Wednesday, August 25, 2010

My One



Terlahir sebagai seorang Gemini sejati, yang dalam kisahnya di haruskan seumur hidup mencari pasangan jiwanya. Sepertinya aku pun masih harus terus mencari pasangan jiwaku. Entah sampai kapan aku harus mencari.

Berkali-kali hatiku tertambat, berkali-kali pula aku harus rela melepaskan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, aku menyadari bahwa wanita-wanita yang pernah masuk ke dalam hati dan kehidupanku selalu memberikan pelajaran-pelajaran baru yang sangat berharga dalam hidupku.

Dari cinta pertamaku, aku belajar mengerti bahwa cinta di dunia ini tidak melulu antara pria dan wanita, namun masih ada cinta diantara pria dan pria maupun wanita dan wanita. Semua itu hanyalah cinta. Tidak pernah ada yang salah dengan cinta.

Saat aku duduk di bangku SMU, aku jatuh cinta pada sepupu sahabatku. Darinya aku belajar, bahwa ternyata cinta juga dapat merusak persahabatan. Aku dan kedua sahabat priaku, mencintai wanita yang sama. Kami yang sebelumnya selalu kompak bersama, akhirnya terpecah belah hanya karena memperebutkan seorang wanita. Dan yang lebih menyakitkan, tidak ada satupun dari kami bertiga yang mendapatkan hati wanita tersebut.

Dimasa kuliah aku jatuh cinta pada dosenku. Mati-matian aku menutupi perasaanku, karena saat itu aku masih menjadi seorang homo yang homophobic. Namun semakin aku menutupi perasaanku, semakin semua orang tau aku sangat mencintai dosenku. Sayangnya semua rasa cintaku saat itu berhasil di kalahkan dengan telak oleh egoku, yang tidak ingin nama baikku, sebagai seorang aktivis gereja, tercoreng di mata umum hanya karena aku mengaku jatuh cinta dengan dosenku yang juga seorang wanita.

Dari situ aku belajar untuk bersikap jujur, minimal terhadap hatiku sendiri. Apalah artinya nama baik di mata umum jika aku harus kehilangan orang yang aku cintai.

Ketika aku mulai memasuki dunia kerja, aku jatuh cinta dengan atasanku. Dengannya aku seperti menemukan belahan jiwaku, karena kami memiliki banyak kemiripan. Belum lagi ditambah durasi pertemuan yang lebih dari 12 jam sehari, 6 hari seminggu. Bahkan selepas jam kerja, terkadang kami masih sering menghabiskan waktu bersama. Tidak heran, hanya dalam hitungan minggu kami sudah menjadi sangat dekat.

Namun darinya aku juga belajar untuk mencintai seseorang dengan segala kelebihan dan kelemahannya. Aku juga belajar untuk bersikap professional dalam pekerjaan, agar tidak terulang lagi kejadian cinta berakhir, karir pun berakhir.

Selesai dengan atasanku, aku mulai mencari-cari cinta baru untuk menutup luka hatiku. Kali itu aku mulai menerapkan beberapa prasyarat untuk calonku kelak. Maksudnya agar aku tidak sembarangan jatuh cinta lagi. Hatiku bukanlah taman bermain yang bisa dimasuki sembarang orang sesuka hati mereka. Aku pun sudah mulai lelah mencari.

Dia harus seorang lesbian. Dia harus seorang yang baik budinya. Dia harus seorang yang pengertian. Dia harus tidak sekantor denganku. Dia harus berada di kota yang sama denganku. Dia harus seorang yang mandiri. Dia tidak akan menikah hanya karena dituntut menikah oleh keluarganya. Kalau bisa dia harus oriental. Kalau bisa dia harus seagama denganku.

Dan akhirnya aku menemukan “Dia”. Wanita yang kuimpikan. Wanita yang kucari seumur hidupku.

Dengan cara yang unik Tuhan mempertemukan aku dengannya. Dalam waktu yang sangat amat singkat (yang sebenarnya aku sebut itu gombal) Tuhan juga menumbuhkan cinta di hatiku.

Dari “Dia” aku belajar bersabar dengan keadaan. Dari “Dia” aku belajar berpasrah dengan keadaan. Dari “Dia” aku belajar menerima jika seandainya, seseorang yang selama ini aku cari, ternyata belum menjadi yang terbaik untukku. Dan dari “Dia” aku belajar untuk berdamai dengan Tuhan apapun yang akan terjadi kelak.

Jika pada akhirnya aku masih belum bisa bersama “Dia” yang aku impikan, mungkin karena sang Sutradara memang belum mau menyelesaikan sinetronNya.

Mungkin juga, saat Tuhan mempertemukanku dengannya, Ia hanya ingin menyampaikan bahwa seseorang yang aku cari itu benar-benar ada, hanya saja yang terbaik menurutku belum tentu benar-benar terbaik untukku.

Arghh… Terlalu banyak kata MUNGKIN dalam Rahasia Illahi.

Meski segala KEMUNGKINAN itu pasti ada, namun aku tidak bisa terus-terusan hidup hanya dalam sebuah KEMUNGKINAN. Aku ingin menunggu “Dia”, namun jika “Dia” memang masih belum menjadi yang terbaik untukku, maka aku harus tetap mencari My One.

Kelak My One mungkin tidak akan memenuhi syarat yang sama seperti yang aku terapkan sebelumnya. (Karena aku sudah menemukan sosok yang aku cari, aku tidak ingin mencari sosok yang sama lagi) Namun dia harus dapat menjadikan aku seseorang yang lebih baik. Seseorang yang lebih dekat dengan Tuhan. Seseorang yang lebih berguna.


Grey_S

12 comments:

itemanis said...

nice story Grey.
salam knal dr sesama gemini heehee..

Zhou Yu said...

Wah, Grey juga lagi menemukan getaran-getaran itu ya?

Dijalani aja dan percaya sama Bos Besar yang ada di atas. cuma kadang-kadang Beliau kalo bercanda agak ironis....

Apisindica said...

really love this post...

Lihat bagaimana proses pembelajaran membuatmu menjadi dewasa. Bagaimana semua tahapan yang sudah dilalui menjadikanmu lebih bijaksana.

bukankah itu indah?

Ms. Grey said...

@ Itemmanis : Salam kenal juga.

@ Zhou Yu : Aku jg selalu berdoa, setiap kali dekat dengan seseorang. Aku hanya meminta di pilihkan yang terbaik.
Sang Director memang paling hebat kalau membuat candaan.

@ Apis : Iya. Semakin hari, semuanya menjadi semakin Indah.

Semoga aku dapat bertahan sampai yang terindah dari yang paling indah itu hadir dalam kehidupanku.

Anonymous said...

ini contoh manusia yg manusia. sok ikhlas. sok tulus. tp tuntutannya banyak. harus inilah itulah. halaaahh

Farrel Fortunatus said...

aku berdoa, semoga kamu menemukan orang yang tepat, disaat yang tepat. yang bisa membimbing kamu, dan membuat hidupmu makin berwarna... makin bermakna...

Tizzz said...

sampe sedih n terharu baca nya.
Grey ku sekarang sudah dewasa. uda bisa berpasrah dan menerima semua nya.
whenever u need someone, i'll be there for u.

Anonymous said...

eh, gw setubuh sama si anonym pengecut ityu :)
belajar nya masih kurang deh....
kalo udah belajar mustinya tuntutan nya malah berkurang, bukan bertambah....
kalo tuntutan bertambah artinya selama proses ego nya yg terlukai semakin mengganas, makanya semakin banyak tuntutan karena hanya untuk memenuhi si ego yg sedang berkoar2 kalo si ego bakal bisa mendapatkan JAUH LEBIH BAIK, nah... itu sih si ego yg bicara, kalo yg sudah belajar dari 'tuhan' mah kagak pake ego kali hehehehe

Ms. Grey said...

@ Anonym : Salam kenal. Makasih sudah berkunjung dan meramaikan comment.

@ Farrel : Thanks bro.

@ Tizz : Tumben lo main lagi kesini.

@ Epent : Haiyaa suhu epent, baca yang bener dong. Pasti ngga baca sampe terakhir deh.

Kan gw bilang, gw TIDAK AKAN mencari lagi seperti yg gw mau karena gw SUDAH PERNAH menemukan. Gw cuma akan mencari seseorang yg bisa menjadikan gw orang yg lebih baik lagi.

Epent, kapan lo ke Jakarta??

Anonymous said...

hahaha... justru karena gw udah kelar baca makanya gw komen....

re-read your phrase pleaseeeee....
lu bilang AKAN MENCARI... apakah bahasa indonesia gw sudah sedemikian jelek nya sampe gw gak ngerti kalo di dalam kata 'akan mencari' itu mengandung makna 'masih mencari'? dan masih mencari kan artinya masih ada tuntutan bukan?

lu tidak akan mencari yg lu mau (sebelum nya) tapi elo akan mencari yg elo mau (sesudahnya) yaitu ... org yg bisa membuat elo bla bla bla.... itu juga termasuk kriteria, bagian bahasa indonesia mu yg mana yg gw kurang mengerti yah?? :)

gw kayaknya gak jadi ke jakarta lebaran ini, sepupu gw mau datang ke spore, maksa2 gw musti ada di spore, jadi susah deeeehhhh...

hoedz said...

mencintai seseorang gak harus selalu menuntut kan .. ?
selamat ya ..

Ms. Grey said...

@ Epent : Yahhhh ngga ketemu lo lagi deh... PAdahal gw masih harus banyak berguru sama lo.

@ Hoedz : Yup.
Thanks yah udah mampir.