Saturday, June 13, 2009

Idola juga manusia

Beberapa hari yang lalu saya membaca blognya Ibu Sinyo, yang menuliskan betapa risihnya ia dengan banyaknya ABG saat ini yang mengikuti gaya band “the Virgin”. Band hasil bentukan Ahmad Dhani, yang beranggotakan dua perempuan belia Mitha dan Dara.

Kalau saja yang di tiru oleh ABG-ABG penggemar band virgin hanyalah cara berpakaian atau cara berdandan, mungkin ibu Sinyo tidak akan merasa begitu risih. Sayangnya ABG-ABG itu meniru pula kemesraan-kemesraan yang di tampilkan oleh Mitha-Dara dalam setiap foto session atau setiap aksi panggung mereka. Jadilah saat ini mendadak banyak yang ABG-ABG yang LESBIAN (ngeLESBI di jalAN).

Fenomena ini tentu saja membuat risih para lesbian yang masih in the closet. Sampai Keizo, bertanya apakah semua perempuan itu punya “bakat” menjadi lesbian. Jawab Sinyo, mungkin benar sebagian perempuan mempunyai bakat menjadi lesbian, namun sebagian lagi hanyalah ikut-ikutan gaya dari idola mereka.

Loh?? Kok bisa lesbian menjadi “gaya”??

Bisa dong.

Dalam Kamus Kata-kata Serapan Asing Dalam Bahasa Indonesia, “idola” adalah orang atau tokoh yang di jadikan pujaan. Memiliki seseorang pujaan, membuat orang yang memuja merasa ingin selalu berada di dekat pujaannya. Caranya tentu saja dengan meniru gaya sang pujaan, mengkoleksi benda-benda yang bisa mengingatkannya kepada sang pujaan, atau menjadi pengikut sang pujaan.

Jadi kalau sang idola itu merupakan pria-pria “cantik” atau perempuan-perempuan “tampan”, maka penggemarnya pun akan ikutan berdandan menjadi seperti mereka. Dan kalau sang idola itu lesbian atau berlagak lesbian, yah penggemarnya juga akan ikut-ikutan bergaya lesbian.

Tapi apakah dengan mengidolakan mereka artinya sang penggemar sudah menjadi homosex?

Tentu saja belum tentu.

Karena dalam mengidolakan seseorang tidak ada hubungannya dengan gender dan orientasi sex apalagi dengan perasaan cinta. Semua bisa menjadi homo dan hetero secara bebas. Sama seperti jaman dahulu kaum pagan memuja para dewa-dewi yang cantik dan tampan, atau yang memiliki kemampuan hebat. Saat ini pun orang menjadi tidak peduli yang di pujanya itu pria atau wanita, selama mereka cantik dan tampan atau memiliki kemampuan, pastilah mereka mempunyai penggemar fanatik yang selalu mengikuti mereka.

Sayangnya saat seseorang sudah mengidolakan secara fanatik, kadang mereka sudah tidak menggunakan logika lagi. Apapun akan di lakukan untuk mendekati kehidupan sang idola. Bahkan terkadang dengan alasan yang sangat berlebihan dan tidak masuk akal, mereka bisa berbuat anarkis.

Tidak sedikit kita mendengar kasus selebriti yang di bunuh oleh penggemarnya sendiri seperti Gianni Versace dan John Lennon. Atau kasus 3 penggemar Hideto Matsumoto, gitaris sekaligus penulis lagu band X Japan, yang bunuh diri dengan cara yang sama seperti yang di lakukan Hideto.

Padahal kalau para penggemar itu mau sedikit menggunakan logika, idola mereka kan masih manusia biasa yang memiliki kekurangan dan bisa melakukan kesalahan. Kenapa juga tidak di tiru sisi baiknya saja, dan belajar dari kesalahan mereka.



Grey_S
atas ide dari Sinyo & Laksmi

7 comments:

watashi wa eru desu said...

GREAT...

Ed said...

Bukan bermaksud mencari siapa yang harus disalahkan, karena sebetulnya memang ngga ada yang bisa disalahkan secara mutlak, karena masing-masing memberi kontribusi atas trend ini.... tapi yang bikin gw miris belakangan ini, kenapa mereka-mereka para seniman jaman sekarang rela melakukan apa aja demi trik marketing dan kantong pribadi mereka...

Setelah itu mereka lepas tangan atas dampak yang telah ditimbulkan... mereka ngga peduli trend mereka akan mengganggu banyak orang yang secara tidak langsung bersinggungan dengan aksi yang mereka buat....

mereka tau betul bahwa negara kita sangat potensial untuk meraup untung sebanyak-banyaknya karena masyarakatnya sangat mudah untuk dimanipulasi....

Hmmm.... miris banget gweh...

Ms. Grey said...

@ Watashi : thx yah udah mampir

@ Sinting Maut : Yah begitulah dunia masa kini.
Tapi semuanya memang harus balik lagi ke masing-masing orangnya.

Anonymous said...

* Weitssss Grey kembali dengan gaya postingannya!!!

yah... tiap2 orang bertanggung jawab ma dirinya masing-masing.. tapi memang sih, tiap idola juga harusnya punya tanggung jawab atas massa yang mereka .... seringkali gaung dari kata-kata idola itu lebih tok cer ketimbang politisi yang ngomong

Arinie said...

sayang banget yaa kalau mereka meniru sang idola secara membabi buta dan mengabaikan rasio mereka...kalau sudah seperti ini mestinya sang idola dan labelnya harus juga merasa bertanggung jawab...great posting grey

Sinyo said...

Nice posting, Grey. Grey lebih dalam menggali idenya.

@Sinting Maut, itulah mengapa sekarang banyak artis dan selebriti menjadi anggota Parlemen, lepas dari apakah mereka mumpuni dlm dunia politik. Mereka berhasil mengandalkan popularitas semata.

Konon, ada grup band yang mengisi soundtrack film laskar pelangi. Grup Band ini kemudian menerima tawaran iklan sebuah merk rokok terkenal. Masyarakat yang mengetahui hal ini memprotes Band tsbt untuk menjadi iklan rokok, karena masyarakat telah memposisikan Band tsb idola kanak2 dan remaja. Masyarakat takut seandainya iklan itu jadi, kanak2 dan remaja akan mengikti gaya Band Idola mereka.

Ms. Grey said...

@ Sinyo : Thx yah untuk postingan yg kali ini.