Wednesday, June 8, 2016

Juni 2016

Setiap bulan Juni, bahkan beberapa minggu sebelum bulan Juni, aku selalu galau. 
Galau karena akan bertambah usia, galau karena banyak kenangan tentang bulan Juni. 
Tapi aku sedang tidak ingin bergalau-galau ria dia H – beberapa jam sebelum aku tambah tua. Aku hanya ingin bersyukur atas semua yang sudah lewat, semua yang sudah menjadi kenangan. 

FYI, selama bulan Mei 2016 kemarin, adalah puncak kesibukanku dalam 1,5 tahun ini. Sejak aku kuliah, aku harus triple job antara kerjaan, kuliah, dan Film Festival. Semester ini, karena merupakan semester terakhirku di kampus, aku semakin sibuk dengan Thesis, belum lagi masih ada kelas yang harus kuhadiri, dan project dari kampus sebagai salah satu syarat kelulusan. Di pekerjaan, bulan Mei kemarin aku harus mengurus Grand Launching perusahaan baruku, dan di film festival, aku masih harus mengurus pemutaran khusus untuk pencarian dana.

Untungnya semua berakhir tepat di akhir Mei, dan saat memasuki bulan Juni, aku sudah tinggal menunggu hasil dari kerja kerasku selama beberapa bulan. Di tanggal 1 Juni, aku sudah mendapat kepastian untuk kelulusan sidang thesisku. Di tanggal 8 Juni, aku sudah mendapat kepastian nilai projectku.

It’s really nicest birthday gift right?

Tinggal tunggu nilai thesis keluar sih. Juni 2016, menjadi Juni istimewa dalam hidupku. Setelah bulan Juni 2005, yang lalu dimana pada tahun itu aku akhirnya memperoleh keajaiban tentang penglihatanku yang sembuh lewat lasik. Tahun ini, akhirnya aku berhasil meraih mimpiku untuk mendapat gelar S2.

Satu lagi mimpiku yang menjadi nyata, aku turun berat badan lebih dari 5 kg selama 2 bulan. Ini salah satu hal ajaib yang hampir tidak pernah terjadi sepanjang 32 tahun kehidupanku di dunia ini. Padahal biasa diet mati-matian pun tidak pernah bisa turun berat badan, tapi kali ini karena stress bercampur kelelahan, yang bikin berat badanku turun banyak. Karena sudah nanggung, sekalian lha aku diet agar berat yang sudah turun tidak kembali ke asalnya.

“Anugerah Tuhan apalagi yang kau dustakan grey?” akan menjadi pertanyaan yang bagus.

Kurang baik apalagi Tuhan dalam hidupku. Meski banyak masalah dan cobaan, meski aku tidak bisa menjadi orang baik, tapi Tuhan tetap baik kepadaku. Dia masih memberiku banyak hadiah, dan menguatkanku dalam menjalani prosesnya.

Terima kasih Tuhan atas 32 tahun kehidupanku, dan 8 tahun blog ini ternyata masih bisa eksis meski sudah jarang kusentuh.

Selamat ulang tahun Gemini.

Saturday, February 20, 2016

Jessica, Mirna, dan Pengadilan Social

Dalam satu bulan terakhir ini, seluruh media di Indonesia dihebohkan oleh kasus kematian seorang wanita sehabis meminum kopi bersama 2 orang sahabatnya. Meski awalnya media hanya menyebutkan inisial nama, namun akhirnya nama lengkap korban, saksi, tersangka kasus dan keluarga masing-masing pihak di tuliskan sejelas-jelasnya. 

Nama korban tewas adalah Mirna, dan sahabatnya yang menjadi saksi sekaligus tersangka adalah Jessica. Nama-nama terkait lainnya tidak perlu dibahas, karena saya malas menulis dan karena tokoh utama di tulisan saya ini memang hanya Jessica dan Mirna menurut sudut pandang pribadi saya.

Sampai tulisan ini saya buat, kasus pembunuhan Mirna lewat kopi yang mengandung sianida ini masih sangat misterius. Bukti-bukti yang digunakan polisi untuk menjadikan Jessica tersangka masih sangat minim dan penuh dengan asumsi-asumsi saja. Namun sejak beberapa jam kasus kematian Mirna menyebar di social media, hampir semua beritanya sangat menyudutkan Jessica. 

Pihak keluarga korban, maupun masyarakat mendadak membuat pengadilan sendiri untuk mengadili “tersangka”. Polisi pun terkesan terburu-buru ketika memberikan status tersangka kepada Jessica, tanpa menggunakan asas praduga tak bersalah yang sudah seharusnya menjadi hak semua orang yang belum terbukti bersalah. Polisi hanya beralasan, agar Jessica tidak melarikan diri dan tidak menghilangkan barang bukti, ketika memutuskan menahan Jessica dan memberikannya status tersangka. 

Huft…. Saya tidak bisa memberikan komentar apapun setiap membaca berita tentang Jessica – Mirna ini, karena saat ini masyarakat Indonesia sedang sangat mudah dipecah belah oleh Pro-Kontra. Apalagi “gossip” dibelakang kasus ini adalah cinta sejenis, yang juga sedang hot-hotnya dibahas di Media. Inilah yang membuat saya malas berdebat di kolom komentar di setiap berita, karena orang Indonesia lebih mendahulukan opini pribadi dan kata “Pokoknya”, dibandingkan dengan logika sehat dan tulisan-tulisan karya ilmiah. 

Saya hanya bisa memberikan EMPATI terhadap kasus Jessica-Mirna. 

**** 

Keluarga Mirna 

Saya bisa merasakan rasa sakit hati, marah, dan dendam, yang dialami keluarga Mirna saat mengetahui orang tersayang mereka meninggal mendadak, apalagi meninggalnya tidak secara normal. Di tinggal wafat oleh orang tersayang karena serangan jantung atau kecelakaan saja sudah sangat shock, apalagi karena dibunuh (atau terbunuh). 

Namun apakah tidak sebaiknya, menyerahkan kasus ini ke penyelidikan kepolisian, dari pada tampil di media massa dengan emosi dan memperkeruh suasana? Bagaimana kalau ternyata kecurigaan mereka tidak terbukti? 

Jessica 

Saya pernah tinggal di luar negeri dalam rangka belajar, meski tidak selama Jessica dan Mirna tinggal di Australia. Ketika tinggal di luar negeri, saya pun memiliki banyak teman yang pada waktu itu menjadi teman senasib. Sebagai sesama anak Indonesia yang tinggal diperantauan, otomatis kami sering berkumpul entah sekedar untuk makan bersama, belajar, jalan-jalan, atau pun sekedar minum-minum cantik dan bergosip. Maklum, kami jauh dari keluarga saat itu. 

Sepulangnya kami dari luar negeri itu, kami berusaha untuk masih saling kontak-kontakan, via Whatsapp, Facebook, dan social media lainnya, meski tentu saja tidak bisa sesering dan sedekat ketika kami masih sama-sama di perantauan. Bila ada waktu, atau bila ada teman lama yang datang ke Jakarta, kami pun mengusahakan untuk berkumpul, sekedar untuk mengenang masa-masa kami masih bisa sering bersama. 

Meski bukan sebuah kebiasaan, namun beberapa kali kami saling bergantian mentraktir ketika berkumpul bersama. Buat saya pribadi, mentraktir teman lama adalah sebuah aktualisasi diri untuk menyatakan “Sist, gw udah cukup sukses sekarang. Minum-minum cantik begini doang mah udah lha, gw yang bayar aja. Next baru lo yang bayar.” 

Pengalaman saya diatas miripkan dengan latar belakang kasus yang menimpa Jessica? 

Beberapa orang yang berteman sejak sekolah dari Australia, janjian kumpul bersama setelah sekian lama tidak berjumpa. Salah satu dari mereka, ingin mentraktir teman-temannya. Lalu bertemulah mereka di sebuah cafĂ© di Mall mewah di Jakarta. Saling berpelukan dan cipika-cipiki. 

Satu-satunya yang membedakan dari cerita saya dan Jessica adalah tidak ada teman saya yang meninggal ketika kami berkumpul bersama, apalagi ketika saya yang giliran mentraktir teman-teman saya. Terima kasih Tuhan untuk hal itu. 

Jujur saja, dengan kemiripan pengalaman saya dan Jessica, saya sering membayangkan diri saya berada di posisi Jessica saat ini. Menjadi tersangka karena ada teman yang meninggal ketika saya mentraktir minuman. Padahal belum tentu saya tau tentang minuman beracun tersebut. Seandainya saya yang berada di posisi Jessica saat ini, belum tentu saya bisa sekuat dia. Apalagi dengan latar belakang depresi yang saya miliki, bisa-bisa begitu dijadikan tersangka, saya akan berusaha bunuh diri duluan. 

Yang paling menyakitkan dari kasus Jessica ini adalah PENGADILAN SOSIAL yang langsung terjadi sejak beberapa jam setelah kasus tersebut beredar di social media, bahkan sebelum polisi memeriksa dan mengautopsi korban. Hanya 3 jam setelah info pertama tentang kematian Mirna saya terima, saya sudah mendapat 3 versi cerita dibalik kematian tersebut. Luar biasa kan? 

Versi pertama, adalah tentang hubungan sejenis antara Mirna dan Jessica, yang membuat Jessica membunuh Mirna karena cemburu setelah ditinggal menikah. Versi kedua, adalah Jessica membunuh Mirna karena merebut kekasihnya. Versi ketiga, adalah Mirna meninggal karena kebanyakan minum obat diet, dan langsung minum kopi tanpa makan terlebih dahulu. 

Pada akhirnya versi pertamalah yang di besarkan media, dan keluarga korban, khususnya kasus ini terjadi hampir bersamaan dengan issue LBGT yang tiba-tiba “meledak” juga di media social. Ntah benar atau tidak, sampai saat ini belum ada bukti, kecuali atas pengakuan keluarga korban, dan pengadilan social media yang tampak sudah tidak adil bagi Jessica. Namun melihat foto-foto masa lalu Jessica, Mirna, dan teman-teman lainnya yang beredar di social media, mengingatkan saya kembali pada diri saya sendiri dan teman-teman saya, sehingga jauh di dalam lubuk hati saya, saya mempercayai bahwa Jessica tidak punya hati untuk mencelakakan Mirna.

Dibawah ini, adalah berita-berita tentang kejanggalan-kejanggalan pada kasus Jessica-Mirna yang dikutip dari sumber yang bisa dipertanggung jawabkan :

http://news.detik.com/berita/3131104/pakar-psikologi-forensik-ini-yakin-jessica-bukan-pembunuh-mirna 

http://www.tribunnews.com/nasional/2016/02/05/lima-kejanggalan-kasus-mirna-versi-komnas-ham

http://www.tribunnews.com/metropolitan/2016/02/05/pakar-hukum-jessica-orang-salah-di-tempat-yang-salah 

http://www.beritasatu.com/megapolitan/347439-hotman-paris-yakin-jessica-bebas-di-pengadilan.html