Sunday, March 11, 2012

Bali, I'm in love


Akhirnya cita-citaku ke Bali tanpa harus di dampingi keluarga tercapai juga. Gara-gara temenku si Tizz neh yang ngajak-ngajakin ke Bali, akhirnya aku jadi punya alasan deh buat ke main-main ke Bali dan nemuin seseorang disana. Abis kalo tau-tau ke Bali sendirian kan jadi aneh, lagian alasan sama orang rumahnya apa coba.

Awalnya aku yakin liburan kali ini akan bebas sebebas bebasnya dari cobaan, ehhh ternyata butuh perjuangan euy buat liburan doang. Mulai dari masalah kantor yang terus menerus meneror sampai data gaji pegawai yang belum selesai-selesai di input sama HRD padahal harus segera aku selesaikan hitungannya sebelum aku cuti, yang akhirnya membuatku harus bawa-bawa kerjaan ke Bali. Dan mentok-mentoknya 5 hari aku disana, 3 hari untuk kerja. Liburannya tetep aja cuma sabtu-minggu doang. Tapi untungnya liburan yang sangat terbatas itu dapat menjadi liburan paling berkesan dalam hidupkyuuu.....

Kesan pertama yang cukup mendalam tentu saja masih tentang pekerjaan yang harus di bawa ke tempat liburan. Yang bikin 2 hari pertama disana aku ngomel-ngomel mulu ngga keruan karena disaat Tizz pergi jalan-jalan aku terpaksa nunggu di hotel untuk menyelesaikan pekerjaan. Bahkan “impianku” untuk Spa Treatment terpaksa harus ku kubur dalam-dalam.

Namun ternyata rasa kesalku karena tidak bisa sepuasnya menikmati liburan bisa terbayar hanya dengan 2 hari liburan berkualitas bersama sahabat dan seseorangku dengan pergi Diving dan menikmati indahnya pemandangan bawah laut Tulamben yang di hiasi oleh bekas kapal perang Amerika yang karam disitu. Sepanjang perjalanan pergi sampai pulang kembali ke Denpasar, kami bercanda dan saling mengejek tanpa henti.

Kesenangan kami hanya berhenti sesaat karena aku mendapat sedikit berita tidak enak tentang konfirmasi penginapan yang sudah kulakukan jauh-jauh hari tapi ternyata namaku tidak tercatat, dan pengurusnya mengatakan bila kami tetap mau menginap disana akan ada biaya tambahan untuk mobil yang kami bawa. Meski agak kesal tapi karena mengingat kami sudah tidak ada waktu lagi untuk mencari penginapan lain dengan harga yang masih terjangkau, terpaksa kami tetap memesan penginapan tersebut dan memasrahkan tentang biaya-biaya yang ditambahkan seenaknya.

Namun sepertinya Tuhan ingin menghadiahkan kami hal lain dalam liburan tersebut. Beberapa saat sebelum kami sampai kembali di Denpasar, mendadak Apisindica yang kebetulan sama-sama sedang berada di Bali, menawarkan untuk menginap bersama di sebuah villa mewah tempat sahabatnya bekerja. Padahal biasanya Villa tersebut disewakan seharga 555-1,000 USD per malam. Yah sudah tanpa perlu berpikir dua kali kami membatalkan penginapan yang sudah kami pesan dan langsung menjemput Apisindica untuk bersama-sama menuju villa tersebut.

Sesampainya di villa yang lokasinya ternyata butuh perjuangan untuk mencari, kami sudah disambut oleh teman-temannya Apisindica yang ramah dan gokil-gokil. Ighhh seru banget deh bercanda sama mereka. Padahal baru pertama ketemu.

Liburan ke Bali, anak muda semua, tanpa pergi clubbing sepertinya kurang lengkap. Menjelang tengah malam, setelah semuanya beristirahat sejenak, kami lanjut ke Dhyana Pura. Minum-minum dikit, goyang-goyang dikit, ketawa-ketiwi lagi, ketemuan dengan teman-teman lain yang ternyata juga Party lovers menutup hari yang luar biasa. Menjelang subuh kami baru kembali ke Villa dan langsung tidur dengan sukses sampe menjelang siang.

Keesokan harinya karena kami memiliki rencana yang berbeda, kami terpaksa berpisah. Tapi sebagai generasi narsis dan eksis yang memiliki “Pleasure Seekers” sebagai model, sesi foto-foto di villa mewah tersebut tidak boleh terlewatkan. Apalagi jarang-jarang bisa menginap gratis disana.

Ah senangnya liburan kali ini. Semua rasa kesalku di awal liburan terbayar sudah.

Sunday, February 19, 2012

Bersabarlah

“Bersabarlah…” Kata suara misterius itu di telingaku setiap kali aku berdoa mohon jalan keluar dari masalahku saat ini.

***

Masih teringat dalam benakku, beberapa tahun yang lalu ketika aku dan teman-temanku mengikuti acara outing ke Pulau Umang yang di adakan oleh anggota Senat mahasiswa di kampus kami. Acara outing saat itu sungguh berkesan karena di salah di dalam program acara, ada satu hari khusus untuk acara outbond.

Yang namanya acara outbond, pastilah untuk menguji daya tahan kita secara fisik dan mental dalam menghadapi rintangan dan tantangan yang ada. Nah saat itu ada sebuah rintangan yang paling berkesan dalam ingatanku hingga saat ini. Bahkan bila aku di minta untuk mengingat kembali kesuksesan-kesuksesan yang aku raih, maka kesuksesan melewati rintangan tersebut adalah salah satu hal yang akan aku ingat.

Rintangan yang aku maksud adalah menyebrangi sungai kecil, selebar dua puluhan meter yang hanya terhubung dengan dua utas tambang besi yang di ikatkan di batang pohon kelapa yang tumbuh di pinggiran sungai tersebut. Kedua utas tambang tersebut, yang satu untuk pijakan kaki dan yang lainnya untuk pegangan tangan. Selain itu tidak ada pengaman lain.

Sebenarnya saat itu pemandu kami sudah memberikan dua pilihan, yaitu menyebrangi sungai lewat bawah dengan resiko basah kuyub sebelum mulai bermain atau meniti tali tersebut dan kami akan tiba di tempat permainan dengan pakaian tetap kering. Tentu saja aku memilih pilihan yang kedua dengan pertimbangan Camera Recorder yang aku bawa akan selamat dari air kalau aku menyebrangi sungai tersebut dengan meniti tambang.

Tantangan terberat saat itu adalah ketakutanku akan ketinggian. Meniti tambang dengan ketinggian kurang lebih 30 meter dan lebar 20 meter bukan hal yang mudah untukku, meskipun setelah terlewati ternyata juga tidak sulit. Kesulitan terbesar tentu saja hanya di langkah awal. Karena langkah berikutnya aku hanya berusaha bertahan tanpa bisa memikirkan hal-hal lain. Iya lah bagaimana bisa aku memikirkan yang lain, kalau aku harus berkonsentrasi penuh agar aku tidak terjatuh ke sungai, yang meski tidak terlalu dalam tapi sangat berbatu-batu. Saat itu, dalam setiap langkahku, aku hanya dapat menyebut dalam hati, “Tuhan bantu aku melewati ini semua.”
Mungkin ada yang akan bertanya, apakah aku menyesal memilih untuk meniti tambang daripada basah-basahan? Ketika aku sudah berada di tengah-tengah tambang itu dan melihat sepertinya langkahku seperti tiada akhir, tentu saja aku menyesal. Tapi di tengah-tengah tambang titian itu, menyesal pun sudah tidak ada gunanya lagi. Untuk kembali ke titik awal, aku tetap harus berjuang melawan ketakutanku akan ketinggian. Perlahan-lahan melewati titian tersebut pun aku juga harus berjuang. Kalau aku berhenti dan menangis di tengah-tengah juga tidak ada yang bisa menolong, kecuali aku berani melompat ke sungai dengan resiko patah tulang atau gegar otak.

Saat itu aku benar-benar belajar berjuang. Berjuang untuk tetap bertahan dan menyelesaikan rintangan tersebut. Rintangan yang kelak menjadikanku sebagai orang yang lebih tangguh lagi. Kini, kalau aku ditanya apakah saat itu aku menyesal, jawabku tentu saja tidak. Karena sekarang disaat aku kembali berada di posisi yang sama, aku sudah tahu bagaimana harus bersikap dan melewatinya.

Dan sekarang kondisi masalahku kembali seperti saat itu. Dimana aku hanya bisa bersabar.

“Bersabarlah Grey… bertahanlah… selangkah lagi dan kamu akan melewatinya.”