Sunday, February 19, 2012

Bersabarlah

“Bersabarlah…” Kata suara misterius itu di telingaku setiap kali aku berdoa mohon jalan keluar dari masalahku saat ini.

***

Masih teringat dalam benakku, beberapa tahun yang lalu ketika aku dan teman-temanku mengikuti acara outing ke Pulau Umang yang di adakan oleh anggota Senat mahasiswa di kampus kami. Acara outing saat itu sungguh berkesan karena di salah di dalam program acara, ada satu hari khusus untuk acara outbond.

Yang namanya acara outbond, pastilah untuk menguji daya tahan kita secara fisik dan mental dalam menghadapi rintangan dan tantangan yang ada. Nah saat itu ada sebuah rintangan yang paling berkesan dalam ingatanku hingga saat ini. Bahkan bila aku di minta untuk mengingat kembali kesuksesan-kesuksesan yang aku raih, maka kesuksesan melewati rintangan tersebut adalah salah satu hal yang akan aku ingat.

Rintangan yang aku maksud adalah menyebrangi sungai kecil, selebar dua puluhan meter yang hanya terhubung dengan dua utas tambang besi yang di ikatkan di batang pohon kelapa yang tumbuh di pinggiran sungai tersebut. Kedua utas tambang tersebut, yang satu untuk pijakan kaki dan yang lainnya untuk pegangan tangan. Selain itu tidak ada pengaman lain.

Sebenarnya saat itu pemandu kami sudah memberikan dua pilihan, yaitu menyebrangi sungai lewat bawah dengan resiko basah kuyub sebelum mulai bermain atau meniti tali tersebut dan kami akan tiba di tempat permainan dengan pakaian tetap kering. Tentu saja aku memilih pilihan yang kedua dengan pertimbangan Camera Recorder yang aku bawa akan selamat dari air kalau aku menyebrangi sungai tersebut dengan meniti tambang.

Tantangan terberat saat itu adalah ketakutanku akan ketinggian. Meniti tambang dengan ketinggian kurang lebih 30 meter dan lebar 20 meter bukan hal yang mudah untukku, meskipun setelah terlewati ternyata juga tidak sulit. Kesulitan terbesar tentu saja hanya di langkah awal. Karena langkah berikutnya aku hanya berusaha bertahan tanpa bisa memikirkan hal-hal lain. Iya lah bagaimana bisa aku memikirkan yang lain, kalau aku harus berkonsentrasi penuh agar aku tidak terjatuh ke sungai, yang meski tidak terlalu dalam tapi sangat berbatu-batu. Saat itu, dalam setiap langkahku, aku hanya dapat menyebut dalam hati, “Tuhan bantu aku melewati ini semua.”
Mungkin ada yang akan bertanya, apakah aku menyesal memilih untuk meniti tambang daripada basah-basahan? Ketika aku sudah berada di tengah-tengah tambang itu dan melihat sepertinya langkahku seperti tiada akhir, tentu saja aku menyesal. Tapi di tengah-tengah tambang titian itu, menyesal pun sudah tidak ada gunanya lagi. Untuk kembali ke titik awal, aku tetap harus berjuang melawan ketakutanku akan ketinggian. Perlahan-lahan melewati titian tersebut pun aku juga harus berjuang. Kalau aku berhenti dan menangis di tengah-tengah juga tidak ada yang bisa menolong, kecuali aku berani melompat ke sungai dengan resiko patah tulang atau gegar otak.

Saat itu aku benar-benar belajar berjuang. Berjuang untuk tetap bertahan dan menyelesaikan rintangan tersebut. Rintangan yang kelak menjadikanku sebagai orang yang lebih tangguh lagi. Kini, kalau aku ditanya apakah saat itu aku menyesal, jawabku tentu saja tidak. Karena sekarang disaat aku kembali berada di posisi yang sama, aku sudah tahu bagaimana harus bersikap dan melewatinya.

Dan sekarang kondisi masalahku kembali seperti saat itu. Dimana aku hanya bisa bersabar.

“Bersabarlah Grey… bertahanlah… selangkah lagi dan kamu akan melewatinya.”


Read more......

Tuesday, January 3, 2012

2011

Patah hati, kekecewaan, sakit hati, arti persahabatan, pendewasaan diri, petualangan, titik balik kehidupan, semangat baru, kesuksesan perdana, kelahiran, kehidupan baru, pertemuan yang tak terduga, dan kepasrahan.

Itulah warna kehidupanku sepanjang tahun 2011. Suka dan duka selama satu tahun kemarin akhirnya berhasil kulalui.

Selamat tinggal 2011, selamat datang 2012.


Read more......

Monday, December 26, 2011

Christmas Gift

Ketika aku masih anak-anak Natal dan tahun baru adalah hari raya yang paling aku tunggu-tunggu. Karena selain sekolah akan libur dengan waktu yang cukup panjang, juga pasti akan ada pesta Natal di sekolah maupun di gereja, lalu Santa Claus akan datang dan memberikanku kado Natal.

Tapi setelah aku naik ke kelas 3 SD, sudah tidak ada lagi Santa Claus yang datang ke kelasku. Setiap kali pesta natal, kado yang aku dapatkan adalah hasil tukar menukar kado dengan teman-temanku. Pada saat itu, aku pun mulai menyadari kalau ternyata kado yang di berikan Santa kepadaku sebenarnya adalah kado dari mami dan Santa Claus yang memberikan kado pun ternyata guruku sendiri yang berdandan ala Santa.

Menjelang remaja aku tidak pernah lagi merayakan Natal dengan pesta-pesta. Tapi saat itu aku mulai berpartisipasi sebagai panitia penyelenggara pesta Natal untuk anak-anak sekolah minggu. Saat itu aku sudah tidak menerima kado lagi, tapi sebaliknya aku menjadi kakak yang membantu menyiapkan kado untuk di bagikan oleh Santa kepada adik-adik sekolah minggu.

Lambat laun, aku mulai lupa bagaimana perasaan ketika menerima kado Natal. Aku juga mulai lupa bagaimana perasaan bersemangat saat menyambut Natal. Apalagi sejak aku lulus kuliah dan bekerja, maka sudah tidak ada lagi liburan panjang di akhir tahun, yang ada adalah tingkat stress yang bertambah karena laporan-laporan dan target-target akhir tahun yang harus segera di selesaikan sebelum tahun berganti.

Namun tahun ini, tiba-tiba aku kembali dapat merasakan semangat Natal dan kembali menerima hadiah Natal. Meskipun hadiah Natal kali ini bukan berupa barang seperti hadiah Natal ketika aku masih kanak-kanak dulu. Hadiah Natal kali ini yang aku terima adalah berupa sebuah pengalaman batin.

Pengalaman batin yang membuatku semakin dapat menghayati makna kelahiran Yesus, membuatku semakin mengerti arti sebuah perjuangan dan juga membuatku semakin yakin dengan adanya kekuatan sebuah impian.

Kelompok paduan suaraku akhirnya berhasil menjadi Juara 1 di lomba paduan suara bertema Natal terakhir yang kami ikuti di salah satu Mall di Jakarta. Setelah selalu gagal dalam final setiap lomba sejak dua tahun lalu. Bahkan tahun ini kami sudah berusaha keras di beberapa lomba dengan tema yang sama dan tetap kurang beruntung. Sepertinya Tuhan ingin mengajarkan kami untuk bersabar dan pantang menyerah sebelum akhirnya menghadiahi kami predikat SANG JUARA.

Lomba terakhir di tahun 2011, harapan terakhir di tahun 2011, akhirnya kami berhasil menjadi JUARA 1 tepat satu hari sebelum malam Natal. Kemenangan kali ini adalah hadiah Natal terindah untukku dan teman-temanku. Hadiah yang akan terus mengingatkan kami untuk tidak pernah berhenti berjuang dan berdoa.

Terima kasih Tuhan untuk hadiah yang Kau berikan.



Read more......

Thursday, December 8, 2011

Langit dan Laut


Dulu aku pernah jatuh cinta kepada langit.
Aku sangat mencintainya, bahkan tergila-gila padanya.
Aku rela melakukan apapun untuk menggapai langitku.
Namun sepertinya cintaku bertepuk sebelah tangan.
Apapun yang kulakukan tidak pernah mampu membuatnya berpaling dan mendekat kepadaku.
Bahkan semakin aku berusaha menggapainya, semakin jauh jarakku dengannya.

Lalu aku mencoba membuka hati terhadap laut.
Berusaha mengenalnya lebih jauh.
Dan belajar mencintainya, seperti aku mencintai langit.
Ternyata bersama laut aku menemukan kedamaian yang selama ini aku cari.
Di dalam laut, aku mendapatkan penerimaan sepenuh hati.

Kini kemanapun aku pergi, aku selalu merindukan lautku.
Meski juga tak’kan pernah bisa berhenti menyayangi langitku.



Read more......

Saturday, November 26, 2011

(Still) the Great October

Postingan kali ini meski udah agak telat, tapi kayaknya aku ngga akan bisa tenang sebelum menceritakan kembali betapa bulan October 2011 akan menjadi bulan dengan kenangan terindah bagiku untuk sepanjang tahun ini.

Pada postingan yang sebelumnya, aku sudah bercerita tentang keberhasilan konser kecil kami, yang membuat percaya diri dan semangat kami semakin bertambah. Dalam suasana yang masih penuh antusias di tengah kami, Pak pelatih mengambil keputusan extreme yang cukup mengejutkan. Kami diajak mengikuti lomba untuk pemecahan rekor MURI di salah satu mall di Jakarta Barat, yang audisinya diadakan hanya selisih satu minggu setelah jadwal konser kemarin. Itu artinya kami hanya punya waktu seminggu untuk berlatih.

Dan sepertinya October 2011 adalah bulan keberuntungan untukku dan teman-temanku, karena ternyata kami berhasil lolos audisi meski dengan latihan yang bisa di bilang minimal. Dengan lolosnya audisi itu, maka sekarang kami harus memulai kembali perjuangan kami untuk dapat ikut mengukir sejarah pemecahan rekor MURI 12 jam nonstop choir Christmas Concert.


Arghhhhh…. Semakin ga sempet nge-blog deh. Secara jadwal latihan kembali padat.


Grey_S


Read more......

Monday, October 24, 2011

Terima kasih

Terima kasih Tuhan untuk bulan October paling luar biasa dalam hidupku.

Di mulai dari berjalannya QFF dengan lancar tanpa gangguan apapun.
Mengenal seorang sahabat luar biasa yang mampu menerima orientasi sexualku tanpa penolakan sedikit pun.
Kelahiran keponakan pertamaku dengan selamat meski sedikit membuat khawatir karena meleset cukup jauh dari perkiraan awal.
Hingga keberhasilan konser yang tahun ini menjadi project terbesar sekaligus project pertama yang aku kerjakan sebagai ketua panitia.

Terima kasih Tuhan untuk semua rintangan dan cobaan yang Kau berikan, sebelum akhirnya Kau menghadiahkan kami kesuksesan dan kebahagiaan seperti saat ini.
Terima kasih Tuhan untuk akhirnya membiarkan kami menikmati impian kami yang menjadi nyata.

Terima kasih yah Tuhan.


Read more......

Great October

Sesungguhnya aku bahkan tidak tahu harus menuliskan apa untuk menggambarkan perasanku saat ini. Bangga dan bahagia, menggantikan semua perasaan letih, stress, dan khawatir yang selama beberapa bulan terakhir ini menemaniku.

Letih, karena hampir semua kegiatan yang aku ikuti mengadakan acara pada bulan October ini. Stress, karena cukup banyak masalah yang terjadi juga pada saat pengerjaan acara-acara itu. Khawatir, karena bagaimana pun juga kami, khususnya aku hanyalah manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan. Belum lagi mendadak adikku harus melahirkan sebelum waktunya, aku dan teman-teman yang mendadak sakit hanya seminggu sebelum acara konser kami berlangsung, hingga perbedaan pendapat antar panitia yang sedikit membuat tegang di hari min satu sebelum concert.

Rasanya ingin sekali menangis ketika menerima banyak masalah itu datang mendera. Sayangnya bahkan airmataku pun sudah tidak bisa berkompromi denganku. Ia terlalu sombong untuk menetes di pipiku, sekedar untuk menenangkan perasaanku. Segala daya dan upaya sudah aku kerjakan semaksimal mungkin.

“Manusia boleh berencana, namun hanya Aku, yang Maha Kuasa, yang akan memutuskan.”

Semua jalan sudah buntu. Keadaan memaksaku untuk hanya bisa memasrahkan diri dan berdoa.

“Tuhan, kedalam tanganMu keserahkan hidupku. Terjadilah padaku sesuai kehendakmu.”

Dan jadilah sabtu kemarin pembuktian Tuhan atas kebesarannya. Konser yang kami kerjakan selama berbulan-bulan sukses dengan sambutan hangat yang melebihi perkiraan kami. Anggota-anggota yang sehari sebelumnya masih sakit, termasuk aku ternyata bisa bertahan untuk bernyanyi sampai konser selesai. Buku acara yang nyaris tidak selesai di cetak, ternyata bisa tiba di tempat tepat waktu. Hadirnya perwakilan duta besar dari negara sahabat dan beberapa wartawan yang meliput, semakin membuat percaya diri kami bertambah.

Hari minggu kemarin kebahagianku semakin lengkap dengan boleh pulangnya malaikat kecilku dari rumah sakit. Malaikat kecilku bahkan jauh lebih sehat dari paman kecilnya yang dua tahun lalu juga terlahir prematur. Tidak sabar rasanya aku ingin bermain dengan malaikat kecilku.




Read more......