Showing posts with label Around the world. Show all posts
Showing posts with label Around the world. Show all posts

Saturday, February 20, 2016

Jessica, Mirna, dan Pengadilan Social

Dalam satu bulan terakhir ini, seluruh media di Indonesia dihebohkan oleh kasus kematian seorang wanita sehabis meminum kopi bersama 2 orang sahabatnya. Meski awalnya media hanya menyebutkan inisial nama, namun akhirnya nama lengkap korban, saksi, tersangka kasus dan keluarga masing-masing pihak di tuliskan sejelas-jelasnya. 

Nama korban tewas adalah Mirna, dan sahabatnya yang menjadi saksi sekaligus tersangka adalah Jessica. Nama-nama terkait lainnya tidak perlu dibahas, karena saya malas menulis dan karena tokoh utama di tulisan saya ini memang hanya Jessica dan Mirna menurut sudut pandang pribadi saya.

Sampai tulisan ini saya buat, kasus pembunuhan Mirna lewat kopi yang mengandung sianida ini masih sangat misterius. Bukti-bukti yang digunakan polisi untuk menjadikan Jessica tersangka masih sangat minim dan penuh dengan asumsi-asumsi saja. Namun sejak beberapa jam kasus kematian Mirna menyebar di social media, hampir semua beritanya sangat menyudutkan Jessica. 

Pihak keluarga korban, maupun masyarakat mendadak membuat pengadilan sendiri untuk mengadili “tersangka”. Polisi pun terkesan terburu-buru ketika memberikan status tersangka kepada Jessica, tanpa menggunakan asas praduga tak bersalah yang sudah seharusnya menjadi hak semua orang yang belum terbukti bersalah. Polisi hanya beralasan, agar Jessica tidak melarikan diri dan tidak menghilangkan barang bukti, ketika memutuskan menahan Jessica dan memberikannya status tersangka. 

Huft…. Saya tidak bisa memberikan komentar apapun setiap membaca berita tentang Jessica – Mirna ini, karena saat ini masyarakat Indonesia sedang sangat mudah dipecah belah oleh Pro-Kontra. Apalagi “gossip” dibelakang kasus ini adalah cinta sejenis, yang juga sedang hot-hotnya dibahas di Media. Inilah yang membuat saya malas berdebat di kolom komentar di setiap berita, karena orang Indonesia lebih mendahulukan opini pribadi dan kata “Pokoknya”, dibandingkan dengan logika sehat dan tulisan-tulisan karya ilmiah. 

Saya hanya bisa memberikan EMPATI terhadap kasus Jessica-Mirna. 

**** 

Keluarga Mirna 

Saya bisa merasakan rasa sakit hati, marah, dan dendam, yang dialami keluarga Mirna saat mengetahui orang tersayang mereka meninggal mendadak, apalagi meninggalnya tidak secara normal. Di tinggal wafat oleh orang tersayang karena serangan jantung atau kecelakaan saja sudah sangat shock, apalagi karena dibunuh (atau terbunuh). 

Namun apakah tidak sebaiknya, menyerahkan kasus ini ke penyelidikan kepolisian, dari pada tampil di media massa dengan emosi dan memperkeruh suasana? Bagaimana kalau ternyata kecurigaan mereka tidak terbukti? 

Jessica 

Saya pernah tinggal di luar negeri dalam rangka belajar, meski tidak selama Jessica dan Mirna tinggal di Australia. Ketika tinggal di luar negeri, saya pun memiliki banyak teman yang pada waktu itu menjadi teman senasib. Sebagai sesama anak Indonesia yang tinggal diperantauan, otomatis kami sering berkumpul entah sekedar untuk makan bersama, belajar, jalan-jalan, atau pun sekedar minum-minum cantik dan bergosip. Maklum, kami jauh dari keluarga saat itu. 

Sepulangnya kami dari luar negeri itu, kami berusaha untuk masih saling kontak-kontakan, via Whatsapp, Facebook, dan social media lainnya, meski tentu saja tidak bisa sesering dan sedekat ketika kami masih sama-sama di perantauan. Bila ada waktu, atau bila ada teman lama yang datang ke Jakarta, kami pun mengusahakan untuk berkumpul, sekedar untuk mengenang masa-masa kami masih bisa sering bersama. 

Meski bukan sebuah kebiasaan, namun beberapa kali kami saling bergantian mentraktir ketika berkumpul bersama. Buat saya pribadi, mentraktir teman lama adalah sebuah aktualisasi diri untuk menyatakan “Sist, gw udah cukup sukses sekarang. Minum-minum cantik begini doang mah udah lha, gw yang bayar aja. Next baru lo yang bayar.” 

Pengalaman saya diatas miripkan dengan latar belakang kasus yang menimpa Jessica? 

Beberapa orang yang berteman sejak sekolah dari Australia, janjian kumpul bersama setelah sekian lama tidak berjumpa. Salah satu dari mereka, ingin mentraktir teman-temannya. Lalu bertemulah mereka di sebuah café di Mall mewah di Jakarta. Saling berpelukan dan cipika-cipiki. 

Satu-satunya yang membedakan dari cerita saya dan Jessica adalah tidak ada teman saya yang meninggal ketika kami berkumpul bersama, apalagi ketika saya yang giliran mentraktir teman-teman saya. Terima kasih Tuhan untuk hal itu. 

Jujur saja, dengan kemiripan pengalaman saya dan Jessica, saya sering membayangkan diri saya berada di posisi Jessica saat ini. Menjadi tersangka karena ada teman yang meninggal ketika saya mentraktir minuman. Padahal belum tentu saya tau tentang minuman beracun tersebut. Seandainya saya yang berada di posisi Jessica saat ini, belum tentu saya bisa sekuat dia. Apalagi dengan latar belakang depresi yang saya miliki, bisa-bisa begitu dijadikan tersangka, saya akan berusaha bunuh diri duluan. 

Yang paling menyakitkan dari kasus Jessica ini adalah PENGADILAN SOSIAL yang langsung terjadi sejak beberapa jam setelah kasus tersebut beredar di social media, bahkan sebelum polisi memeriksa dan mengautopsi korban. Hanya 3 jam setelah info pertama tentang kematian Mirna saya terima, saya sudah mendapat 3 versi cerita dibalik kematian tersebut. Luar biasa kan? 

Versi pertama, adalah tentang hubungan sejenis antara Mirna dan Jessica, yang membuat Jessica membunuh Mirna karena cemburu setelah ditinggal menikah. Versi kedua, adalah Jessica membunuh Mirna karena merebut kekasihnya. Versi ketiga, adalah Mirna meninggal karena kebanyakan minum obat diet, dan langsung minum kopi tanpa makan terlebih dahulu. 

Pada akhirnya versi pertamalah yang di besarkan media, dan keluarga korban, khususnya kasus ini terjadi hampir bersamaan dengan issue LBGT yang tiba-tiba “meledak” juga di media social. Ntah benar atau tidak, sampai saat ini belum ada bukti, kecuali atas pengakuan keluarga korban, dan pengadilan social media yang tampak sudah tidak adil bagi Jessica. Namun melihat foto-foto masa lalu Jessica, Mirna, dan teman-teman lainnya yang beredar di social media, mengingatkan saya kembali pada diri saya sendiri dan teman-teman saya, sehingga jauh di dalam lubuk hati saya, saya mempercayai bahwa Jessica tidak punya hati untuk mencelakakan Mirna.

Dibawah ini, adalah berita-berita tentang kejanggalan-kejanggalan pada kasus Jessica-Mirna yang dikutip dari sumber yang bisa dipertanggung jawabkan :

http://news.detik.com/berita/3131104/pakar-psikologi-forensik-ini-yakin-jessica-bukan-pembunuh-mirna 

http://www.tribunnews.com/nasional/2016/02/05/lima-kejanggalan-kasus-mirna-versi-komnas-ham

http://www.tribunnews.com/metropolitan/2016/02/05/pakar-hukum-jessica-orang-salah-di-tempat-yang-salah 

http://www.beritasatu.com/megapolitan/347439-hotman-paris-yakin-jessica-bebas-di-pengadilan.html

Tuesday, July 7, 2015

Same sex marriage

Beberapa hari ini seluruh dunia sedang heboh dengan pro kontra legalisasi pernikahan sejenis di Amerika. Yang memutuskan melegalkan pernikahan sejenis Amerika, tapi yang heboh malah Indonesia. 

Malam ini pun di sebuah stasiun TV telah menayangkan acara debat tentang Pro Kontra Same Sex Marriage ini dengan nara sumber anggota MUI dan aktivis LGBT Indonesia. Dan ujung-ujungnya tetap saja menurut pihak yang kontra, homosexualitas dianggap berdosa dan harus direhabilitasi.

Memang sih dengan dilegalkannya pernikahan sejenis di Amerika, yang sebelumnya terkenal diskriminatif, membuat semua LGBTIQ di seluruh dunia, khususnya di negara-negara yang masih homophobia apalagi di negara yang masih mengkriminalisasi homoseksual, merasa mendapat harapan untuk bisa menikahi kekasih hati mereka di kemudian hari.

Apakah dengan dilegalkannya same sex marriage maka semua orang akan berubah orientasi sexual? Apakah benar sekarang pernikahan itu masih berharga untuk setiap pasangan? Kalau iya, kenapa jumlah perceraian semakin banyak? Dan kenapa semakin banyak pula orang-orang heterosexual yang tidak tertarik untuk menikah?

Tuesday, October 21, 2014

20 Oktober 2014


Hari ini akan hari bersejarah bagi rakyat Indonesia. Hari ini Presiden terpilih Joko Widodo beserta Wakil Presiden terpilih Jusuf Kalla resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2014 – 2019.

Hari ini telah menghapus ketakutan-ketakutan banyak orang termasuk aku bahwa akan terjadi keributan pasca Pemilu 2014 atau terjadi pemboikotan atas pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih.

Siapa yang tidak khawatir, kalau sampai beberapa hari menjelang pelantikan kedua kubu koalisi masih saling serang khususnya untuk masalah revisi undang-undang dan peraturan baru. Mantan calon Presiden dari kubu Koalisi Merah Putih, Prabowo Subianto, juga masih tidak mau mengakui kemenangan Presiden dan Wakil Presiden terpilih.  Meski pada akhirnya, Tuhan berhasil mengetuk hati beliau.

Pertemuan Prabowo dan Jokowi hari jumat tanggal 17 Oktober 2014 yang lalu, menjadi pertemuan bersejarah dan sangat mengharukan. Foto keduanya saat saling memberi hormat dengan gaya masing-masing dan berpelukan, adalah gambar yang paling bersejarah dalam peristiwa ini.

Hari ini, saat pelantikan Presiden dan Wakil Presiden periode 2014 – 2019, saya yakin sosok Bapak Prabowo Subianto adalah yang paling ditunggu oleh rakyat untuk hadir di acara pelantikan, selain Jokowi dan JK selaku kedua tokoh utama hari ini.

Dan sekali lagi, Prabowo dan Jokowi berhasil membuat banyak mata menitikan air mata haru, atau bulu roma yang merinding, saat beliau memberi hormat dengan gaya militer kepada Presiden Jokowi yang menyapanya dengan sebutan SAHABAT.


Ketegangan yang terjadi berbulan-bulan kemarin cair sudah hari ini. Tembok pemisah kedua kubu yang terbangun berbulan-bulan kemarin runtuh sudah hari ini. Nomor 1 atau nomor 2 sudah tidak ada lagi, karena saat ini sudah resmi hanya ada nomor 3, yaitu PERSATUAN INDONESIA.

***

Hari ini rakyat Indonesia mengadakan syukuran besar-besaran. Bahkan dilakukan serempak di semua kota. Rakyat Indonesia bersyukur akhirnya Presiden yang berasal dari rakyat jelata, yang dipilih dan diperjuangkan mati-matian oleh rakyat akhirnya resmi dilantik.

Biaya acara pelantikan hari ini, menurut berita adalah 1 Milliar rupiah. Jauh lebih murah dari pernikahan selebriti Indonesia yang digelar sehari sebelumnya. Namun hari ini bisa terselenggara konser besar-besaran, makanan gratis tersedia sepanjang jalan, bahkan band terkenal dari luar negeri ikut menghibur.

Ternyata semua berasal dari sumbangan rakyat. Jerih payah relawan. Yang punya uang menyumbang uang, yang punya barang menyumbang barang, yang punya waktu dan tenaga menyumbang waktu dan tenaga. Semangat sukarela yang lagi-lagi membuatku merinding dan menitikan air mata haru. Pesta syukuran hari ini sungguh-sunggu dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.


Baru kali ini kisah pelantikan Presiden dan Wakil Presiden malah mengingatkanku akan kisah di alkitab tentang 3 roti dan 2 ikan yang dapat memberi makan 5000 orang. Dengan dana hanya 1 milliar rupiah, namun dapat memberi makan kurang lebih 150,000 rakyat yang hadir dan membuat perayaan dari pagi hingga malam, serempak di semua kota, dan menghadirkan banyak artis ternama Indonesia bahkan band luar negeri.

Hari ini aku tidak ikutan turun ke jalan untuk mengantar Presiden dan Wakil Presiden terpilih ke Istana Negara. Namun euforia hari ini ikutan membuatku tidak konsentrasi dalam bekerja dan selalu ingin mengupdate berita terakhir. Apalagi melihat cerita dan foto-foto dari teman-teman yang ikut sampai ke Monas. Dan membaca berita tentang orang-orang yang beruntung dapat menjadi perwakilan rakyat jelata dalam menerima potongan tumpeng langsung dari Presiden jokowi. Tidak heran kalau majalah TIME mengangkat Jokowi sebagai Cover majalah dengan judul A NEW HOPE.

Ya beliau adalah harapan baru rakyat Indonesia.

Aku tidak bisa mengucapkan apa-apalagi. Selamat untuk pelantikan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Semoga kalian dapat terus menjaga kepercayaan rakyat yang sangat mencintai kalian dan sudah memperjuangkan kalian mati-matian. Salam 3 jari, PERSATUAN INDONESIA.


Sunday, November 18, 2012

Semarang & Karimun Jawa

Apa yang paling membahagiakan selain dapat juara di perlombaan, tampil sambil ditemenin pacar, dan bisa liburan cukup lama sama pacar di suatu pulau yang cukup terpencil?

Yeah… aku harus bersyukur sama Tuhan atas semua anugerah yang Tuhan berikan ke aku meski dalam bentuk hal-hal yang sederhana. Sesederhana dapat juara 3 di perlombaan paduan suara tingkat nasional di kota Semarang akhir bulan kemarin. Sesederhana kehadiran kekasihku yang bener-bener tepat waktu untuk menonton penampilanku bersama teman-teman di acara lomba tersebut. Sesederhana aku dan kekasihku dapat berlibur berdua saja di kepulauan Karimun Jawa.

Saking bahagianya di liburan kemarin, aku sampai tidak dapat menceritakan banyak tentang kepulauan tersebut dalam kata-kata. Nanti kalian cari infonya sendiri aja yah. Yang pasti, Karimun Jawa tempat yang wajib di kunjungi oleh para pecinta pantai dan laut.

Pasirnya bersih banget
Sunset at Karimun Jawa
Romantisnya
Bakar ikan untuk makan siang
Bagus yah
Dermaganya

Penangkaran Hiu di Karimun Jawa
Indahnya pasir putih di Karimun Jawa

Kuil Sam Po Kong di malam hari

Sunday, September 30, 2012

Yogyakarta

…Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu…” 

 Lagu Yogyakarta yang pernah di populerkan oleh KLA Project mengiringi perjalanan dinasku ke Yogyakarta. Kota kelahiranmu dan juga kota yang penuh kenangan indah bersama sahabat-sahabatku di masa ABG.

…Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna. Nikmati bersama… Suasana Jogja… Di persimpangan langkahku terhenti, Ramai kaki lima Menjajakan sajian khas berselera. Orang duduk bersila. Musisi jalanan mulai beraksi…

Malioboro. Daerah Hotel tempatku menginap. Meski harga-harga makanan disana cukup mahal, namun suasana Yogyakarta benar-benar terasa disitu. Angkringan dan warung lesehan sepanjang jalan, para penjual pakaian dan pernak-pernik, juga musisi jalanan yang masih tetap beraksi setiap malam menghibur para turis dan pejalan kaki. Suasana yang masih sama persis seperti yang di gambarkan dalam lagu milik KLA Project meski lagu tersebut dipopulerkan belasan tahun yang lalu.

Alun-alun kota pun masih menjadi tempat yang asik dikunjungi di malam minggu. Suasana romantis, saat bermain di tanah lapang di bawah cahaya rembulan, dan berjalan pulang dengan menggunakan transportasi becak membuatku semakin merindukanmu.

Sunday, June 5, 2011

Vietnam (Part 3)

Di hari ke-3 di Vietnam, aku sengaja tidak mengambil city tour karena setelah makan siang aku kan berangkat ke Hanoi untuk menikmati wisata alam di Halong Bay. Untungnya Hotel tempatku menginap sangat dekat dengan objek tujuan wisata. Sehingga setelah sarapan dan packing, aku bisa berjalan-jalan ke sekitar daerah Hotel sekalian mencari kantor pos untuk mengirimkan kartu pos kepada sahabatku yang berada di Italy.

Ternyata kantor pos terdekat dari Hotelku adalah kantor pos tertua di Ho Chi Minh, dan di depannya persis terdapat Gereja Katedral di Ho Chi Minh. Keduanya ternyata merupakan objek wisata yang paling sering di kunjungi wisatawan asing. Akhirnya sekalian aku mengirimkan kartu pos, sekalian aku foto-foto di kedua tempat tersebut.


Sebenarnya saat itu aku ingin sekali bisa masuk ke dalam gereja Katedralnya, sekalian berdoa di situ. Sayangnya saat itu ternyata sedang ada sakramen pernikahan sehingga gereja di tutup untuk umum untuk sementara waktu. Mereka memintaku untuk menunggu sehingga acara selesai bila masih ingin masuk ke dalam, namun karena keterbatasan waktu aku memilih untuk kembali ke hotel saja.

Setelah makan siang bersama tanteku, aku segera menuju airport untuk melanjutkan perjalananku ke kota Hanoi. Menurut jadwal seharusnya pesawatku akan take off sekitar jam 1.30 siang, namun ternyata penerbanganku di tunda sampai tiga kali dan baru take off sekitar pukul 5.30 sore. Dan yang sangat aku sayangkan, pemberitahuan keterlambatan tersebut hanya 30 menit sebelum waktu boarding yang seharusnya.

Karena keterlambatan tersebut, aku yang seharusnya sampai di Hanoi pukul 4.30 sore akhirnya baru tiba di sana pukul 8.30 malam. Aku langsung mencari taksi dan menuju hotel yang sudah di pilihkan oleh tanteku. Sekali lagi aku merasa sangat beruntung karena memiliki tante yang bekerja di bidang Tour and Travel, karena hotel yang dia pilihkan kembali ada di pusat kota sehingga dekat kemana-mana.

Sesampainya di hotel, aku segera check-in dan mencari makan malam. Staff hotel disana menyarankanku untuk pergi ke salah satu kedai dekat situ dan mencoba sejenis makanan khas Vietnam yang di jual disana. Karena aku tidak tau apa nama makanan tersebut, aku hanya memesan dengan menunjuk-nunjuk. Akhirnya aku mendapat setengah porsi ketan kuning yang di makan dengan potongan ayam rebus, kentang rebus, dan bawang goreng. Untung rasanya enak di lidah. Hehehhe... Setelah makan malam, aku langsung balik hotel, mandi, terus tidur.

Keesokan paginya setelah sarapan, aku di jemput oleh city tour setempat untuk pergi ke salah satu objek wisata paling terkenal di Hanoi yang juga merupakan UNESCO World Heritage Site, yaitu Halong bay. Perjalanan dari Hanoi ke Halong Bay kurang lebih 3 jam. Sesampainya kami di pelabuhan, tour kami bergabung dengan beberapa tour lain untuk bersama-sama naik kapal menuju Halong Bay.
Halong Bay sendiri merupakan sebuah teluk yang di tengah-tengahnya terdapat formasi dari beberapa bukit-bukit batu yang terbentuk secara alami karena iklim tropis yang basah selama 500 juta tahun.
Awalnya aku mengira tour ke Halong bay itu seperti tour ke pulau seribu atau tour Quicksilver di Bali, yang kami pergi mengunakan kapal menuju ke sebuah pantai di tengah teluk, lalu kami dapat berenang-renang atau bermain air disana. Ternyata tour di Halong Bay sedikit unik karena selama setengah hari itu, kami nyaris selalu berada di kapal, berfoto-foto dan makan siang pun di dalam kapal. Kami hanya turun sebentar di sebuah dermaga yang ternyata adalah Seafood Market, bermain perahu kayak, dan ke sebuah pulau yang memiliki gua dengan staglagmit alami yang sangat indah. Uniknya lagi, selama di dalam kapal tersebut, banyak perahu-perahu lain yang lebih kecil yang menghampiri perahu kami sekedar untuk menawarkan barang dagangan. Ternyata disitu juga ada pasar terapung seperti yang ada di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.


Aku kembali tiba di Hanoi dari wisata alam di Halong Bay, sekitar pukul 8 malam. Aku hanya punya waktu 30 menit untuk bersiap-siap karena teman lamaku Lina sudah menjemputku untuk makan malam bersama.

Lina adalah temanku yang aku kenal ketika aku berwisata di Inner Mongolia tahun 2008. Karena janjiku untuk menemuinya juga yang akhirnya membawaku menjejakan kaki di Vietnam. Kenapa harus bertemu di Vietnam?? Karena vietnam adalah negara terdekat yang paling mungkin untuk aku tempuh saat ini untuk menemuinya. Karena ia juga bukan orang Asia Tenggara, dan pekerjaannya memang mengharuskan dia untuk berpindah negara hampir setiap 1-2 tahun sekali.

Sebenarnya saat itu aku sudah pasrah, kalau pada akhirnya aku tetap tidak bisa menemui Lina karena kesibukannya yang luar biasa. Tapi sepertinya aku masih berjodoh dengannya karena mendadak ia juga mendapat tugas di Hanoi pada hari yang sama aku pergi ke Hanoi. Sehingga kami masih bisa mengatur jadwal untuk makan malam bersama meski hanya 2 jam saja. Dan kami berjanji untuk bertemu lagi suatu saat entah di negara mana lagi.

Berakhirnya malam itu, berakhir pula liburanku di Vietnam. 2 hari yang tersisa di Vietnam, aku hanya menemani tanteku bekerja, dan belajar menjadi consultant untuk orang-orang yang ingin berlibur ke Vietnam. So, kalau ada yang mau berlibur ke Vietnam kontak aku yah. Oh ya ada sedikit tambahan informasi, kalau kalian mencari Hotel di Hanoi untuk akomodasi, kalian juga bisa browsing di website Agoda.


Grey_S

Monday, May 23, 2011

Vietnam (Part 2)

Karena hari pertama aku tiba di Ho Chi Minh sudah cukup malam, maka hari pertama aku hanya sempat makan malam di restorant Jepang dekat hotel, lalu berjalan-jalan sebentar di pasar malam Ben Thanh, dan lalu segera kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat.

Pagi harinya, sekitar jam 8.30 aku di jemput oleh pihak City Tour untuk berangkat ke Chu Chi Tunnel, yaitu daerah yang memiliki terowongan-terowongan bawah tanah yang di bangun ketika jaman perang. Terowongan-terowongan itu di buat sebagai tempat tinggal sekaligus tempat persembunyian kala itu.

Chu Chi Tunnel, menurut Tour Leader kami saat itu, masih di kategorikan sebagai hutan. Tidak heran sepanjang perjalanan untuk menuju kesana harus melewati kompleks pemakaman dan hutan karet, belum lagi di daerah Chu Chi Tunnel masih sangat banyak Lengkibang berkeliaran dimana-mana. Awalnya tentu saja aku kaget dan sangat jijik, tapi lama kelamaan aku menjadi terbiasa melihat lengkibang berkeliaran. Hanya ketika mau duduk beristirahat atau berfoto aku harus melihat sekeliling dulu, takut kejatuhan lengkibang.


Melihat arsitektur terowongan-terowongan yang ada si Chu Chi Tunnel membuatku sangat kagum dengan orang-orang Vietnam kala itu, karena mereka sanggup membuat tempat tinggal, tempat persembunyian, dan jebakan-jebakan di dalam tanah sekaligus.


Dan yang paling membuatku kagum adalah mereka bisa membuat dapur umum di bawah tanah, tanpa membuat perapian disitu kekurangan oksigen, tanpa membuat daun-daun yang menutupi atapnya terbakar, dan tanpa bisa di lacak oleh musuh karena cerobong asap dari dapur umum tersebut terletak minimal 100 meter dari lokasi dapur umum.

Namun meski aku mengagumi cara mereka bertahan hidup, pergi ke Chu Chi Tunnel membuatku bersyukur aku di lahirkan bukan di jaman perang. Karena aku tidak bisa membayangkan kalau aku harus mendengarkan suara tembakan setiap hari, harus tinggal di lorong-lorong kecil itu setiap hari, dan harus singgap untuk bersembunyi setiap saat.

Oh ya, di Chu Chi Tunnel kebetulan ada area untuk mencoba belajar menembak dengan senapan sungguhan dan peluru tajam. Biaya untuk membeli peluru-peluru itu pun tidak terlalu mahal, kurang lebih 150,000 – 400,000 VND per 10 peluru tergantung jenis peluru dan senapan yang ingin digunakan.

Aku mencoba menembak dengan senapan model M60 (kalau tidak salah), baru saja masuk tembakan ketiga telingaku sudah berdenging, padahal aku sudah menggunakan pelindung telinga. Belum lagi selongsong-selongsong peluru yang masih panas berloncatan keluar setiap kali aku menembak, membuat 10 butir peluru itu sangat banyak untukku.


Sepulang dari Chu Chi Tunnel, waktu masih siang. Aku menemui mama dari tanteku dulu, lalu kami makan siang bersama di kedai depan hotel. Lalu setelah itu kami pergi berbelanja di pasar Ben Thanh, yang hanya berjarak kurang lebih 10 menit jalan kaki dari hotelku.

Pasar Ben Thanh mirip-mirip dengan pasar Pagi di Jakarta. Disana dijual segala jenis pernak-pernik dan oleh-oleh khas Vietnam. Dan yang paling banyak tentu saja kaos, gantungan kunci, magnet kulkas, dan kopi Vietnam.

Belanja di pasar, mau di Indonesia, di China, maupun di Vietnam tentu saja harus bisa menawar harga. Begitu juga di pasar Ben Thanh, kita harus menawar minimal 60% dari harga yang mereka buka karena dari situ kita baru akan mendapatkan harga tengah yang cocok untuk barang yang kita ingin beli dan ada baiknya juga kita membandingkan harga dari toko lain.

Habis puas berbelanja aku pulang ke hotel, dan bersiap-siap untuk makan malam bersama dengan keluarga tanteku. Kami makan malam di Restaurant Quan An Ngon, restaurant yang menjadi tujuan wisata kuliner nomor dua di Vietnam. Namun seperti kebanyakan restaurant di Vietnam, makanan-makanan di Quan An Ngon juga kebanyakan mengandung pork.

Selesai makan di Quan An Ngon, kami berjalan-jalan sebentar sebelum kembali ke hotel. Kami berfoto-foto sebentar di taman yang kami lewati. Sekali lagi aku kagum dengan Vietnam, meski negara ini bukanlah negara yang kaya dan penduduknya juga masih sulit untuk menaati peraturan lalu lintas yang berlaku, namun mereka sangat menjaga tata kota.

Masih banyak taman-taman yang dapat di jadikan tempat bersantai dan bermain bagi penduduk disana. Tamannya pun di lengkapi dengan berbagai peralatan olahraga yang di Indonesia mungkin hanya bisa di temui di tempat gymnasium. Belum lagi pohon-pohonnya yang sangat rindang membuat nyaman orang-orang yang ingin beristirahat sejenak setelah berjalan kaki seharian.

Meski melelahkan, hari itu aku sangat menikmati jalan-jalanku.


*** to be continued ***

Wednesday, May 18, 2011

New Journey : Vietnam (Part 1)

Seperti yang pernah aku katakan beberapa waktu yang lalu, meski aku sudah semakin jarang online dan beberapa account atas nama Grey sudah tidak aktiv lagi, namun Perjalanan Grey akan terus berlanjut.

Dalam perjalanan kali ini, aku sedang berkunjung ke Vietnam. Negara dimana tanteku sedang mencari sesuap nasi dan segenggam berlian, dengan membuka bisnis Tour and Travel. Jadi jangan kaget yah kalau suatu saat Blog Perjalanan Grey ini tiba-tiba berubah menjadi Biro Perjalanan Grey, karena memiliki bisnis sendiri khususnya dalam bidang Tour and Travel juga merupakan salah satu impianku. Sehingga saat kemarin tanteku menawarkan peluang tersebut, mendadak aku merasa impianku berada di depan mata.

Ok back to topic. setelah sekian lama mempersiapkan perjalanan kali ini, dan banyaknya rintangan sebelum berangkat (dari target pekerjaan yang tidak selesai-selesai, tiket yang sempat di batalkan sepihak oleh maskapai penerbangan AA, salah terminal, sampai penerbangan yang di delay) akhirnya hari kamis sore tanggal 12 May 2011 pukul 17.00 aku berangkat juga ke Ho Chi Minh City.

Di dalam pesawat aku bertemu salah seorang anggota inti Q-munity yang ternyata sedang berlibur ke Vietnam juga bersama ibunya. Karena hotel tempat kami menginap berlokasi tidak terlalu jauh, kami pun berbagi taxi yang sama. Taxi yang kami gunakan saat itu adalah Vinasun. Di Vietnam, taxi yang direkomendasikan adalah Vinasun atau Mailinh Taxi. Dan dikarenakan warga Vietnam mayoritas tidak dapat berbahasa asing, ada baiknya memesan taxi lewat jasa pemesanan yang tersedia di bandara. Meski sedikit lebih mahal dari pada mengambil taxi dari luar tapi setidaknya di bandara ada yang bisa membantu kita untuk berkomunikasi.

Oh ya, sekedar informasi. Ada baiknya dari Indonesia membawa mata uang dollar saja, dan baru di tukarkan ke dalam Vietnam Dong sesampainya di bandara Vietnam. Hal ini dikarenakan sulitnya mencari VND di Indonesia, seandainya ada pun jumlahnya terbatas dan nilainya lebih mahal dari yang seharusnya.

Penginapanku berada di distric 1, daerah tersebut merupakan pusat kota, sehingga banyak sekali pilihan hotel di daerah tersebut dan harganya kurang lebih seragam, sekitar US$ 50 / malam untuk hotel bintang 3-nya. Kalau yang memang ingin jalan-jalan, menginap di Hotel bintang 3 sudah lebih dari cukup, karena standard hotel bintang 3 disana cukup bagus, dan sangat bersih.

Selama di Ho Chi Minh aku menggunakan hotel Kingston, yang merupakan rekomendasi ke-2 dari tanteku. Rekomendasi pertama adalah hotel Blue Diamond, sayangnya saat itu Hotel Blue Diamond sedang terisi penuh. Namun meski aku menginap di Hotel Kingston, nyaris setiap hari aku menemani tanteku meeting di Hotel Blue Diamond. Dan aku sangat puas dengan pelayanan dari kedua hotel tersebut.

Kedua hotel tersebut, sangat dekat dengan pasar Ben Than (Pasar pagi-nya Ho Chi Minh dan merupakan salah satu pasar yang paling terkenal disana), kurang lebih hanya 5 menit berjalan kaki dari Hotel menuju pasar Ben Than. Aneka jenis barang di jual di pasar tersebut, dari pernak-pernik, pakaian, sepatu, tas, sampai beraneka makanan khas Vietnam di jual di pasar tersebut.

Btw, ceritanya aku lanjut besok lagi yah. Ngantuk neh...

*** To be continued ***

Tuesday, July 13, 2010

Tidung Island, you drive me crazy…

Hari gini belum pernah dengar nama Pulau Tidung?? Please dong ah. Gaul ngga sih lo?

Mungkin itu jawaban yang akan kamu dengar, kalau sampai kamu bertanya kepada temanmu “Pulau Tidung? Dimana tuh? Pulau apa sih??”

Pulau Tidung adalah salah satu pulau di Kepulauan seribu yang sedang popular saat ini, di samping pulau Pramuka ataupun pulau Untung Jawa. Untuk pergi ke pulau Tidung, kalian harus berangkat dari Muara Angke menggunakan kapal, dengan lama perjalanan kurang lebih tiga jam.

Tapi tolong jangan bayangkan kalau kalian akan menggunakan kapal pesiar, karena kapal-kapal yang dari Muara Angke semuanya hanyalah kapal nelayan yang di sewa untuk mengangkut penumpang. Tidak ada tempat duduk, kecuali tikar-tikar yang di sediakan untuk para penumpang agar dapat lesehan.

Tapi inilah seni ke pulau Tidung. Karena pulau Tidung terkenal sebagai pulau para backpacker. Dan hari sabtu kemarin saya bersama 21 teman lainnya, pergi ke pulau Tidung tersebut untuk mencoba menjadi backpacker selama dua hari.

Sebagai pulau para backpacker, maka jangan harap kalau kalian akan menemukan cottage mewah seperti yang ada di kepulauan Maldives. Di pulau Tidung kalian akan menginap di perumahan penduduk. Tapi jangan khawatir, semua penginapan tersebut bisa dijamin kenyamanannya.

Bahkan untuk mencari makanan bila kalian kelaparan juga tidak sulit. Hampir setiap lima puluh meter akan ada warung yang menjual makanan dan minuman ringan.

Pulau Tidung terbagi menjadi dua pulau, yaitu Tidung besar dan Tidung kecil. Namun kedua pulau tersebut dihubungkan dengan sebuah jembatan penghubung, yang terkenal dengan sebutan Dermaga Cinta. Jembatan penghubung atau Dermaga cinta ini cukup panjang untuk sekedar berjalan-jalan menikmati pemandangan laut yang sangat indah.

Jalan menuju Dermaga Cinta adalah jalan setapak yang dapat dilalui dengan bersepeda, menggunakan becak, ataupun sepeda motor. Tapi sebagai orang yang sudah bosan menggunakan kendaraan bermotor, saya dan teman-teman lebih memilih bersepeda untuk melewati jalan tersebut. Ternyata berjalan iring-iringan menggunakan sepeda, sambil bercanda benar-benar mengasyikan. Seakan-akan kami bernostalgia ke jaman kami masih anak-anak.

Di pintu masuk menuju Dermaga, kami harus memarkir sepeda kami dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sepanjang area menuju dermaga kami kembali menemukan banyak warung-warung makanan dan minuman ringan dengan harga yang cukup terjangkau.

Di awal Dermaga Cinta ini, akan ditemui jembatan yang cukup tinggi untuk melalui suatu cekungan laut yang agak dalam, dimana pengunjung dapat ikut serta bersama anak-anak setempat mencoba melakukan loncat indah, atau lebih dikenal dengan sebutan Bridge Jumping.

Namun kita harus hati-hati saat melakukan Bridge Jumping ini, karena kalau sampai salah gerakan, kemungkinan besar kamu akan mendapat cedera, seperti yang terjadi pada saya kemarin. Saat menulis ini, pinggang saya masih sakit karena salah gerakan ketika mencoba Bridge Jumping.

Selain Bridge Jumping, kalian bisa menikmati snorkeling bagi yang hobi berenang di laut ataupun sekedar bermain air di pinggir pantai. Bagi para pecinta photography, sudah tidak di ragukan lagi kalau kalian akan sangat betah di pulau tersebut karena banyak objek foto yang wajib kalian abadikan. Bagi yang hobi mancing, kalian tinggal membawa umpan dan peralatan mancing, lalu silahkan duduk di tepi dermaga, kalian dapat memancing GRATIS….

Saya sendiri pecinta laut dan tergila-gila untuk berenang di laut, jadi snorkeling seharian plus berenang, mancing, dan bridge jumping selama dua hari kemarin, masih belum cukup untuk melepaskan rindu saya kepada laut. Kayaknya saya harus pergi lagi neh untuk snorkeling dan kembali melepas rindu pada laut. Atau saya pindah kerja ke tepi pantai saja yah…

Hmmmmm… Tidung, you drive me crazy….


Grey_S

Friday, July 3, 2009

My greatest holiday


Mulai tanggal 26 Juni kemarin aku sudah tidak ada kelas lagi alias LIBUR TELAH TIBA… LIBUR TELAH TIBA… HORE… HORE… HATIKU GEMBIRA… (nyanyi deh).
Tapi berhubung dengan berakhirnya kelas, berakhir pula perjalananku di negeri panda, jadi agak sedih-sedih juga seh. Apalagi sekarang roommate-ku sudah pulang ke negerinya. Ga ketemu dia lagi deh… Hiks hiks T_T

Nah karena perjalananku disini sudah hampir berakhir, maka sebelum itu aku mau muas-muasin main disini. Kebetulan juga disini masih ada saudara jauuhhhhh sekaliiiii. Jadi seminggu kemarin, waktu aku menghilang dari peredaran, itu bukan karena ada masalah tapi karena aku lagi di rumah saudara dan ga bisa OL. Bisa seh harusnya tapi harus minjem internetnya sepupu, dan dia OL hampir seharian buat main game, download-download, dll. Jadi ga enak deh mo gangguin dia.

Jadinya kemarin aku ke HongKong dan Macau. Ngomong-ngomong Hongkong dan Macau itu masih termasuk China juga kan yah??? Maklum lha geography-ku dapat nilai 4 di rapor.

Dari dulu aku pengen banget ke HongKong dan Macau tapi ga ada waktu dan ga punya duit pastinya. Tapi dari BJ ke HK itu ternyata murah banget. Aku dapat tiket pesawat cuma 1,388RMB sudah yang PP. Dan beruntungnya aku, disana aku ga perlu bayar buat tinggal karena ada saudara. Jadi tinggal di rumah dia deh. Makan segala juga mereka yang traktir. Termasuk pergi-pergi ke The Peak, Ocean Park dll. Hehhehehe….

Khusus buat acara ke Disneyland, ada sepupu yang kerja disana jadinya aku bisa dapat 3 tiket gratis. Dan berhubung dia mau melanjutkan sekolah, akhir bulan July ini dia mau resign dari Disneyland. Jadi bisa di bilang aku sepupu jauh terakhir yang bisa menikmati tiket Disneyland gratis dari dia.

Trus waktu ke Macau, aku iseng-iseng main ke Casino. Yah sekedar mewujudkan impian masa kecil seh. Impian menjadi GOD of GAMBLER. Gara-gara nonton film Chow Yun Fat mulu. Dan ternyata eh ternyata, dalam 30 menit kurang, aku beneran menang $380 HK. Dan setelah itu aku ga berani lanjutin game-nya lagi takut akhirnya malah kalah. Sebenernya seh karena waktu buat mainnya emang terbatas banget. Soalnya di Macau aku ga nginep. Makanya cuma bisa main 30 menitan, sisanya keliling kota Macau, nyoba-nyoba makanan, belanja oleh-oleh dll. Btw, yang belanja bukan aku lho, tapi tanteku yang kalap ngeliat barang-barang murah.

Berhubung aku dapat tiket super murah. Jadinya perjalanan harus transit sana-sini. Makanya aku sudah planning di HK 7 hari, tapi 1 hari buat berangkat, 1 hari buat pulang, jadi cuma bisa main 5 hari. Jadilah setiap hari jalan-jalan melulu, dan pulang selalu sekitar jam 12an malam. Sampai hari terakhir udah ga kuat lagi, jadi cuma liat panda doang di Ocean Park. Abis itu minta pulang.

Yang bikin aku kecapean, pesawat-pesawat China karena murah jadinya sering telat juga. Pulang maupun pergi aku delay sampai 4 jam. Hitung-hitung lama perjalanan dari BJ-HK dan BJ-JKT jadi sama aja. Sama-sama 8 jam.
Yah begitulha cerita perjalananku kali ini. Aku bener-bener bersyukur bisa punya saudara di mana-mana dan bisa menikmati perjalanan gratis ini.

PS : aku baru liat dengan mata kepala sendiri, kalau di HK emang banyak mba-mba Butchi. Aku juga ketemu banyak couple di mana-mana dan mereka beneran ga malu-malu pacaran di tempat umum. Bikin iri deh.


Grey_S

Monday, May 4, 2009

Perjalanan sejarah dari Xi’an


Setiap tanggal 1 Mei di China merupakan hari libur untuk merayakan Labor Day atau kadang disebut May Day. Karena kebetulan 1 Mei kali ini jatuh di hari Jumat makanya aku memiliki waktu yang cukup untuk liburan ke luar kota. Aku memilih Xi’an untuk liburan kali ini.

Sebenarnya aku penasaran sekali ke Xi’an cuma karena disana ada Terracotta. Terracotta adalah patung-patung prajurit yang terbuat dari tanah liat. Konon patung-patung tersebut di buat atas keinginan Kaisar pertama China QinShiHuang yang tidak mau sendirian saat ia meninggal.

QinShiHuang naik tahta di usia 13 tahun, di usia 22 tahun ia memegang kendali kerajaan sepenuhnya. Tidak lama setelah naik tahta, ia memerintahkan sekitar 700,000 pekerja untuk membangun Mausoleum tentang dirinya beserta patung-patung prajurit Terracotta tersebut. Dan ketika QinShiHuang meninggal, putranya QinErShi memerintahkan para pekerja yang tidak memiliki keluarga dan tidak dapat bekerja lagi, agar dikubur hidup-hidup bersama jenasah sang Kaisar pertama.

Terracotta di ketemukan secara tidak sengaja oleh 4 orang petani yang saat itu sedang menggali sumur untuk mengairi tanah mereka. Saat ini Terracotta sering disebut sebagai keajaiban dunia ke delapan. Sehingga ada pepatah yang mengatakan kalau belum melihat Terracotta, artinya belum pergi ke China.

Namun selain Terracotta, Xi’an memiliki banyak sekali tempat-tempat bersejarah yang menarik lainnya seperti Tembok kota Xi’an, HuaQing Pool, Menara Drum dan Bell, Gunung Hua, Masjid Agung Xi’an dan masih banyak tempat-tempat bersejarah lainnya yang tidak sempat aku kunjungi saking banyaknya.

Sedikit informasi, lama perjalanan dari Beijing ke Xi’an adalah 13 jam menggunakan kereta. Otomatis meski dibilang 4 hari tour tapi kenyataannya 2 hari di kereta dan hanya 2 hari di Xi’an. Maka itu tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi dalam waktu sesingkat itu.

Pada hari pertama, setibanya di Xi’an, sebelum ke Terracotta, aku mengunjungi HuaQing Pool terlebih dahulu. HuaQing Pool adalah tempat pemandian Kaisar beserta permaisurinya dan anggota keluarga kerajaan lainnya. Di bangun pada jaman Dinasti Zhou (1100–771 SM). HuaQing Pool ini juga merupakan tempat sauna pertama di dunia karena air pemandian disini berasal dari sumber mata air panas alami.

Konon salah seorang dari 4 wanita tercantik sepanjang sejarah China, yang juga merupakan selir kesayangan Kaisar Li LongJi, yaitu Selir Yang, suka sekali mandi di pemandian ini. Inilah yang mengangkat reputasi dari HuaQing Pool. Pada tanggal 12 Desember 1936, di HuaQing Pool ini pula terjadi insiden Xi’an yang mengejutkan dunia.

Di hari kedua, aku mengunjungi Tembok kota Xi’an. Tidak jelas kapan Tembok kota Xi’an di bangun, tapi sejarah mencatat bahwa tembok itu di perbesar pada tahun 1374-1378 oleh Dinasti Tang. Tembok ini memiliki panjang 11,9 Km, tinggi sekitar 30 meter, lebar 15 meter, dan 4 buah menara penjagaan. Untuk mengitari tembok ini bisa menggunakan sepeda. Karena itu di setiap menara penjagaan ada tempat penyewaan sepeda. 1 sepeda bisa disewa dengan harga 40RMB per jam.

Setelah dari Tembok kota Xi’an aku pergi ke Wild Goose Pagoda, tapi tidak sempat masuk karena waktu yang sangat terbatas. Dari situ aku ke Menara Drum dan Bell. Di menara ini aku juga tidak naik ke atasnya karena harus membayar cukup mahal dan menara seperti ini ada di setiap kota di China, termasuk Beijing. Jadi menurutku kurang unik. Akhirnya aku memilih mengunjungi Masjid Agung Xi’an.

Dari arah utara barat Menara Drum and Bell Xi’an, dibangun sebuah Mesjid Agung. Masjid Agung seluas 12,000 m2 ini dibangun pada jaman Dinasti Tang (618-907), dan di perbaiki pada jaman Dinasti Ming (1368-1644). Mesjid ini dibagun untuk menghormati sebagian penduduk Xi’an yang adalah penganut agama Islam.

Dokumen-dokumen bersejarah mencatatkan masuknya Islam ke China melalui 2 jalan. Jalan pertama melalui perdagangan sutra dari Asia barat ke Xi’an yang saat itu disebut sebagai Chang’an lalu ke Xinjiang Uygur, sebuah daerah otonomi. Jalan lainnya yaitu melalui Dinasti Sing (960-1279) melalui Samudera Hindia ke daerah tenggara China.

Karena saat ini Masjid Agung tersebut sudah di buka untuk umum, maka sepanjang jalan menuju masjid ini di penuhi toko-toko yang menjual souvenir dan restorant-restorant muslim yang dijamin halal. Saat hari libur seperti May Day kemarin, jalan ini benar-benar di padati turis local maupun turis asing.

Masjid Agung Xi’an adalah tempat terakhir yang sempat aku kunjungi, karena tidak terasa aku sudah harus pergi ke stasiun kereta untuk segera kembali ke Beijing. Mungkin lain kali aku harus menyediakan waktu yang lebih panjang untuk mempelajari sejarah-sejarah yang sangat mengagumkan bagiku.



Grey_S

Sunday, March 8, 2009

Nanning : Indonesian Town in China

Harusnya postingan kali ini adalah laporan perjalanan aku selama liburan musim semi kemarin. Tapi karena terus-terusan lupa posting, malah keburu SepociKopi duluan yang posting. Saking lamanya jangan-jangan bayi-nya Om-ku sudah keburu lahir neh...

Aku akan tetap posting cerita tentang liburan kemarin sebagai pelengkap Perjalanan Grey. Dan postingan yang ini pastinya masih asli punya-ku. Bukan yang sudah di perbaiki oleh Editor pengalaman.

Enjoy it.

***


Sebelum aku tiba kembali ke Jakarta, selama 2 minggu penuh aku habiskan liburanku di kota Nanning, ibukota provinsi Guangxi, China. Di salah satu pinggiran kota Nanning inilah sebagian keluargaku tinggal, setelah pembuangan orang Indonesia keturunan China yang terjadi sekitar tahun 1965.

Sebenarnya kalau bukan karena janji yang sudah diucapkan keluargaku sejak beberapa tahun yang lalu untuk datang mengunjungi keluarga yang di China, aku sama sekali tidak akan terpikir untuk datang ke kota ini. Karena meskipun Nanning adalah sebuah ibukota provinsi Guangxi, tapi Nanning tetaplah sebuah kota kecil yang jarang diketahui orang. Bahkan orang-orang China yang bukan berasal dari daerah Guangxi, juga jarang ada yang pernah mendengar nama kota ini. Selain itu di kota ini tidak ada tempat wisata yang populer.

1 minggu setelah imlek, tepatnya tanggal 1 februari 2009 kemarin adalah hari bersejarah untuk pamanku yang di Nanning. Hari itu pamanku resmi menikahi gadis yang sudah di pacarinya selama beberapa tahun. Karena kebetulan aku sedang bersekolah di China, sejak jauh-jauh hari aku sudah diingatkan untuk wajib hadir di pernikahan mereka, untuk mewakili keluarga besarku yang di Indonesia. Secara keluargaku yang di Indonesia sudah pasti tidak mungkin hadir, karena ongkosnya mahal.

Oh ya berhubung Beijing bagaikan kota tanpa penduduk menjelang perayaan imlek, sejak tanggal 21 Januari aku sudah tiba di Nanning, jadi sekalian bisa merayakan Imlek disana. Tadinya rencanaku imlek H+1 sampai pernikahan pamanku H-1, aku mau main ke HongKong dulu. Lumayan bisa main 5 hari di HongKong. Aku malas harus nginap di rumah orang lama-lama. Tapi Tuhan berkehendak lain, aku kehabisan tiket ke HongKong. Otomatis selama 2 minggu aku harus menjadi penduduk sementara kota Nanning.

Selama 2 minggu itu, aku hampir setiap hari diajak keliling kota, wisata kuliner, dan di perkenalkan kepada warga sekitar, dari situ aku baru sadar kalau kota Nanning ini adalah Indonesian Town di China. Konon kota ini adalah tempat penampungan bagi para Hua Qiao (sebutan untuk orang keturunan China) yang mengalami pembuangan dari Indonesia sekitar tahun 1965.

Hampir semua orang tua-tua di kota ini bisa berbahasa Indonesia, meskipun bukan bahasa Indonesia yang baku. Tapi logat Jawa, Cirebon, Cilamaya, Sunda masih sangat kental. Anak-anak mudanya pun masih mengerti bahasa Indonesia meskipun tidak bisa mengucapkannya. Hampir di setiap sudut kota banyak toko kue yang menjual Yin ni Dan gao (Kue-kue Indonesia).

Rasa makanan disana pun mirip dengan makanan Indonesia. Ada bakso yang rasanya mirip Bakso Afung di Jakarta, hanya kuahnya lebih kental. Ada Chao Fen, yang 100% sama dengan Cong Fan, makanan khas (kalau tidak salah) daerah Medan yang banyak di jual di sekolah-sekolah atau kompleks perumahan. La jiang (saus pedas) mereka pun rasanya mirip sambal bawang putih khas daerah Lampung. Padahal di kota-kota lain di China yang pernah aku kunjungi, aku sampai harus bawa sambal sendiri saat makan. Rasa Chinese Food di kota ini juga mirip dengan rasa Chinese Food di Jakarta.

Saat pesta malam imlek, di sebuah acara TV aku melihat kalau salah satu pakaian daerah yang mereka gunakan adalah baju Kebaya. Lagu-lagu mereka nyanyikan adalah lagu-lagu daerah Indonesia, seperti Bengawan Solo dan Nona Manis.

Kata pamanku, acara seperti itu ada setiap tahun. Termasuk perlombaan tari-tarian khas Indonesia. Karena itu setiap malam minggu ada ratusan orang ikut kelompok menari di balai desa, tentu saja lagu yang mereka gunakan adalah lagu-lagu Indonesia lama dan tarian mereka mirip tari Jaipong. Sastra Indonesia juga termasuk pelajaran yang banyak peminatnya di kampus-kampus di kota Nanning.

Di akhir pesta pernikahan pamanku, aku juga baru tahu kalau ada tradisi di kota itu, setiap kali ada pesta, di akhir pesta tersebut harus ada acara joget bersama, yang tentu saja menggunakan lagu-lagu Indonesia. Khususnya lagu dangdut.

Pokoknya aku salut banget deh, segala sesuatu yang berbau Indonesia sangat dihargai disana. Karena di Jakarta aku merasa orang-orang sudah tidak menghargai kebudayaan khas Indonesia. Dan karena aku datang dari Indonesia, mereka memperlakukanku bagai tamu agung lho. ;P


GreyS

Tuesday, November 11, 2008

Suzhou, Hangzhou dan Shanghai



Suzhou : Kota air dan Sutra

Setelah perjalanan yang melelahkan selama + 10 jam, akhirnya pagi ini kami (aku & rombongan sekolah) tiba di Suzhou, kota pertama dalam Study Trip kami selama beberapa hari ke depan. Dari station kereta Suzhou, kami langsung ke hotel untuk sekedar cuci muka, sikat gigi, breakfast dan menyimpan barang-barang.

Setelah selesai breakfast kami langsung diajak ke Wang shi yuan (Master of the Fishing Net Classical Garden) adalah taman yang dibangun pada jaman Dynasty Song (960 – 1279) ini sejak tahun 1997 di masukan ke daftar situs UNESCO World Heritage dan dibuat tiruannya di Ming Hall Garden of the Metropolitan Museum of Art in New York. Meski dari luar terkesan kumuh dan terletak di jalan kecil, tapi ternyata dalamnya cukup bagus dan kesan kuno-nya tidak hilang. Disitu juga ada beberapa benda-benda bersejarah, sayangnya karena melihat taman yang bagus, kami jadi lebih tertarik foto-foto dari pada mendengarkan cerita Guide yang tidak terlalu kami mengerti.

Setelah dari Wang Shi Yuan, kami diajak makan siang di daerah Silk Factory. Sehingga setelah selesai makan siang, kami hanya perlu berjalan kaki sebentar untuk menuju ke Silk Factory. Suzhou sendiri sejak jaman Dinasti Song (960-1279) sudah terkenal dengan Silk Factory-nya.

Dalam Silk Factory ini kami di jelaskan sedikit proses pembuatan sutra. Dari masih berupa ulat, kepompong, sampai cara penenunan hingga menjadi kain. Disitu juga diadakan fashion show busana-busana dari sutra. Sayang aku telat masuk sehingga hanya melihat saat penutupan. Dibagian lain terdapat 1 area tempat mereka menjual semua hasil produksi. Ada seprai, baju, selendang, dan lain-lain. Karena harganya yang tergolong tidak terlalu mahal untuk ukuran sutra asli, akhirnya aku membeli 2 buah baju khas Shanghai untuk mamiku.

Setelah puas belanja, kami diantar untuk mengelilingi kota Suzhou dengan boat. Suzhou memang terkenal sebagai kota air, dikarenakan sebagian dari sungai YangTze mengaliri kota Suzhou. Dari sungai ini, kami melewati jembatan yang paling terkenal di Suzhou yaitu Maple Brigde.

Seorang pujangga di jaman dinasti Tang (618-907), Zhang Ji, pernah membuat puisi yang terkenal hingga saat ini. Bahkan sampai di buat sebagai lagu dan sympony oleh beberapa composer. Judulnya Feng Qiao Ye Bo atau dalam bahasa Inggris “Anchoring at night at the Maple Bridge. Di bawah ini aku tuliskan potongan kalimatnya yang paling terkenal.

枫 桥 夜 泊
feng qiao ye bo
(Anchoring at night at the Maple Bridge)
By : Zhang Ji

月 落 呜 啼, 霜 满 天
yue lao wu ti , shuang man tian
The moon goes down, a raven cries, frost fills the sky.

江 枫 渔 火, 对 愁 眼
jiang feng yu huo , dui chou yan
River maple, fishing fires, facing sadness lie.

故 苏 城 外, 寒 山 寺
gu su cheng wai, han shan si
Outside Suzhou city, the sound of Cold Mountain Temple’s midnight bell.

夜 半 钟 声, 到 客 船
ye ban zhong sheng, dao ke chuan
Reaches the visiting boat.


Hangzhou : Romantic City

Perjalanan menuju Shanghai, bila melalui Suzhou tidak akan lengkap tanpa singgah sebentar di Hangzhou. Banyak orang menyebut Hangzhou sebagai Romantic City atau Paradise in World. Bahkan seorang penjelajah Italia, Marco Polo, pernah menyebut Hanzhou sebagai "the most splendid heavenly city in the world". Karena disini banyak taman dan tempat rekreasi yang bisa dikunjungi oleh pasangan atau keluarga yang ingin menghabiskan waktu di akhir pekan. Dan lagi 2 legenda cinta sepanjang masa, Legenda Ular Putih dan SamPek EngTay, berasal dari kota ini.

Selama 1 hari 1 malam kami di HangZhou, kami di ajak ke Xihu (West Lake). Konon danau ini terbentuk karena mutiara Mahadewa Langit jatuh ke bumi dan dalam Legenda Ular Putih, danau ini adalah tempat pertemuan pertama Bai Su Xhen dan Xu Xian.

Ditepi West Lake juga terdapat sebuah Pagoda yang disebut Lei Feng Pagoda. Konon pagoda tersebut adalah pagoda yang di gunakan untuk memenjarakan Bai Su Zhen. Pagoda Lei sendiri Feng dibangun pada tahun 975. Penyair-penyair China dimasa lalu sering membuat puisi yang terinspirasi dari West Lake dan Pagoda Lei Feng ini. Salah seorang penyair yang terinspirasi dari keindahan danau ini adalah Su Dong Po, seorang penyair ternama di masa Dynasty Song (960-1127).

Disekitar West Lake terdapat sebuah gunung yang disebut Gunung LongJing. Gunung LongJing ini terkenal dengan perkebunan Teh Hijau-nya. Daun the hijau LongJing sungguh lembut dan datar. Sehingga saat kita merebus daun teh tersebut di suhu 80’ C, daun teh tersebut akan mengembang. Sari tehnya akan berwarna kuning kegelapan, akan mengeluarkan aroma yang manis, dan mellow. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa XiHu LongJing Tea terkenal akan 4 keajaibannya, yaitu green color, sweet smell, mellow taste dan beautiful shape. Namun kalau kita ingin menikmati XiHu LongJing Tea ini, kita harus berani merogoh kocek sekitar 150 – 300 RMB untuk 1 paket teh.

Disisi lain kota Hangzhou terdapat sebuah kota tua yang dijadikan objek wisata dan museum. Wen Zhou nama daerah itu. Berkunjung ke Wen Zhou seakan-akan sedang berada di Venesia karena Wen Zhou dibangun di pinggiran sungai Yang Tse. Kita bisa naik perahu untuk mengelilingi tempat tersebut. Dan biasanya saat kita naik tukang perahu akan menyanyikan lagu-lagu daerah. Biaya untuk menyewa perahu tergolong murah 80 RMB sekali jalan. Sedangkan perahu tersebut bisa dimuati 7-8 orang. Sebagian rumah di Wenzhou masih dihuni dan sebagian lagi di jadikan Museum. Daerah ini juga sering di jadikan background dalam film-film China kuno atau film-film kungfu.


Shanghai : Kota modern

Dari Hangzhou ke Shanghai tidak membutuhkan waktu perjalanan yang panjang. Hanya 2 jam menggunakan bus. Sayangnya di Shanghai ini aku tidak terlalu mempunyai kesan yang dalam, selain gedung-gedungnya yang Futuristik dan Xiao Long Bao-nya yang benar-benar enak (aku belum pernah makan Xiao Long Bao seenak di ShangHai). Selebihnya Shanghai tidak berbeda dengan kota-kota besar lainnya. macet dan semrawut. Apalagi selama disana kami diberikan waktu bebas, sehingga aku dan teman-teman hanya pergi dari 1 pub ke pub lainnya.

Namun ada 1 tempat perbelanjaan, aku lupa menanyakan namanya, tempat itu pusat perbelanjaan seperti Pasar Baru yang dibangun dengan gaya Istana Kaisar jaman dahulu. Bahkan Starbuck café-nya juga berbentuk Istana kekaisaran. Di belakang pusat perbelanjaan tersebut juga ada taman yang sangat indah dengan arsitektur kuno.



GreyS.

Friday, October 3, 2008

Inner Mongolia



Cape.....

Cuma itu kesan dari tour 3 hari 2 malam ke Inner Mongolia kemarin. Habisnya mau di bilang asik tapi aku sedikit sengsara di jalan, tapi di bilang tidak enak pun buktinya aku enjoy. Memang seh aku enjoy karena disana ketemu Vicky Zhao versi Jepang dan selama perjalanan aku bareng dia terus. Terakhir dapat alamat e-mail dia lagi.

Di Inner Mongolia sendiri sebenarnya tidak ada objek wisata yang benar-benar menarik (atau aku yang kurang berkeliling, aku tidak tahu juga). Yang bisa mereka jual hanyalah pemandangan di padang rumput, langit cerah yang bertaburkan bintang di malam hari, rumah tenda khas Mongol yang sudah ada sejak jaman dulu dan gurun pasir buatan dimana kita bisa naik unta disitu.

Salah satu Kuil yang terkenal di situ, yang disebut Hohhot Five Pagoda, juga terlalu biasa saja. Bahkan suasana sakralnya bisa dibilang sangat kurang. Karena di halaman depannya digunakan sebagai taman bermain dan disekelilingnya ruko-ruko tempat berjualan cinderamata dan minuman.

Aku baru mengerti kenapa orang-orang China sangat pelit dengan air dan listrik. Dan bisa dibilang sangat amat jorok dalam hal Sanitasi. Air disini ternyata memang sangat sangat susah didapat. Sepanjang perjalanan ke Inner Mongolia, pemandangan yang bisa aku lihat hanyalah pemandangan gunung-gunung kapur. Meski banyak rumput di sekelilingnya, tapi pepohonan besar yang memungkinkan untuk menahan air sangat jarang.

Aku juga baru tahu kenapa teman-temanku, yang pernah tinggal disini atau sudah lebih lama tinggal disini, selalu bilang “Kalau kita mau bergaul dengan penduduk local, setiap harinya pasti akan ada pelajaran baru yang kita dapat.” Dan temanku yang lain bilang “China adalah tempat bersatunya budaya modern dan kuno.”
Selama 24 tahun lebih aku hidup baru selama 3 hari kemarin aku melihat Toilet umum tanpa pintu. Dan orang-orang sini cuek saja menggunakan Toilet tersebut tanpa ada perasaan risih sedikit pun. Bahkan di salah satu restaurant mewah, toiletnya benar-benar tanpa sekat sedikit pun.

Dan karena banyak yang bilang, “pergi ke Mongol tidak menginap di rumah tenda, sama saja belum pernah pergi.” Maka malam pertama aku menginap di rumah tenda. Rumah tenda seperti ini masih banyak di dapati di pedalaman Mongolia. Kurang lebih 4 jam dari kota terdekat. Pemandangan padang rumput dan taburan bintang di langit malamnya juga sangat indah.

Karena pemandangan ini yang di jual, maka saat menjelang malam disini sangat minim listrik. Cahaya listrik yang ada hanya dari tenda ke tenda. Itu pun kalau tenda tersebut ada yang menginap atau penggunanya tidak mematikan lampu. Saking gelapnya dan semua tenda di bikin hampir sama persis, sampai-sampai aku 2 kali tersesat ketika pergi ke toilet.

Tapi semua pengalaman selama 3 hari itu benar-benar tidak akan terlupakan. Sampai saat aku menulis ini pun, sakit pinggang karena belasan jam duduk di Bus masih aku rasakan.



GreyS