Friday, April 20, 2012

TITANIC : tragedi tak terlupakan



100 tahun yang lalu pada tanggal 15 April 1912, Titanic, sebuah kapal pesiar termewah saat itu tenggelam dengan korban jiwa mencapai ribuan. Berlatar belakang sejarah inilah sutradara James Cameron membuat film Titanic. Sebuah film drama kisah cinta sepasang anak muda Jack-Rose, dan perjuangan mereka untuk menyelamatkan diri dari bencana besar tersebut.

15 tahun yang lalu, kira-kira di akhir tahun 1997, film Titanic buatan James Cameron ini begitu menghebohkan dunia perfilman. Film Titanic menjadi box office di bioskop-bioskop seluruh dunia. Lagu My Heart Will Go On yang jadi nyanyikan Celine Dion pun selama belasan minggu masuk ke daftar Top 10 lagu terbaik hampir di semua radio dan station TV.

15 tahun yang lalu, aku masih seorang anak ABG yang menjadi penasaran dengan berita tentang film yang menghebohkan tersebut. Saat itu aku belum menjadi pecinta film-film bioskop, namun aku adalah seorang pecinta sejarah. Sehingga ketika promo film tersebut membawa embel-embel “based on true story” aku meyakinkan diri HARUS menonton film tersebut.

Kebetulan beberapa teman sekelasku mengajak nonton di bioskop, maka aku segera menabung untuk bisa ikutan mereka menonton. 15 tahun yang lalu, harga tiket bioskop hanya berkisar Rp. 8,000 – Rp. 12,000 tergantung lokasi bioskop. Dan saat itu, dengan nilai uang segitu, aku sudah dapat membeli makan siang yang cukup bergizi untuk 4 hari.

Tapi demi menghapus rasa penasaranku, aku rela menahan lapar selama 4 hari dan rela membolos acara sekolah. “Aku akan menjadi saksi sejarah. Do it now or never.” Begitulah pikiranku saat itu yang masih ABG. Siapa sangka sepulang dari bioskop, aku langsung kena marah oma-ku karena ternyata ada salah seorang teman yang tidak ikut menonton, menelpon ke rumah mencariku karena aku tidak ada di sekolah.

Untung saja film Titanic memang patut di acungkan jempol. Sehingga hingga saat ini pun aku tidak merasa menyesal saat itu aku sampai di marahi karena memaksakan diri pergi nonton di bioskop dan terpaksa menahan lapar selama beberapa hari.

April 2012, setelah 15 tahun berlalu, James Cameron kembali mengedarkan film Titanic dalam versi 3D untuk mengenang 100 tahun tragedi Titanic.

April 2012, aku sudah bukan anak ABG lagi, dan harga tiket nonton sudah tidak semahal empat kali makan siang lagi. Kali ini aku sudah tidak perlu membolos dan mencuri-curi kesempatan lagi untuk menonton. Karena aku pergi menonton bersama mami dan omaku. Sambil mengenang masa-masa ABG yang penuh kenakalan remaja.

Sunday, March 11, 2012

Bali, I'm in love


Akhirnya cita-citaku ke Bali tanpa harus di dampingi keluarga tercapai juga. Gara-gara temenku si Tizz neh yang ngajak-ngajakin ke Bali, akhirnya aku jadi punya alasan deh buat ke main-main ke Bali dan nemuin seseorang disana. Abis kalo tau-tau ke Bali sendirian kan jadi aneh, lagian alasan sama orang rumahnya apa coba.

Awalnya aku yakin liburan kali ini akan bebas sebebas bebasnya dari cobaan, ehhh ternyata butuh perjuangan euy buat liburan doang. Mulai dari masalah kantor yang terus menerus meneror sampai data gaji pegawai yang belum selesai-selesai di input sama HRD padahal harus segera aku selesaikan hitungannya sebelum aku cuti, yang akhirnya membuatku harus bawa-bawa kerjaan ke Bali. Dan mentok-mentoknya 5 hari aku disana, 3 hari untuk kerja. Liburannya tetep aja cuma sabtu-minggu doang. Tapi untungnya liburan yang sangat terbatas itu dapat menjadi liburan paling berkesan dalam hidupkyuuu.....

Kesan pertama yang cukup mendalam tentu saja masih tentang pekerjaan yang harus di bawa ke tempat liburan. Yang bikin 2 hari pertama disana aku ngomel-ngomel mulu ngga keruan karena disaat Tizz pergi jalan-jalan aku terpaksa nunggu di hotel untuk menyelesaikan pekerjaan. Bahkan “impianku” untuk Spa Treatment terpaksa harus ku kubur dalam-dalam.

Namun ternyata rasa kesalku karena tidak bisa sepuasnya menikmati liburan bisa terbayar hanya dengan 2 hari liburan berkualitas bersama sahabat dan seseorangku dengan pergi Diving dan menikmati indahnya pemandangan bawah laut Tulamben yang di hiasi oleh bekas kapal perang Amerika yang karam disitu. Sepanjang perjalanan pergi sampai pulang kembali ke Denpasar, kami bercanda dan saling mengejek tanpa henti.

Kesenangan kami hanya berhenti sesaat karena aku mendapat sedikit berita tidak enak tentang konfirmasi penginapan yang sudah kulakukan jauh-jauh hari tapi ternyata namaku tidak tercatat, dan pengurusnya mengatakan bila kami tetap mau menginap disana akan ada biaya tambahan untuk mobil yang kami bawa. Meski agak kesal tapi karena mengingat kami sudah tidak ada waktu lagi untuk mencari penginapan lain dengan harga yang masih terjangkau, terpaksa kami tetap memesan penginapan tersebut dan memasrahkan tentang biaya-biaya yang ditambahkan seenaknya.

Namun sepertinya Tuhan ingin menghadiahkan kami hal lain dalam liburan tersebut. Beberapa saat sebelum kami sampai kembali di Denpasar, mendadak Apisindica yang kebetulan sama-sama sedang berada di Bali, menawarkan untuk menginap bersama di sebuah villa mewah tempat sahabatnya bekerja. Padahal biasanya Villa tersebut disewakan seharga 555-1,000 USD per malam. Yah sudah tanpa perlu berpikir dua kali kami membatalkan penginapan yang sudah kami pesan dan langsung menjemput Apisindica untuk bersama-sama menuju villa tersebut.

Sesampainya di villa yang lokasinya ternyata butuh perjuangan untuk mencari, kami sudah disambut oleh teman-temannya Apisindica yang ramah dan gokil-gokil. Ighhh seru banget deh bercanda sama mereka. Padahal baru pertama ketemu.

Liburan ke Bali, anak muda semua, tanpa pergi clubbing sepertinya kurang lengkap. Menjelang tengah malam, setelah semuanya beristirahat sejenak, kami lanjut ke Dhyana Pura. Minum-minum dikit, goyang-goyang dikit, ketawa-ketiwi lagi, ketemuan dengan teman-teman lain yang ternyata juga Party lovers menutup hari yang luar biasa. Menjelang subuh kami baru kembali ke Villa dan langsung tidur dengan sukses sampe menjelang siang.

Keesokan harinya karena kami memiliki rencana yang berbeda, kami terpaksa berpisah. Tapi sebagai generasi narsis dan eksis yang memiliki “Pleasure Seekers” sebagai model, sesi foto-foto di villa mewah tersebut tidak boleh terlewatkan. Apalagi jarang-jarang bisa menginap gratis disana.

Ah senangnya liburan kali ini. Semua rasa kesalku di awal liburan terbayar sudah.