Thursday, April 9, 2009

Pemilu 9 April 2009


Hari ini (hampir) seluruh rakyat Indonesia merayakan pesta Demokrasi (apa Democrazy yah????). Sebagai Warga Indonesia yang baik, aku juga ikutan dong. Meski tadinya udah malas ikutan. Secara disini milihnya jauh, harus ke KBRIT (Kedutaan Besar Republik Indonesia Tercinta) yang jauhnya amit-amit, ada kelas sampai jam 3, sorenya ada misa kamis putih, ga tau mau milih apaan, dan sudah yakin 100% tidak terdaftar sebagai pemilih disini.

Tapiiiii….. karena ada yang bilang kalau ada bazaar makanan Indo, dan memang lagi malas ikut kelas, jadilah semalam aku mutusin ikutan pergi ke KBRI. Lagian setelah di pikir-pikir, kapan lagi ada kesempatan melihat hajatan-nya Indonesia di negara orang. Belum tentu kan 5 tahun lagi aku masih di negara orang.

Minimal meski tetep tidak ikutan milih, tapi bisa foto-foto plus makan-makanan Indo yang harganya lebih terjangkau daripada beli di Restorant. Terus tadi pagi di kasih tau kalau ada bus yang bakal menjemput di sekolah, jadi tidak perlu repot-repot naik Ditie dan yang penting ga perlu keluar uang untuk transportasi. Tinggal duduk, ngobrol-ngobrol atau tidur… sampai deh….

Sampai disana iseng-iseng nyari nama di daftar pemilih…. Tidak ada…. Ikutan temen nyamperin panitianya…. Nanya-nanya…

Grey : Pak, kok nama saya tidak tercantum yah???
Panitia : Nama mbak siapa???
Grey : Grey Sebastian
Panitia : Iya. Kok tidak tercantum yah??? Mbak sudah lapor sebagai penduduk luar negeri??
Grey : Sudah kok. Sejak Oktober 2008. (padahal memang terdaftarnya cuma untuk 6 bulan)
Panitia : Sebentar saya check…. (setelah sekian lama dan bikin BT) Waduh mbak, kami minta maaf nih, kayaknya memang ada masalah di sistem komputer kita, jadi memang ada beberapa kasus namanya tidak tercantum. Tapi sekarang nama mbak sudah terdaftar untuk pemilu President.
Grey : Yah…. Ga pa pa deh… berarti sekarang saya sudah boleh ikutan makan dong? (dengan wajah tidak berdosa)
Panitia :……?????

Meski tidak jadi ikutan milih, tapi yang penting tujuan utama ke KBRI sudah tercapai. Hunting makanan Indo. Eit... tapi jangan mikir makanan-makanan itu gratis yah... TETEP BAYAR !! tapi harganya agak terjangkau. Yah memang seh harganya ada yang lebih mahal, ada yang lebih murah dari restorant. Tapi karena waktu dan kapasitas perut yang terbatas, akhirnya cuma nyicipin nasi uduk, bakwan, dan sate.

Nasi uduknya 1 porsi ukuran cukup gede di jual 15RMB, lebih murah 50% dari di restorant. Bakwannya 1 potong kecil banget 2RMB (kalo di Indo bisa dapat 5 potong yang gede-gede tuh). Yang agak kebangetan sih satenya, 1 porsi sate isi 3 tusuk plus lontong 5 potong kecil, masa di jual 13RMB cuma karena pakai bumbu kacang. Padahal kalau pakai bumbu cabai bubuk biasa bisa dibeli cuma dengan harga 1 RMB. Yah tapi karena sate dengan bumbu kacang susah di cari yah sutra lha….


Grey_S


Monday, April 6, 2009

Diantara 2 dunia

Pernahkah kalian mengalami hidup diantara 2 dunia?? Dimana sewaktu-waktu kita harus selalu siap berubah menjadi 2 orang yang berbeda, demi kebahagian orang-orang terdekat kita. Aku rasa semua orang pernah mengalami hal ini. Bukankah hidup itu memang punya 2 sisi, seperti uang logam?

Aku sangat percaya bila dunia memang di ciptakan dalam 2 sisi. Hitam dan putih, kanan dan kiri, atas dan bawah, lurus dan belok, baik dan buruk, asli dan palsu, nyata dan maya. Dan manusia selalu berada diantara keduanya.

Sulit merealisasikan diri sendiri di dunia nyata karena tekanan dan tuntutan dari berbagai pihak, kadang juga membuat kita harus kehilangan diri sendiri. Sehingga kata-kata “Be yourself” menjadi impian yang mungkin benar-benar hanya mimpi. Kita tidak boleh egois dalam mempertahankan idealisme kita kan? Apalagi kalau kita tahu idealisme kita akan melukai banyak pihak dan merugikan diri kita sendiri.

Tidak heran kalau akhirnya banyak orang yang mengalami krisis identitas saat di satu sisi ingin membahagiakan orang-orang di sekitarnya, sedangkan disisi lain ia ingin menjadi diri sendiri. Bahkan para superhero di film-film pun selalu di gambarkan sebagai orang yang mengalami krisis identitas dan harus hidup di dalam 2 dunia. Karena mereka tidak bisa menjadi diri mereka sendiri.

Sayangnya hidup kita bukan di film sehingga akhirnya dunia maya menjadi pilihan yang paling nyaman untuk menciptakan sosok seperti yang kita inginkan. Tidak heran juga kalau saat ini gadget yang bisa membuat orang terhubung ke dalam dunia maya dimanapun dan kapanpun digilai banyak orang.

Seperti saat ini, aku juga sering mengalami krisis identitas karena hidupku yang berada dalam 2 dunia. Dunia nyata dan dunia maya, dunia LGBT dan dunia hetero. Sampai terkadang aku sendiri tidak bisa membedakan mana yang benar-benar nyata dan mana yang hanya ilusi-ku semata. Mana yang Grey Sebastian dan mana yang seseorang di balik Grey Sebastian.

Hal ini juga yang membuat aku tidak pernah percaya dengan hubungan percintaan lewat Chatting. Lain cerita kalau di dunia nyata mereka memang sudah saling mengenal, sehingga hanya perlu mengenal lebih dekat lagi lewat chatting.

Menurut seorang teman dunia mayaku, aku adalah salah seorang popular. “Who doesn’t know Grey Sebastian” katanya. Aku punya temen-teman yang juga orang-orang terkenal. Tulisanku pernah beberapa kali dimuat di SepociKopi, majalah lesbian online pertama yang paling terkenal. Aku punya blog pribadi yang sudah mendapat rekomendasi di The Planet SepociKopi. Sehingga menurutnya pasti mudah bagiku untuk mendapatkan wanita manapun.

Satu hal yang dia lupa, Grey Sebastian itu sebenarnya tidak pernah ada. Dia hanya seseorang yang hidup di dunia maya. Coba cari di daftar pemilih untuk pemilu nanti, apakah ada nama Grey Sebastian? Coba cari di daftar WNI yang tinggal di Beijing, apakah ada nama Grey Sebastian? Coba juga cari di daftar penduduk Jakarta, apakah ada KTP atas nama Grey Sebastian? Pasti tidak ada.

Sedangkan sebagai seseorang di balik Grey Sebastian, aku tidak sehebat yang dia kira. Aku masih belum bekerja. Aku masih bergantung pada orang tua. Memiliki kesulitan berkomunikasi. Sama sekali tidak popular. Aku hanya beruntung memiliki kesempatan untuk belajar di negara asing. Sehingga menurutku tidak ada yang perlu terlalu di banggakan dari diriku. Karena Grey Sebastian dan orang dibaliknya adalah 2 orang yang berbeda. Meski aku juga tetap bangga menjadi diriku sendiri.

Dan sebagai seseorang yang hidup di 2 dunia, jangan heran kalau aku selalu punya 2 account. Aku punya 2 account Facebook, aku punya 2 account yahoo, aku punya 2 account Yahoo Messenger. Dulu aku juga punya 2 account Friendster. Hal ini membuat aku sedikit kerepotan dan memerlukan waktu lebih banyak di depan computer. Karena selain harus mengupdate tentang Grey Sebastian, aku juga harus menyapa teman-teman di dunia nyataku. Tentu saja ini aku lakukan hanya agar mereka tahu bahwa aku baik-baik saja dan masih hidup.

Aku pribadi lebih suka hidup sebagai Grey Sebastian, begitu aku menyalakan komputer dan mengaktifkan internet. Mungkin alasanku sama dengan teman-teman yang lain, yang juga hidup di dalam 2 dunia, karena Grey Sebastian adalah pribadiku yang lain, yang sulit aku realisasikan di dunia nyata.


Grey_S