itulah air mataku sudah tidak menjadi air mata penuh duka, namun menjadi air mata  penuh haru, karena akhirnya kami bisa menyelesaikan Jalan Salib kami. Kami bisa mengklaim Mahkota Kebenaran seperti yang tertulis dalam 2 Timotius 4:7-8a “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan Tuhan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya”

Kami bisa dengan bangga mengatakan kepada semua orang “SUDAH SELESAI”.

Tugas perutusanku mendampingi papi “SUDAH SELESAI”.

Hidup Grey yang lama “SUDAH SELESAI”.

Kini di 9 Juni 2025, telah lahir Grey yang baru. Grey yang siap untuk melanjutkan tugas perutusan berikutnya.

 

AMDG

Thursday, May 13, 2021

Ketika Depresi-ku kambuh

“Apa sih yang paling kamu inginkan ketika Depresi-mu lagi kambuh?” tanya seorang teman kepadaku, saat kami sedang membicarakan kondisi mamanya yang sedang sakit cukup berat.

Dan seperti biasa, ketika ditanya secara langsung, aku malah tidak bisa menjelaskannya secara detail, karena itu aku coba jelaskan lewat tulisan lagi.

Pada saat aku mengalami masalah cukup berat, merasa terpuruk, mengalami kesedihan yang dalam, bahkan masuk ke tahap Depresi, pastinya yang aku inginkan adalah kabur dari kenyataan, tidak perlu terbangun lagi dari alam mimpi, tidur selamanya (atau kata kasarnya yah… maunya sih mati aja lah). Maka pada saat mengalami itu, biasanya aku bisa tidur belasan jam, tidak nafsu makan, merasa tubuh lemas, lemah, lelah, bahkan semua penyakit bisa terasa (psikosomatis), dan pastinya pikiran dan perasaan juga menjadi jelek terus.

Nah pada saat itu terjadi, yang penting itu justru bukan “apa yang aku inginkan” tapi “apa yang aku BUTUHKAN”

Pada saat itu terjadi sebenarnya aku hanya butuh: ada yang mengingatkan aku betapa aku dicintai, betapa kehadiranku masih dibutuhkan, bahwa aku tidak sendirian di dunia ini, bahwa badai yang aku alami pasti akan berlalu, dan hal-hal positif lainnya.

Tapi untuk diingatkan hal-hal tersebut diatas pun, tidak melulu harus lewat kata-kata. Cukup dengan tidak menghakimi kadang itu sudah sangat membantu. Tetap bertahan di sisi-ku, atau dengan sebuah pelukan hangat, atau kecupan kecil, itu sudah membuatku sangat bersyukur.

Aku masih terkenang sebuah kejadian belasan tahun lalu, ketika adikku yang paling kecil, saat itu baru berusia 8-9 tahunan, memelukku erat sambil berkata “Cici, cici lagi stress yah. Jangan stress-stress dong.” Mungkin dia bahkan sudah melupakan kejadian itu, tapi pelukannya saat itu berhasil menyelamatkanku dari keterpurukan. Hal-hal sederhana ini lah yang paling aku butuhkan disaat aku sedang terpuruk atau Depresiku sedang kambuh.

Oh ya, tiap-tiap orang memiliki Bahasa Cinta yang berbeda-beda. Sehingga tiap orang pasti memiliki cara yang berbeda pula untuk mengingat pengalaman-pengalaman dicintai tersebut. Saranku, pelajarilah Bahasa Cinta orang yang ingin kamu dampingi untuk melewati masa sulitnya. Kalau kamu sungguh-sungguh mencintai orang tersebut, pasti tidak masalah kan untuk kamu mencoba memahami lebih dalam apa yang ia butuhkan? Dan bersabarlah menghadapinya, karena tiap orang membutuhkan waktu yang berbeda pula untuk bisa pulih dari keterpurukannya. 


Grey_S

Friday, November 20, 2020

SELESAI

Selasa, 17 November 2020 pk 14.20
.
.
.
.
.

Salah satu tugasku SELESAI

Monday, October 19, 2020

Aku akan merindukan HARI INI

Dalam tata Bahasa Inggris, Yesterday is a PAST tense. Tomorrow is a FUTURE tense. And Today is a PRESENT tense. Sedangkan PRESENT sendiri bisa diartikan sebagai HADIAH.

Sehingga banyak kata-kata bijak yang menyatakan kurang lebih seperti ini : Yang lalu sudah tidak dapat kembali, yang akan datang belum tentu dapat diraih, yang ada sekarang itulah yang dapat  dinikmati.

Banyak orang sudah pernah membaca dan tau tentang kata-kata bijak diatas, namun sedikit orang yang bisa memahaminya dan benar-benar menikmatinya.

Karena hari ini adalah HADIAH untukku, aku ingin menikmati hari ini dengan sungguh-sungguh. Karena mungkin saja, esok aku akan merindukan hari ini.  

Mungkin saja esok aku akan merindukan lelahnya tidur dibangku Rumah Sakit karena harus menunggu Oma-ku dirawat.

Mungkin saja esok aku akan merindukan suara berisik Oma-ku yang membangunkanku karena minta disuapi sarapan.

Mungkin saja esok aku akan merindukan kemanjaan Oma-ku yang selalu menantikanku kembali untuk sekedar menemaninya tidur lagi.

Mungkin saja esok, aku akan merindukan HARI INI. 




Grey_S

Sunday, August 23, 2020

Inikah rasanya : Diperebutkan 2 cowo

Sebenarnya kemarin adalah hari yang sangat melelahkan untukku, tapi sekaligus akhir pekan yang sangat berkualitas bagiku.

Subuh-subuh sudah janjian sama teman untuk sepedaan di jalur yang lagi kekinian, lalu jam 9an ada webinar pajak sampai setelah jam makan siang. Nah setelah jam makan siang itu, aku ada janji sama ponakan mau main bersama mereka.

Awalnya karena sudah kecapean aku mau batalin janji untuk main dengan ponakan, tapi karena si cece, ponakan paling gede, udah nelponin mulu, aku jadi ngga tega untuk batalin janji. Lagian memang jarang-jarang aku bisa punya waktu santai bareng ponakan.

Akhirnya setelah istirahat sebentar setelah webinar dan makan siang, aku langsung berangkat ke rumah adikku. Itu pun si cece udah nelpon-nelpon lagi, ngoceh-ngoceh karena aku belum sampai juga. Sampai di rumah mereka, ternyata para ponakan sudah kabur duluan ke taman bermain. Ya sudah, aku pun menyusul mereka ke taman bermain.

Belum juga sampai ke taman bermain, ternyata si dede, ponakan-ku yang berusia 5 tahun sudah melihatku dari jauh. Seperti biasa, dia lalu berlari menghampiriku sambil terus-terusan memanggil-manggil namaku. So dramatic deh, kayak di film-film. Wkkwkwkwkkk…

Nah ternyata saat itu sebenarnya si dede lagi main sama temannya yang usianya kuperkirakan sedikit lebih kecil dari si dede. Namanya Max. Kemarin adalah pertama kali aku bertemu dengan Max. Lucunya si Max ini, selalu mengikuti apapun yang si dede lakukan. Jadi waktu si dede berlari menghampiriku, si Max juga ikutan lari menghampiriku. Waktu si dede pamer mainan yang dia punya, Max juga langsung pamer mainan yang dia punya ke aku. Waktu si dede meluk aku, Max juga langsung ikut melukin aku.

Nah si dede kayaknya kesel karena Max ngikutin terus yang dia lakukan, jadi sambil melukin aku, si dede ngomong ke Max, “She is my ii (auntie).” Ehh… Max malah ngejawab si dede dong, “No, she is my ii too.” Sambil ikutan minta dipeluk juga.

OMG, I’m speechless that time. I’m so melted with them. Akhirnya aku peluk mereka berdua, sambil ngomong “Yah yah… I’m your ii. Let’s play together again.”

Ehhh … si dede tambah kesel, trus ngomong begini “Max, jangan bikin orang emosi dong.” Aku langsung ketawa ngakak sengakak-ngakaknya. The boys really made my day. Seluruh rasa lelah seharian, langsung hilang seketika.

I really thank God for the love He give it to me via the boys.  

Saturday, December 21, 2019

Tentang Mami

Sejak kecil saya tidak tinggal bersama keluarga inti, tapi tinggal Bersama emak dan engkong, yang tidak lain adalah orang tua dari Mami. Entah alasan sebenarnya apa, tapi dari cerita emak hal ini dikarenakan Engkong tidak ingin cucu pertamanya ini di urus oleh orang lain karena mami dan papi saat itu harus bekerja. Akhirnya sejak kecil saya sudah terbiasa jika hanya bisa bertemu dengan mami, papi dan adik saya di akhir pekan atau liburan saja.

Kadang orang suka bertanya, “Kalau begitu kamu lebih dekat dengan Emak dong dibandingkan dengan Mami-mu?” “Hmmm…. Kalau lebih sering ketemu, iya. Jelas saya lebih sering ketemu dengan Emak karena tinggal serumah. Tapi kalau kedekatan secara batin, menurut saya sama saja kok. Emak dan Mami sama-sama wanita yang paling melekat dalam hidup saya. Pernah saya merasa tidak akan bisa hidup tanpa mereka berdua.

Meski dalam beberapa hal, saya lebih mirip sama Emak, tapi ada satu kesamaan antara saya dan Mami yang tidak dapat disangkal. Saya dan Mami sama-sama orang yang memiliki kesulitan untuk mengekspresikan perasaan dan sulit berkomunikasi dengan orang terdekat. Bila tidak ada yang memancing komunikasi dengan bertanya, maka kami tidak akan bercerita.

Dan kami berdua sama-sama lebih mudah mengungkapan perasaan lewat tulisan. Hal ini saya sadari, saat mami pernah mengirimkan email kepada saya, hanya untuk bertanya tentang teman-teman kerja saya, siapa orang terdekat saya dan beberapa hal sepele lainnya. Hal yang seharusnya bisa ditanyakan saat saya sedang bersama mami di akhir pekan atau via telp. Sejak saat itu, bila sedang berdua saja dengan mami, saya berusaha untuk lebih banyak bicara dan mencairkan suasana. Meski tentu juga tidak mudah untuk saya.

Meskipun jarang ngobrol santai berdua, tapi mami paling tau apa yang saya butuhkan. Khususnya yang bersangkutan dengan fashion. Semua baju kerja saya, baju pergi kondangan, sepatu, sampai make up mami yang pilihin. Karena mami tau, saya paling malas cari-cari pakaian formal. Kalau aku yang beli sendiri paling mentok pasti belinya kaos oblong atau kaos polo dan celana selutut.

Dari luar Mami juga terlihat sangat keras, galak, dan jutek. Hampir semua orang yang kenal mami mengatakan hal itu. Tapi buat yang mengenal Mami lebih dalam, pasti tau kalau sebenarnya mami berhati lembut. Bahkan sejak kecil saya sering nangis bareng Mami cuma gara-gara nonton bareng film atau serial drama Hongkong atau Taiwan atau Korea.

Begitu juga di rumah, meski mami adalah anggota keluarga tergalak, tapi semua tau kalau mami sebenarnya sangat menyayangi seluruh keluarga besarnya. Semua keponakan pun dianggap anak sendiri. Bahkan beberapa diantaranya ikut memanggil mami dengan sebutan Mami juga.


***

Kepergian mami untuk selamanya sangat mengejutkan bagi kami sekeluarga dan juga bagi teman-temannya. Apalagi mami meninggal persis di hari ulang tahunnya. Padahal saat itu teman-temannya sedang merencanakan pesta kejutan untuk ulang tahun mami. Tapi sebenarnya mami sudah memberikan tanda-tanda sejak beberapa bulan sebelumnya. Mulai dari mami tiba-tiba menyerahkan surat-surat penting ke adik saya untuk disimpan. Sampai membeli mobil dengan warna favorit saya, padahal dia sama sekali ngga suka dengan warna itu.

Kurang lebih 1-2 bulan terakhir hidup mami, juga baru ketahuan bahwa kondisi kesehatan mami kurang bagus. Itu pun setelah dibujuk-bujuk oleh semua keluarga untuk periksa ke dokter. Setiap kali diajak check up mami selalu bilang “Haduuuhhh… mami mah ngga mau lah hidup sampai terlalu tua. Trus banyak penyakitnya. Mami mah maunya kayak Engkong aja.” Dan kejadian… Mami meninggal di usia yang sama seperti Engkong, yaitu 63 tahun.

Saat diberi kabar tentang kondisi kesehatan mami yang kurang bagus oleh tante dan sepupuku yang dokter, saya merasa sangat terpukul. Apalagi kondisi kesehatan Emak saat itu juga kurang bagus. Sehingga saya harus menghadapi kenyataan bahwa 2 orang tercinta saya sedang tidak baik-baik saja. Jujur kenyataan ini sempat membuat depresiku kambuh, dan membuat saya sendiri harus berada dalam pengawasan psikiater.

Tapi saat itu mami berhasil meyakinkan saya dan adik, bahwa mami baik-baik saja. Mami masih ikut menjaga emak di rumah sakit saat emak dirawat. Mami juga masih mengajak saya untuk shopping bareng mencari kado ulang tahun untuk keponakan saya, mencari baju kerja baru dan rok hitam panjang untuk persiapan konser FOAS tahun lalu. Dan mami tetap menolak dirawat di rumah sakit. Karena menurut mami itu terlalu “lebay”, kebetulan dokter yang merawat mami juga bilang kondisi mami ada kemajuan yang sangat bagus.

Akhirnya saat itu saya hanya bisa berdoa Rosario Pembebasan. Saya berdoa agar kedua orang yang saya cintai itu terbebas dari segala sakit penyakit mereka dan diberi umur panjang, karena saya belum siap kalau harus kehilangan mereka. Tapi di setiap akhir doa, saya juga selalu menyebutkan “terjadilah padaku menurut kehendakMu Tuhan. Dan berilah hamba kekuatan untuk menjalani kehendakMu.”

Saat saya memutuskan untuk mendoakan Rosario Pembebasan, sebenarnya saya sadar mungkin saja “pembebasan” yang dimaksud adalah dengan kepergian selamanya dari orang yang saya sayangi, tapi saat itu egoku masih menyangkal. Makanya saya tetap berdoa mohon agar mereka diberi umur panjang.

Beberapa hari sebelum Mami meninggal, saya dan adik saya sudah merencanakan untuk acara ulang tahun mami. Meski bukan pesta, tapi namanya orang tua ulang tahun sudah sewajarnya anak cucu berkumpul. Karena mami pernah bilang mau nyobain makan di restaurant jepang di Lippo Mall, ya sudah saya dan adik saya memutuskan mengambil cuti di tanggal 29 November itu untuk mengajak mami makan siang bersama.

Tidak disangka, ketika hari baru memasuki tanggal 29 November, sekitar jam 12.30an lewat tengah malam. Adik saya menelpon. Saya kira mau membicarakan tentang rencana ulang tahun mami. Ternyata dia menginfokan bahwa Papi baru saja menelpon kalau Mami pingsan. Saya kaget, tapi tetap berusaha tenang. Lalu saya mencoba telepon ke Papi untuk mengkonfirmasi keadaan mami, dengan suara bergetar papi cuma bilang “Mami pingsan, dan sampai sekarang belum sadar. Badannya juga agak dingin. Papi bingung. Monic sih lagi kemari mau bawa mami ke rumah sakit, karena papi ngga kuat gotongnya.” Firasat saya sudah tidak enak, tapi saya tetap berusaha berpikir bahwa semua akan baik-baik saja. Saat itu saya malah berpikir kalau mami cuma kena stroke karena gula darahnya drop.

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, sekujur badan saya juga ikutan dingin karena tegang. Apalagi tante dan sepupu saya yang dokter tidak bisa dihubungi sama sekali saat itu. Untung ada sahabat saya yang kebetulan sedang menginap, ikut mendampingi. Sesampainya di rumah sakit, adik saya segara menemui saya sambil menangis “Ci, kata dokter mami udah ngga ada. Ini masih di usahain sih, tapi kalau dalam 15 menit lagi detak jantungnya tetap tidak kembali artinya mami udah ngga ada.” Lalu saya bilang ke adik saya, “Ngga lha. Selama masih diusahakan, artinya masih ada harapan.” Saat itu ego saya benar-benar belum bisa melepas mami. Selama 15 menit menunggu, saya berdoa memohon keajaiban, benar-benar memohon agar Tuhan mengembalikan mami ke saya, karena saya belum siap ditinggal mami.

Tapi Tuhan berkehendak lain. Tidak ada adegan seperti di sinetron yang karena di doakan, tiba-tiba detak jantung mami muncul lagi. Tidak ada. Setelah waktu yang ditentukan detak jantung mami tetap tidak kembali, maka dokter menyerah. Dan seperti orang yang kalah perang, meski sudah berusaha sekuat tenaga, saya lunglai. Saya pasrah mendengar keputusan dokter. Bahkan untuk marah terhadap Tuhan ataupun menangis berlinang air mata, saya tidak sanggup. Saya hanya merasa kosong. Mungkin inilah yang dimaksud “Tuhan tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan umatNya.”

***

“Bahagia karena Melepas, Menderita karena terikat.”, kata-kata itu saya baca di salah satu buku Anthony de Mello. Saya adalah penggemar karya-karya beliau sejak kecil. Tepatnya sejak saya berusia 9 tahunan, saat itu Mami membelikan saya buku “Burung Berkicau” dengan alasan simple, ceritanya bagus. Padahal kalau dibaca ulang, sebenarnya isi buku tersebut cukup berat untuk anak usia 9 tahun.

Kembali ke pepatah “Bahagia karena Melepas”, melepaskan orang yang kita cintai itu memang sangat sulit. Tidak semudah mengucapkannya. Saat membaca tema tersebut pun saya sadar, kalau ini adalah teori yang sangat sulit untuk dipraktekan. Namun bila kita sadar bahwa orang yang kita cintai sudah bahagia, masa iya kita tidak ikut tenang dan berbahagia. Apalagi dari cerita Papi, saya tau ternyata Mami meninggal dengan sangat enak. Sedang asik nonton drama Korea berdua dengan papi, lalu karena mami merasa kedinginan, mami mengambil jaket di lemari, setelah itu ambruk di ranjang. Bahkan papi mengira mami hanya tertidur, sehingga agak terlambat memberikan pertolongan pertama.

Akhirnya setiap kali aku merasa sedih karena mengingat bahwa mami sudah tidak ada, aku juga berusaha mengingat bahwa mami sudah bahagia bersama Yesus, sudah dibebaskan dari sakit penyakitnya, sudah tidak ada lagi penderitaan. Sudah tidak ada lagi yang perlu aku cemaskan. Saat ini tinggal bagaimana aku berbuat baik, agar suatu saat nanti aku pun bisa berkumpul lagi dengan orang-orang yang aku cintai. 



Note : Sharing ini aku tulis untuk memperingati 1 tahun meninggalnya mami, sekaligus untuk Konser Peringatan Hari Raya Orang Beriman 2019. 

Wednesday, February 11, 2015

Mami, Papi, dan Aku

Semalam adalah malam kedua aku tidur bertiga bersama Mami dan Papi setelah hampir 30 tahun kami tidak pernah tidur bertiga lagi. Tentu saja setelah adikku lahir, kami sudah tidak tidur bertiga lagi, tapi berempat. 

Apalagi saat aku masuk TK, aku harus pindah ke rumah Oma-Opa karena lebih dekat dengan sekolah, dibanding rumah Mami-Papi yang pada saat itu masih jadi tempat “Jin buang anak” a.k.a jauh dari mana-mana. Sehingga mulai saat itu, aku hanya pulang ke rumah Mami Papi kalau liburan tiba. Itu pun biasanya jarang bisa lebih dari 2 minggu, karena setiap pulang ke rumah Mami Papi, aku selalu sakit. 

Selepas SMP aku semakin jarang pulang ke rumah Mami Papi karena aku sempat bertengkar hebat dengan papi yang menyebabkan aku sempat tidak bertegur sapa dengan Papi selama hampir 13 tahun. Saat ini meski hubunganku dengan Papi sudah mulai membaik, namun kekakuan diantara kami belum bisa mencair seperti saat aku masih kecil dulu. 

Namun banjir yang melanda Jakarta 3 hari terakhir ini, membuatku terjebak tidak bisa pulang dari kantor ke rumah Oma, sehingga aku terpaksa harus pulang ke rumah Mami Papi. Kecuali aku bersedia keluar uang lebih untuk menyewa kamar hotel. Tapi dengan kondisi keuanganku sekarang, aku lebih memilih pulang ke rumah Mami Papi yang sudah jelas tidak perlu bayar untuk menginap.

Malam pertama aku kembali tidur bertiga, aku masih belum punya waktu untuk memerhatikan kedua orang tuaku. Aku terlalu lelah setelah seharian bekerja dan terjebak macet yang luar biasa. Aku hanya tidak bisa tidur karena bukan tidur dikasurku yang biasa, dan tidak memeluk gulingku yang biasa. 

Malam kedua aku kembali tidur bertiga, aku baru mulai memperhatikan kebiasaan-kebiasaan orangtuaku yang ternyata agak berbeda denganku. Mungkin karena aku jadi lebih mengikuti kebiasaan-kebiasaan Oma Opaku. 

Mami ternyata tidak bisa tidur kalau tidak ada nyala lampu sama sekali. Sedangkan aku justru tidak terbiasa tidur dengan adanya nyala lampu. Aku lebih suka mematikan lampu dan menikmati cahaya bulan dari jendela kamarku. 

Mami dan Papi juga terbiasa menyalakan AC semalam suntuk dan baru dimatikan ketika bangun tidur, sedangkan aku justru tidak bisa tidur kalau suhu ruangan terlalu dingin. 
 
Papi terbiasa tidur cepat, lalu bangun dini hari untuk membaca dan mengerjakan tugas-tugasnya, sedangkan aku lebih suka menyelesaikan tugas-tugasku dulu agar bisa bangun lebih siang esok harinya. 

Mami tidak suka sarapan pagi, sedangkan aku jarang sekali bisa meninggalkan rumah tanpa sarapan. Bila aku tidak sempat sarapan pun, aku akan selalu menyediakan bekal untuk aku sarapan di kantor atau di jalan. 

Tidak tinggal bersama memang membuat banyak kebiasaan-kebiasaan kami yang berbeda jauh, namun sejauh apapun perbedaan kami semoga aku masih bisa berbakti untuk kedua orang tuaku.