Saturday, July 26, 2008

Berhenti Berharap....

Dulu ku tak pernah…
Percayakan cinta…
Yang tak..harus memiliki…

Pernah ku paksakan…
Walau tak sejalan…
Meski..ku tau ku salah…

Dan ku..coba melupakanmu…
Karna ku tau kau bukan milikku…

Dan ku..berhenti berharap…
Akan cintamu yang dulu…
Ada di hati…
Dan ku..coba tuk bertahan…
Walau..berat…
Kini ku berhenti berharap…

Kini ku akui…
Hatiku..tak bisa…
Slalu..miliki dirimu…

Dan ku..berhenti berharap…
Akan cintamu yang dulu…
Ada di hati…
Dan ku..coba tuk bertahan…
Walau..berat…
Kini ku berhenti berharap…berharap…


Akhir-akhir ini banyak sekali lagu-lagu indonesia yang sepertinya sedang menggambarkan suasana hatiku. Meski kadang aku tidak terlalu suka pada iramanya, yang biasa banget. Tapi berhubung lyric-nya aku banget mau tidak mau lagu itu pasti ada dalam list program iTunes-ku dan iPod-ku.

Seperti lagu “Berhenti berharap” yang dinyanyikan Marcell, iramanya seh agak mirip-mirip dengan lagu yang dinyanyikan Delon saat Grand Final Indonesian Idol pertama (aku lupa judulnya ;P). Tapi lyric lagu ini seperti menamparku. Mengingatkanku agar aku juga berhenti berharap. Berhenti berharap dia akan berpaling kepadaku. Berhenti berharap dia akan membalas cintaku. Berhenti berharap dia akan menjadi milikku selamanya.

Saat mendengarkan lagu ini, seperti ada yang mengatakan kepadaku “Grey, berhentilah menjadi punguk yang merindukan bulan. Dia tidak yang tercipta untukmu. Cukup sudah kau menantinya. Cukup sudah kau mengharapkannya.”

Yah… mungkin dia memang tidak tercipta untukku. Mungkin aku memang sia-sia mengharapkan cintanya. Tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku. Sampai detik ini, saat aku menulis blog ini, aku masih mencintainya. Sangat mencintainya.

Aku masih sering merasa “kosong” saat aku sadar dia tidak di sisiku lagi. Bagaikan ada lubang besar yang menganga di relung hatiku. Meski aku akui, aku juga mulai terbiasa tanpa kehadirannya di sisiku.

Setelah berbulan-bulan aku mencintainya hanya dalam hati, kini sudah tiba saatnya aku berhenti berharap… .



GreyS

Friday, July 25, 2008

Chocolate Mint

Apa rasa ice cream favoritmu??? Vanilla, Chocolate, atau Strawberry??? Kalau aku, aku adalah penggemar ice cream rasa Chocolate Mint.
Apa permen favoritmu??? Permen buah-buahan, permen chocolate, atau permen kopi??? Kalau aku, aku adalah penggemar permen Chocolate Mint.

Apapun brand ice cream tersebut atau dari manapun perusahaan pembuat ice cream tersebut, yang penting bagiku rasanya harus Chocolate Mint. Begitu juga dengan permen dan chocolate batangan lainnya. Aku tidak pernah peduli terhadap namanya atau perusahaan pembuatnya, yang penting bagiku rasanya adalah Chocolate Mint.

Rasanya aneh…. Seperti memakan pasta gigi rasa Chocolate.” Kata temanku ketika dia mencoba minuman rasa Chocolate Mint yang aku pesan. Yah… Chocolate Mint jika dibuat selain untuk rasa ice cream, pasti menjadi agak aneh di lidah.

Mungkin hal itu juga yang menyebabkan aku kesulitan untuk menemukan rasa Chocolate Mint dalam bentuk lain selain ice cream. Kecuali ice cream import, rasa Chocolate Mint masih sangat jarang untuk ice cream local. Otomatis untuk menikmati rasa favoritku yang cukup unik ini, aku harus merogoh kocek yang cukup mahal hanya untuk membeli 1 scoop ice cream import. Dan seumur-umur baru 1 kali aku menemukan Chocolate bar rasa Mint, itu pun ternyata handmade production alias buatan sendiri.

Unik…. Bagiku Chocolate Mint adalah rasa yang unik. Campuran rasa Chocolate yang manis, pekat, dan menghangatkan dengan rasa Mint yang sedikit pedas, dingin, dan menyegarkan. Dua jenis rasa yang sungguh berbeda, namun campuran keduanya itu menimbulkan sensasi yang aneh di lidahku. Sensasi rasa yang sepertinya menjadi saling melengkapi satu sama lain.



GreyS