Sunday, August 6, 2017

Me and My Depression

Ada seseorang yang ingin membunuhku.
Belasan tahun dia berusaha membunuhku.
Berkali-kali percobaan, beruntungnya aku masih bertahan.
Namun ntah sampai kapan aku bisa bertahan bila aku bertarung sendirian.

16 tahun yang lalu, atas pertolongan Tuhan, aku berhasil memenjarakannya.
Namun dengan berbagai tipu muslihat, ia berkali-kali berusaha keluar dari penjara.
Beruntung aku sudah mulai waspada dengan keberadaannya.

Dia adalah diriku sendiri.
Kembaran yang selalu aku cari.
Terwujud dalam Depresi.


Read more......

Me, Myself, and I

Me, myself, and I. Heard so egoistic, right?
But, yeah, I’m not finished with myself yet.
So, how come I can share my life with others?


Read more......

Friday, June 9, 2017

9 Juni 2017


9 Juni 2017

Hari ini tepat 33 tahun usiaku.
Tapi baru tahun ini, depresiku kambuh parah tepat di hari ulang tahunku.
Baru tahun ini, aku ingin sekali mati tepat di saat aku baru membuka mata menyambut ulang tahunku.


Read more......

Thursday, April 20, 2017

Silence ….. in Jakarta

Hari ini Jakarta melangsungkan Pilkada putaran kedua untuk memilih Gubernur DKI. Dan setelah berbulan-bulan berjuang keras, jagoan saya (dan jagoan 42% warga DKI lainnya) tetap kalah.  

Kejadian ini persis sama seperti kejadian saat Trump menang Pemilu di US. Semua hasil survey mengatakan sebaliknya. Hal ini lah yang membuat para pendukung Petahana menjadi kecewa dan merasa pesimis. 

Termasuk saya. 

Apalagi saya dan juga mayoritas pendukung, merasa bahwa program Paslon kami jauh lebih baik dan lebih realistis dibanding paslon lawan. Tapi yah mau gimana. Manusia hanya bisa berkehendak, tapi Tuhan yang menentukan. 

Di tengah kecewaku, aku teringat film Silence.

Film Silence yang dibuat oleh Martin Scorsese tentang PERJALANAN IMAN seorang Pastor Jesuit dalam dalam perjalanan ke Jepang pada abad ke 17, untuk mencari Pastor Senior yang dinyatakan telah hilang dan melepaskan kepercayaannya terhadap agama Katolik. 

Dalam film berdurasi 161 menit tersebut, digambarkan betapa menderitanya para penganut Katolik yang hidup di Jepang saat itu. Dimana pemerintah Jepang saat itu tega menyiksa sampai mati, semua orang yang ketahuan menganut agama Katolik, termasuk kedua pastor Jesuit tersebut. Di akhir cerita, sang tokoh utama, Pastor Rodrigues, harus memilih antara tetap memegang teguh imannya terhadap agama Katolik atau keselamatan umat katolik di Jepang saat itu. 

“Perjalanan Iman” ini yang ingin aku tulis dan garis bawahi. 

Sama seperti kisah “Perjalanan Iman” Pastor Rodrigues dalam film Silence, hari ini wajib dijadikan tonggak untuk perjalanan iman bagi para pendukung Paslon Ahok Djarot, yang aku yakin masih merasa kecewa dan sedih atas kekalahan dalam Pilkada hari ini. 

Mungkin banyak yang dalam berkata dalam hati sambil merasa lemas atau pun menangis : “Tuhan kenapa Kau diam saja? Kenapa Kau tidak memenangkan Ahok Djarot? Engkau tahu kan, bahwa paslon lawan itu didukung kelompok Radikalis? Engkau tahu kan, kalau kekalahan Pilkada kali ini artinya ancaman bagi ke bhinnekaan di Indonesia? Engkau tahu kan, dengan kekalahan ini, maka kelompok minoritas dan yang termarginalkan akan semakin merasa terancam? Engkau tahu semua itu kan Tuhan? Lalu kenapa Engkau masih DIAM dan tidak bertindak?”

dan Tuhan pun tetap DIAM. 

Dalam DIAM, sebuah lagu tiba-tiba terlintas: 

Apa yang kau alami kini,
Mungkin tak dapat engkau mengerti.
Satu hal tanamkan dihati,
Indah semua yang Tuhan beri.

Tuhanmu tak akan memberi,

Ular berbisa pada yang minta roti.
Cobaan yang engkau alami,
Tak melebihi kekuatanmu.

Reff:

Tangan Tuhan sedang merenda,
Suatu karya yang agung mulia.
Saatnya kan tiba nanti,
Kau lihat pelangi kasihNya.
Tangan Tuhan sedang merenda,
Suatu karya yang agung mulia.
Saatnya kan tiba nanti,
Kau rasa belaian kasihnya.


Read more......

Sunday, January 8, 2017

Resolusi 2017


Arghhhhhh………  2017 sudah lewat 8 hari, dan aku baru sempat mengucapkan HAPPY NEW YEAR dan menuliskan resolusi 2017-ku. 

Tapi ngga papa yah, meski Tahun Baru International sudah lewat 8 hari, setidaknya Tahun Baru Imlek belum lewat, dan aku masih punya waktu 357 hari lagi untuk mewujudkan resolusi untuk tahun 2017 ini. 

Sejak 10 tahun terakhir, resolusi yang aku tulis di hampir setiap akhir / awal tahun adalah semoga aku bisa ambil S2 dan bisa mengurangi berat badanku. Puji Tuhan setelah bertahun-tahun menuliskan resolusiku yang nyaris sama memulu, akhirnya tahun 2016 kemarin aku berhasil mendapatkan gelar Master dan hampir mencapai target berat badan yang diberikan dokter. Meski masih kurang 5 kg lagi dari berat badan ideal yang seharusnya. Thanks God and Thanks to my Personal Trainer. Mungkin inilah yang disebut kekuatan Impian. 

So, dengan sudah terwujudnya impianku 10 tahun terakhir, kini saatnya Impianku harus naik kelas. Aku harus membuat pencapaian-pencapaian baru. 

Nah untuk tahun 2017 ini beberapa resolusi yang ingin aku capai : 

  1. Tidak terlambat lagi datang ke kantor / pertemuan-pertemuan lain.
Bahkan kalau bisa aku ingin rutin misa pagi lagi seperti beberapa tahun lalu, dan bisa nge-gym tiap pagi. Karena kalau nge-gym malam itu, aku harus ngebagi waktu dengan kegiatan-kegiatan lain. Lagipula ini mungkin latihan untuk komitmen dan mengalahkan diriku sendiri dalam hal rasa malas.

  1. Buat Blog tentang analisa keuangan
3 tahun terakhir ini akhirnya aku menyadari akan ketertarikanku kepada dunia pasar modal dan ekonomi global. Sayangnya dengan usiaku  dan pengalaman kerjaku saat ini, sangat sulit untuk bisa bekerja di dunia Pasar Modal. Bahkan meskipun aku sangat siap untuk memulai lagi karirku dari 0 atau Junior Staff, tetap saja aku tidak pernah mendapat panggilan kerja di bidang ini. Maka itu, aku kepikiran untuk membuat blog yang menuliskan analisaku tentang pasar modal / ekonomi global.

Memang sih blog sejenis sudah banyak di Internet. Sangat banyak bahkan. Tapi yang menulis kan orang lain bukan Grey Sebastian.

  1. Ikut ujian sertifikasi profesi (lagi)
Ujian lagi ?? emang ngga cape belajar mulu? Yah capek sih, tapi ilmu kan emang ngga ada habisnya, dan kalau mau bersaing dengan yang muda-muda dan expatriate atau orang-orang lainnya, yah mau ngga mau aku harus terus menambah nilai “JUAL”.
Saat ini cari kerjaan susah, kalau aku sampai tersingkir dari perusahaan atau terpaksa cari pekerjaan lain, aku sudah lebih lelah dari pada harus belajar lagi.  

  1. Ambil test IELTS
Impian aku lainnya adalah ingin kembali mencoba peruntungan di Negara lain. Bila dulu aku ingin keluar negeri karena ingin kabur dari Jakarta, kali ini aku ingin keluar negeri karena aku merasa tidak bisa berkembang dan tidak bisa mandiri bila aku tetap di Jakarta. Padahal aku harus mulai memikirkan masa depanku dengan partnerku.

Dan setelah mempertimbangkan matang-matang, tersisa 2 negara yang menjadi tujuanku yaitu New Zealand dan Australia. Untuk mengambil PR dari kedua Negara tersebut, aku harus lulus IELTS minimal 7 di semua bidang. Sejujurnya tidak mudah, tapi dengan pengalamanku yang berkali-kali membuat fenomena MESTAKUNG (semesta mendukung), aku YAKIN BISA, aku PASTI BISA, aku HARUS BISA.  

Untuk sementar 4 resolusi ini sepertinya sudah sangat ambisius. Tapi kita tidak akan pernah merasakan kesuksesan, kalau kita tidak berani memiliki IMPIAN kan? So, Wish me luck yah.


Grey_S



Read more......