
Cinta dan persahabatan mungkin adalah dua anugerah terindah yang dapat dimiliki oleh semua orang. Dapat hidup bersama orang-orang yang kita cintai dan dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang selalu mendampingi baik dalam suka maupun duka, mungkin adalah kebahagian terbesar yang selalu didambakan oleh semua orang.
Namun ada kalanya ternyata cinta dan persahabatan tidak dapat berjalan beriringan. Ada yang kekasihnya dan sahabatnya ternyata saling bertolak belakang dan saling tidak menyukai, ada yang jatuh cinta pada sahabatnya sendiri sehingga akhirnya mengacaukan hubungan yang sudah ada. Dan ternyata yang paling menyakitkan diantara itu semua adalah bila kita dan sahabat ternyata mencintai orang yang sama.
What the Drama?? Cinta segitiga kan cuma ada di sinetron-sinetron atau telenovela atau cerita-cerita picisan?? Mungkin itu yang ada di pikiran kalian saat ini. Aku pun ingin berpikiran seperti itu. Sayangnya aku sudah pernah mengalami kejadian yang mirip hanya berbeda waktu dan tokoh.
Dulu ketika aku masih remaja dan duduk di bangku SMU, aku pernah mencintai gadis yang sama dengan yang di taksir oleh kedua sahabat lelaki-ku, Ndi dan Gus. Kami bertiga mati-matian merebut perhatian Stella, putri impian kami, meski saat itu aku masih tidak berani berterus terang bahwa aku juga mencintai Stella.
Dan ternyata drama percintaan kami saat itu malah berakhir tragis, dengan pecahnya persahabatanku dengan Ndi dan Gus. Kedua sahabatku itu bertengkar karena berebut Stella, dan aku tidak dapat memihak salah satu pun dari mereka, karena hati kecilku juga tidak dapat merelakan Stella untuk salah satu dari mereka.
Sekarang, setelah lewat beberapa tahun, aku kembali mencintai wanita yang sama dengan sahabatku. Ingin rasanya aku menjadi seorang bitch untuk merebut hati gadisku, menghapus penyesalan di masa lalu saat aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk merebut hati gadis yang kucintai, tapi melihat kebahagian yang terpancar dari wajah sahabatku, membaca status-statusnya yang penuh dengan cinta, sikapnya yang polos, semakin membuatku tidak tega merusak kebahagiaannya.
Munafik kah aku?? Yah I think yes. Saat ini aku merasa menjadi orang yang munafik saat ku katakan, aku baik-baik saja. Aku munafik bila kukatakan aku tidak cemburu. Aku juga munafik bila kukatakan, aku merelakan mereka hidup bahagia. Hati kecilku ingin sekali memutar balikan keadaan, tapi aku sungguh aku tidak tau harus berbuat apa.
Dan yang paling kuinginkan saat ini adalah menghilang.
Grey_S