Thursday, September 4, 2025

SUDAH SELESAI

Bacaan Injil hari Senin 9 Juni 2025 diambil dari Yohanes 19:25-34, tapi ayat yang paling mengena untukku hari ini adalah di ayat 30, ketika Yesus pada akhirnya mengatakan “SUDAH SELESAI”. 

Ketika aku mengikuti kelas Emaus Journey di 2021 yang lalu, buku terakhir yang digunakan adalah “Seven Last Words From The Cross” oleh Rich Cleveland. Dari 7 kata terakhir Yesus di kayu salib, yang paling berkesan untukku adalah kata “SUDAH SELESAI”. Yang menandakan bahwa Yesus sudah berhasil menjalani semua kehendak Allah Bapa dalam hidupNya dan sudah berhasil mengalahkan sisi kedaginganNya sendiri.

Sejak mempelajari buku tersebut, aku sangat terinspirasi oleh Yesus untuk pada akhirnya aku juga bisa mengatakan “SUDAH SELESAI” untuk semua tugas perutusanku di dunia ini. Dan ternyata kesempatan itu datang padaku di bulan Juni 2022.

***

Tanggal 8 Juni 2022, pagi itu aku terbangun dengan sedikit kaget setelah memimpikan almarhumah nenekku masuk ke dalam kamar tidurku sambil mengomel dengan suaranya yang melengking “Greyyyyyyy, tengokin tuh si Papi. Jangan sampai dia sudah masuk peti baru kamu tengokin.”

Tapi karena bagiku mimpi hanyalah sebuah bunga tidur, maka setelah terbangun penuh, aku tidak terlalu memikirkan tentang mimpi tersebut lagi. Apalagi ketika di Video Call beberapa hari sebelumnya, Papiku masih baik-baik saja.

Beberapa hari setelah hari itu, aku pergi mengikuti Retreat yang diadakan oleh Komunitas School By Spirit (SBS) di Wisma Samadi selama 5 hari 4 malam. Saat itu aku mengikuti Retreat tersebut sebagai hadiah ulang tahun bagi diriku sendiri, karena sejak 2021 aku menemukan kebahagian pada saat bisa memiliki waktu berkualitas dengan Tuhan di hari ulang tahunku. 

Uniknya sepanjang retreat tersebut, selama 5 hari berturut-turut, rhema yang keluar untukku adalah “Bersiap-siaplah untuk kejutan dari Tuhan.” Dan melalui retreat itu aku juga jadi berkenalan dengan sahabat baik Mami-ku di lingkungan, yang sebenarnya beliau bukan anggota SBS namun diajak untuk mengikuti retreat tersebut.

2 hari setelah retreat berakhir, aku ada janji meeting dengan calon client di sebuah Mall yang lokasinya sangat dekat dengan rumah Papi. Hari itu hari Sabtu, yang dalam kepercayaan Papi itu adalah hari Sabat. Biasanya hari itu Papi akan pergi ke gereja dari pagi hingga sore.

Pagi itu ketika sedang bersiap-siap untuk meeting, ada suara yang terus-terusan mengganggu pikiranku “Dith, jenguk Papi. Kan kamu akan meeting di dekat sana, sekalian saja mampir untuk menjenguk Papi. Terserah kamu mau berapa lama, 10 menit, 5 menit, terserah. Tapi jenguklah Papi.”

Selama beberapa menit suara tersebut terus berperang dengan logikaku. Logikaku mengatakan “Buat apa mampir? Papi pasti sudah pergi ke gereja. Nanti sajalah kalau aku sudah agak senggang.” Tapi suara tersebut, tetap gigih memintaku untuk menjenguk Papi. Sampai akhirnya logikaku mengalah kepada suara tersebut.

Aku menelpon papi. Dan ternyata memang Sabat tersebut Papi memutuskan untuk tidak bepergian karena kata beliau kakinya sedang sakit. Beberapa bulan terakhir beliau memang mengeluhkan kalau dengkulnya sakit, sehingga kami berdua sedang rutin pergi terapi pijat bersama. Karena papi ada di rumah, maka aku berjanji untuk datang menjenguknya lebih dahulu sebelum pergi meeting.

Sesampainya di rumah Papi, aku sangat terkejut karena ternyata sakit kaki yang Papi maksud bukanlah sakit pada bagian dengkul seperti yang sebelumnya beliau keluhkan, namun ternyata karena ada luka borok sebesar uang koin pada mata kakinya. Dan yang lebih membuatku terkejut lagi adalah keadaan rumah yang sangat berantakan dengan ceceran darah dimana-mana.

Papi memang memiliki riwayat penyakit Diabetes, dan tidak pernah mau minum obat Diabetes atau pun memeriksakan diri karena kepercayaannya yang salah dengan ilmu kedokteran.

Karena awalnya Papi tetap tidak mau dibawa ke dokter, maka aku untuk pertolongan pertama,  meminta tolong kepada sahabat mami yang aku temui ketika Retret SBS, untuk mencarikan ART untuk membantu papi beberes rumah, menyiapkan makanan, dan memantau kondisi papi setiap hari.

Aku juga meminta bantuan tanteku yang pensiunan dokter untuk merawat luka papi, dan partnerku yang sinshe untuk obat-obatannya papi. Dan ini bertahan hanya selama 1 minggu karena kondisi papi yang memburuk sehingga mau tidak mau, suka tidak suka beliau menyerah dan bersedia dibawa ke RS.

Pertama kali papi bersedia dirawat di RS, aku bingung apakah harus ikut menginap bersama beliau, atau bisa aku tinggal saja? Kalau menginap di RS artinya aku harus siap tidur dilantai tanpa kasur dan bantal, tapi kalau ditinggal khawatir sama Papi, dan pihak RS pun mewajibkan keluarga pasien untuk ikut berjaga.

Meski papi mengatakan untuk pulang saja, tapi suara yang membimbingku memintaku untuk tetap tinggal di RS. Benar saja, di malam hari ternyata ada beberapa kejadian dimana papi membutuhkan bantuanku. Untung aku mendengarkan suara itu.

***

 Pada saat pertama kali aku mengetahu kondisi Papi, aku juga sempat mengeluh kepada Tuhan. “Tuhan, kok kejutan untukku begini amat sih?” lalu dalam kontemplasiku saat itu Tuhan menjawab “Kan kamu sudah Aku persiapkan sejak bulan Januari.”

Aku pun teringat pengalaman pertama kali mengikuti Latihan Rohani Pemula modul Gelap dan Terang, di bulan Januari 2022, yang saat itu masih diuji cobakan.

Di bulan Januari 2022, karena aku dan beberapa teman sedang mengalami pergumulan, Ko Robin mengajak kami mendoakan sekaligus menguji cobakan Latihan Rohani Pemula Modul Gelap dan Terang bersama. Pada waktu itu sebenarnya yang aku doakan adalah tentang pekerjaan dan keinginanku untuk keluar dari Jakarta, namun Rahmat yang aku dapatkan adalah kata-kata “Bagaimana kalau tugasmu saat ini bukanlah untuk mengejar karir tapi untuk merawat Papi?” 

Saat itu aku bingung dengan Rahmat yang aku dapatkan. Papi masih sehat-sehat saja, dan Papi juga masih tinggal bersama 2 orang karyawan. Jadi buat apa aku merawat Papi? Ternyata hal itu terjawab beberapa bulan kemudian.

***

 Singkat cerita, sepanjang 3 tahun terakhir kondisi papi memang naik turun. Sepanjang sisa tahun 2022, hampir sebulan sekali Papi pasti harus dirawat di RS, dan sempat beberapa kali juga masuk ke Ruang  ICU. Dari yang awalnya aku berusaha merawat papi sendiri, sampai akhirnya aku harus membutuhkan bantuan caregiver untuk membantuku menjaga papi 24 jam. Karena tiap kali papi sehat sedikit, bandelnya papi kambuh dan tidak mau minum obat lagi, atau pun merawat lukanya lagi. Sedangkan aku pun tidak bisa 24 jam memantau papi terus menerus.

Di 2023 sampai quarter ke 3 di 2024 kondisi Papi cukup stabil, Papi sudah bisa ke gereja lagi, bahkan di awal 2024 kami sempat 2 kali pergi berlibur ke Villa di Cipanas. Namun mulai Oktober 2024 akhir, kondisi Papi kembali menurun jauh. Sepanjang semester pertama di 2025, Papi lebih banyak di Rumah Sakit dibanding di rumah sendiri. Bahkan di bulan Februari 2025 papi sempat mengalami koma dan berhenti detak jantung.

Aku yang sejak awal terpanggil untuk mendampingi Papi, ikut merasakan penderitaan Papi. Tiap kali papi berteriak-teriak minta tolong karena sesak napas atau saat seluruh badannya terasa sakit karena cuci darah, aku hanya bisa menangis sambil berdoa. Aku sadar ini adalah Jalan Salib yang harus kami lalui.

Sepanjang Jalan Salib ini, aku bersyukur banyak menerima bantuan-bantuan dari beberapa “Simon Kirene” yang hadir melalui sosok para Caregiver, Saudara-saudara yang siap membantu, dan teman-teman gereja Papi yang selalu ada untuk kami.

Aku juga tidak memungkiri, bahwa dalam menjalani Jalan Salib ini, aku sempat beberapa kali “terjatuh”. Hubunganku dengan Papi yang sudah sempat membaik, beberapa kali kembali memanas. Sebelum akhirnya aku disadarkan bahwa Papi menjadi sangat menyebalkan seperti itu karena sakitnya dan karena Demensia yang mulai di deritanya.

Puncaknya adalah di bulan Mei 2025, dimana selama 31 hari penuh Papi harus dirawat di RS tanpa bisa pulang sehari pun. Saat papi memaksa untuk pulang, baru pulang dibawah 12 jam, kami sudah terpaksa harus melarikan Papi kembali ke RS karena terjatuh dari ranjang dan mengalami pendarahan hebat.

3 hari papi kembali masuk RS, sebelum akhirnya beliau menghembuskan napas terakhirnya. Pastinya beliau sudah terlalu lelah dalam berjalan di Jalan Salib kami ini. Papi menghembuskan napas terakhirnya persis setelah aku selesai mendoakan Rosario, dan Papi dinyatakan sudah tidak ada oleh dokter yang bertugas tidak lama setelah aku selesai mendoakan Doa Koronka.

Saat itulah air mataku sudah tidak menjadi air mata penuh duka, namun menjadi air mata  penuh haru, karena akhirnya kami bisa menyelesaikan Jalan Salib kami. Kami bisa mengklaim Mahkota Kebenaran seperti yang tertulis dalam 2 Timotius 4:7-8a “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan Tuhan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya”

Kami bisa dengan bangga mengatakan kepada semua orang “SUDAH SELESAI”.

Tugas perutusanku mendampingi papi “SUDAH SELESAI”.

Hidup Grey yang lama “SUDAH SELESAI”.

Kini di 9 Juni 2025, telah lahir Grey yang baru. Grey yang siap untuk melanjutkan tugas perutusan berikutnya.

 

AMDG

Wednesday, February 9, 2022

My 2021

Sejak mulai menulis blog, setiap akhir tahun dan awal tahun aku selalu mengusahakan menulis tentang refleksi perjalananku sepanjang tahun yang sudah lewat dan bagaimana aku ingin menjalani tahun yang berikutnya, meski pernah ada masanya aku pun tidak bisa menulis apa-apa karena pada saat itu aku tidak bisa merasakan apa-apa. Hidupku terasa kosong dan sama sekali tidak berarti.

Ada pula masa dimana aku merasa sangat sibuk, sampai aku tidak mampu mengucap syukur barang sedikit atas semua berkat yang telah aku terima. Seperti saat ini dimana aku merasa sangat sibuk sehingga aku hampir tidak memiliki waktu sejenak saja untuk bersyukur atas tahun 2021 yang sudah berlalu. Aku pun belum sempat memikirkan apa yang ingin aku lakukan dan aku capai untuk tahun 2022. Tau-tau tidak terasa Februari 2022 sudah lewat lagi beberapa hari.

Setelah tahun 2020 yang memiliki banyak peristiwa luar biasa yang menjadi awal perjalanan baru dalam hidupku, 2021 yang aku jalani tidak kalah memiliki banyak peristiwa yang mungkin bisa menjadi kenangan luar biasa di kemudian hari.

Berawal dari awal tahun yang sungguh sunyi bagiku, karena sepupu yang tinggal serumah denganku terjangkit COVID 19 sehingga kami bertiga, aku, dia, dan si mbok harus karantina mandiri bersama. Tidak boleh ada yang menjenguk, juga tidak boleh kemana-mana. Selama 14 hari kami bagaikan tawanan rumah. Masih beruntung aku dan si mbok baik-baik saja, tidak tertular sama sekali meski kami satu rumah. Masih beruntung juga, aku memiliki langganan tukang sayur yang masih mau mengantar pesanan bahan makanan sampai ke depan pagar rumah. Sehingga setidaknya untuk urusan logistik masih aman.

Berlanjut dengan hubunganku dengan kekasihku yang semakin hari semakin hambar dan semakin turun ke titik terendah. Ditambah orang dari masa laluku yang tiba-tiba menghubungiku semakin sering dan curhat bahwa hubungannya dengan partnernya pun sedang bermasalah.

Aku yang dulu selalu bisa menerima partnerku apa adanya, mulai menjadi serakah dengan membandingkan partnerku dengan orang di masa laluku. Padahal orang di masa laluku tersebut dari dulu terang-terangan tidak pernah menganggap aku ada di dalam hidupnya.

Pekerjaan yang tidak kunjung aku dapatkan meski sudah mengirim ratusan CV menambah perasaan tidak aman dan tidak nyaman buatku.

Beruntung pengalaman pribadi dikuatkan oleh Tuhan di tahun 2020 masih lekat diingatanku, sehingga setiap kali aku mulai diserang perasaan cemas, aku tau kemana dan bagaimana aku harus mencari pertolongan pertama. Saat itu untuk pertama kalinya secara sadar aku menyerahkan seluruh perjalanan hidupku kepada Tuhan. Ditengah kegalauanku saat itu, ada 2 kejadian yang seakan-akan kebetulan terjadi lagi.

Kejadian pertama adalah saat di Social Mediaku tiba-tiba muncul iklan career coaching. Sebenarnya hal ini sudah tidak aneh dengan kemajuan Artificial Intelligent yang memang terpasang di setiap socmed yang kita miliki. Namun iklan pertama yang aku temui tersebut, berhasil membuatku berkenalan dengan career coach yang (sepertinya) juga masih baru merintis bisnis coaching seperti itu, sehingga harga jasa yang ia tawarkan masih masuk ke dalam budgetku.

Lewat coaching tersebut aku dibukakan pikiran, bahwa masih banyak potensi potensi yang dapat aku kerjakan selain menjadi karyawan di kantor. Aku juga disarankan untuk tetap belajar dan mengambil sertifikasi-sertifikasi yang bisa membantuku “menjual” jasa, agar tidak hanya berharap untuk terus-terusan menjadi karyawan saja.

Hal kedua, yang seakan-akan terjadi kebetulan adalah aku “dipanggil” untuk menjadi fasilitator Latihan Rohani Pemula untuk kedua kalinya.

Kali pertama aku dipanggil disekitaran akhir 2020, saat itu aku masih tidak percaya diri. Namun ketika aku menolak juga ada perasaan menyesal yang sangat dalam, sehingga saat itu aku berdoa “Tuhan, kalau Engkau sungguh ingin memanggilku sebagai Fasilitator Latihan Rohani ini, panggillah sekali lagi, maka aku akan menjawab IYA.”

Sayangnya di season saat panggilan pertama itu, tidak pernah ada panggilan lagi. Sampai akhirnya, aku yang sedang merasa sangat cemas dan galau, merasa sangat membutuhan kehadiran Tuhan, bertanya di WAG Latihan Rohani group kecilku, apakah ada program lainnya yang seperti Latihan Rohani ini. Gayung bersambut, fasilitator kami saat itu menawarkan kembali kesempatan untuk menjadi fasilitator untuk season yang akan datang. Sesuai janjiku dalam doa, aku langsung meng-iya-kan. Dan saat itulah perjalanan hidupku yang ajaib seperti dimulai lagi.

Pada awalnya aku mengira menjadi Fasilitator itu seperti menjadi seorang guru, yang harus mengajar kepada para peserta. Semakin dekat acara dimulai aku semakin deg-deg-an. Bagaimana tidak, aku yang baru mengalami sedikit pengalaman bersama Tuhan, harus mengajar tentang Tuhan. Apa yang harus aku ajarkan?

Disaat aku berbeban berat seperti itu, keajaiban pertama saat itu muncul. Kelas pendalaman iman yang sedang aku ikuti saat itu memberikan topik “Panggilan Menjadi Fasilitator”. aku langsung ketawa saat melihat materi pengajaran saat itu, karena aku disadarkan lagi bahwa ini bukan suatu kebetulan.

Setelah selesai kelas, aku jadi sedikit lebih percaya diri. Namun ketika mulai pertemuan pertama, aku kembali merasa terbebani. Untung oleh para pembimbing, kami selalu diingatkan untuk berdoa sebelum mulai bertugas. Dalam doa saat itu aku mendengar suara “Bebaskan saja.” maka saat itu aku memutuskan untuk tidak sekedar menjadi “penunjuk jalan” bagi pesertaku, namun aku ikut untuk berjalan lagi bersama mereka.

Dalam perjalanan pertamaku sebagai fasilitator, aku kembali mulai merasakan jatuh bangun yang lebih berat dibanding waktu aku ikut Latihan Rohani ini sebagai peserta. Untungnya aku dan para pesertaku waktu itu dapat saling menguatkan satu dengan yang lain. Ketika acara selesai aku jadi memiliki keharuan tersendiri, dan aku kembali merasa dicintai, saat ada seorang pesertaku yang sampai mengirimkan kenang-kenangan untukku.

Oh ya, pada saat aku mengikuti Latihan Rohani sebagai peserta, aku tidak sempat mendapatkan materi minggu ke-5, yaitu “Asas dan Dasar: Panggilan Raja Abadi.” sehingga aku baru mengikuti materi tersebut bersama dengan para pesertaku sendiri.

Pada saat mendoakan materi Asas dan Dasar tersebut, selama beberapa hari aku mengalami ketakutan dan desolasi berat, sampai akhirnya aku tidak dapat menolak panggilan itu lagi, dan memutuskan untuk menjawab “Ya Tuhan, saya bersedia mengikutiMu.”.

Seperti biasa pada saat manusia berusaha mendekat kepada Tuhannya, maka godaan dan cobaan dari si jahat akan semakin kuat dirasakan. Baru 3 hari setelah memutuskan mengikuti Tuhan, masalah-masalah berdatangan dalam hidupku. Salah satunya akhirnya aku harus memutuskan hubunganku dengan pasanganku yang saat itu sudah berjalan melewati tahun ke-9.

Tapi kembali lagi, lewat kejadian-kejadian yang sudah berlalu, aku malah merasa semakin dituntun ke jalan yang benar. Kepahitanku saat itu, bahkan menghasilkan sebuah tulisan yang dijadikan rubrik utama di sebuah majalah rohani. Aku juga diundang untuk membuat video dan podcast kesaksian. Bahkan aku jadi dikenal oleh orang-orang yang cukup penting di gereja. Suatu hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Pasanganku waktu itu, karena aku memutuskannya, dia sempat tidak terima dan terus mempertanyakan keputusanku. Karena aku bersikap cuek dan keras kepadanya, mau tidak mau dia mengikutiku lewat kegiatan-kegiatan yang saat itu sedang aku jalani, yang semuanya berhubungan dengan pencarianku tentang Tuhan. Padahal awalnya dia yang merasa risih dengan aktivitasku di komunitas gereja, sehingga semakin memicu keyakinanku bahwa kami memang sudah tidak sejalan.

Keteguhan pasanganku untuk memperbaiki diri dan berserah kepada Tuhan, juga ternyata membuahkan hasil. Karena pada akhirnya Tuhan kembali menunjukkan keajaibannya. Lewat masalah yang terjadi pada sahabat baiknya dan pasangannya, ia jadi memahami masalah yang terjadi dalam hubungan kami. Aku pun jadi tidak sampai hati untuk tidak memaafkannya. Sehingga aku memutuskan untuk memberinya kesempatan terakhir untuk memperbaiki hubungan kami.

Dan menjelang beberapa hari sebelum tutup tahun, lagi-lagi aku mendapatkan keajaiban yang aku anggap sebagai hadiah Natal dari Tuhan, yaitu aku mendapat sertifikasi profesi. Padahal waktu ujian, aku sudah pasrah karena tidak sempat belajar karena kesibukanku waktu itu.

Sekali lagi aku merasa bahwa tahun 2021 lalu menjadi tahun berkat untukku. Aku yang sepanjang 2021 juga tidak memiliki pekerjaan tetap, ternyata tetap mampu memenuhi kebutuhanku sepanjang tahun tersebut. Aku sungguh-sungguh merasakan janji Tuhan yang digenapinya untukku.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” - Matius 6:33