Thursday, December 31, 2015

Goodbye 2015, Welcome 2016

Persis di bulan Desember tahun lalu, aku sedang bersuka cita dengan berhasil terwujudnya resolusi tahun 2014-ku yaitu melanjutkan kuliah ke jenjang S2. Yeah… 2015 yang menjadi tahun perjuanganku telah berhasil kulalui.

Kuliah sambil kerja yang sebelumnya aku kira akan sulit kulewati, ternyata telah berhasil kulewati selama 9 bulan pertama. Bahkan di bulan September kemarin, kulewati dengan triple job antara kerjaan kantor, presentasi plus ujian akhir semester satu, dan menjadi panitia bazzar di Film Festival. Yihaaaaa…. Berhari-hari ngga tidur, stress tingkat dewa, tapi aku tetap berhasil lulus dengan nilai yang cukup memuaskan untukku. Bazzar yang saat itu aku kerjakan meski persiapannya mendadak juga ternyata cukup banyak yang datang dan pelaksanaannya masih sesuai harapanku.

 Di akhir tahun 2015 ini juga, akhirnya aku memutuskan ambil service Personal Trainer (PT) lagi di gym. Secara PT yang ini cukup pinter dan tau kebutuhan aku untuk urusan kesehatan ngga kayak yang dulu-dulu yang maksa banget minta aku ambil PT. Betewe busway, ide bisnis aku yang sudah lama aku pikirkan ternyata disetujui untuk topic thesis tahun depan. Insya Yesus berjalan lancar, daku lulus dengan baik, bisnis bisa jalan, pacar bisa diboyong ke Jakarta, aku bisa resign dari kantor. Ameeennnnn…..

Yah sekian dulu perjalanan hidup selama tahun 2015, semoga di tahun 2016 aku bisa lulus S2 tepat waktu dan dapat kerjaan baru atau bisnis beneran bisa jalan. Itu aja resolusi aku untuk 2016. Ehhh tambah nurunin berat badan lagi ding…. Ini masih gagal soale… resolusi punya invetasi lebih banyak juga belum terpenuhi, dompet masih kembang kempis kayak tahun lalu… maklum tahun ini tidak naik gaji, kebutuhan rumah tangga makin naik malah iya…

Udah yah… see you tahun 2016…
Happy New Year.

Wednesday, September 2, 2015

Aku Takut Jatuh Cinta Lagi

Aku Takut Jatuh Cinta Lagi - Drew


Terhenyakku melihat matanya teduh menatap diriku
Tak terasa kitapun berbincang mencoba saling mengenal
Tiba-tiba ku sadari ku mempunyai kekasih
Yang telah lama bersamaku, mengisi hari indahku

Aku takut bila nantinya aku jatuh cinta lagi
Walau itu indah dan ku pun inginkan

Dan lagi-lagi ku enggan karena ingat kekasihku
Walau bukanlah salahku untuk cari yang terbaik

Aku takut bila nantinya aku jatuh cinta lagi
Walau itu indah dan ku pun inginkan

Namun aku takut bila nantinya aku jatuh cinta lagi
Walau itu indah dan ku pun inginkan

Tergelitik rasa di hatiku tuk bertemu dengannya lagi
Kita kan bercanda bercerita segala impian kita

https://www.youtube.com/watch?v=ZgAKSijJLrw

Tuesday, July 7, 2015

Same sex marriage

Beberapa hari ini seluruh dunia sedang heboh dengan pro kontra legalisasi pernikahan sejenis di Amerika. Yang memutuskan melegalkan pernikahan sejenis Amerika, tapi yang heboh malah Indonesia. 

Malam ini pun di sebuah stasiun TV telah menayangkan acara debat tentang Pro Kontra Same Sex Marriage ini dengan nara sumber anggota MUI dan aktivis LGBT Indonesia. Dan ujung-ujungnya tetap saja menurut pihak yang kontra, homosexualitas dianggap berdosa dan harus direhabilitasi.

Memang sih dengan dilegalkannya pernikahan sejenis di Amerika, yang sebelumnya terkenal diskriminatif, membuat semua LGBTIQ di seluruh dunia, khususnya di negara-negara yang masih homophobia apalagi di negara yang masih mengkriminalisasi homoseksual, merasa mendapat harapan untuk bisa menikahi kekasih hati mereka di kemudian hari.

Apakah dengan dilegalkannya same sex marriage maka semua orang akan berubah orientasi sexual? Apakah benar sekarang pernikahan itu masih berharga untuk setiap pasangan? Kalau iya, kenapa jumlah perceraian semakin banyak? Dan kenapa semakin banyak pula orang-orang heterosexual yang tidak tertarik untuk menikah?

Grey Hair

Hari ini aku menatap wajahku di cermin cukup lama. Memperhatikan setiap bagian di wajahku dan juga rambutku. Aku kembali menemukan sehelai rambut putih itu. Masih ada di kepalaku dan memang belum aku cabut sejak sebulan yang lalu. 

Biasanya begitu aku menemukan rambut putih, pasti langsung aku cabut. Karena aku tidak percaya diri dengan rambut-rambut putih itu di usiaku yang masih “muda” ini. Tapi rambut putih kali ini sedikit berbeda untukku. Sengaja aku masih membiarkannya tumbuh karena ini adalah rambut putih pertamaku di usiaku yang kepala tiga sejak tahun lalu.

Rambut putih kali ini mengingatkanku bahwa aku sudah lama tidak menjadi anak-anak lagi. Ternyata sudah lama aku lepas dari sebutan anak-anak. KTPku sudah tiga kali ganti.
Adikku bahkan sudah memiliki dua buntut.
Adikku yang beda usia tujuh tahun dariku, yang dulu masih aku gantikan popoknya, sekarang sudah resmi menjadi dokter.
Adikku yang paling kecil, yang beda usia sepuluh tahun dibawahku, yang dulu masih aku gendong-gendong ternyata sudah memasuki tahun ke empat kuliah. Sebentar lagi lulus.
Keponakanku yang sepertinya baru kemarin aku tunggui kelahirannya, sekarang sudah masuk taman kanak-kanak dan menjadi anak yang sangat cerdas dan lucu.
Keponakan kekasihku yang ketika mengenalnya persis baru genap berusia dua tahun, sekarang sudah naik ke kelas satu SD.

Rambut putih kali ini belum ingin aku cabut. Aku masih membutuhkannya untuk mengingatkanku beberapa hal lain.
Aku masih perlu diingatkan untuk lebih serius dalam menjalani sisa hidupku.
Aku masih perlu diingatkan untuk lebih berani berjuang menggapai mimpiku sebelum waktuku berakhir.
Aku masih perlu diingatkan untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta, karena hari esok belum tentu ada untukku.
Dan yang paling penting aku masih perlu diingatkan untuk semakin dekat denganNya, karena hanya Ia yang mampu menjadi petunjuk jalan, pendamping, dan pelindungku.

Grey_S

Saturday, June 20, 2015

Hello June


Hello June, how are you?

Tidak terasa yah setahun lagi telah berlalu, bahkan June tahun 2015 pun sudah melalui tanggal 20.

Bulan Juni memang selalu special. Special karena ini adalah bulan kelahiranku. Juga bulan kelahiran blog Perjalanan Grey ini. Pada bulan Juni 2008, aku tidak menyangka akan memiliki blog ini sampai sekarang.
Blog yang mempertemukanku kembali dengan seseorang yang akhirnya menjadi kekasih hatiku.

Juni tahun 2015 ini aku cukup sibuk. Urusan pekerjaan yang tidak ada habisnya, tugas-tugas kuliah yang juga tidak mau kalah dengan tugas di kantor, reunian dengan teman-teman di kampus, ulang tahun lalu kena musibah tabrakan, mendapat hadiah terindah dari teammates, dan kehilangan seorang sahabat untuk pergi selamanya.

Semua yang terjadi bulan ini, membuatku kembali merenungkan tentang arti kelahiranku. Apa yang akan hilang jika aku sudah tiada? Apakah amal baikku sudah cukup untuk aku masuk surga kelak?

Selamat jalan kawan


Tidak ada pesta yang tidak berakhir,  dan tidak ada pertemuan tanpa perpisahan.

Saat mendengar kau terjatuh di toilet kantormu, aku tau hari ini pasti akan datang.
Aku pun mulai mempersiapkan hati, jika memang kita harus berpisah.

Namun ternyata semua persiapan hati yang kulakukan, tidak berhasil membuatku siap untuk mendengar tentang kabar kepergianmu pagi ini.
Semua persiapan hati ini, tidak berhasil menghentikan tetes air mataku.
Mendadak semua kenangan saat kita bersama bermunculan seperti film yang diputar ulang.

Saat pertama kali kita berkenalan. Lalu kita mulai bekerja sama.
Kita saling bertukar cerita, saling menasehati.
Kita bersenang-senang bersama, nonton bersama, makan bersama, melaksanakan tugas bersama, stress bersama.  
Dan hari ini kita pun  berkumpul bersama di rumah peristiratanmu yang terakhir.

Selamat jalan kawan.
Doakan kami yang masih berjuang di dunia ini.
Sampai kita berjumpa lagi.


"See You Again"
(feat. Charlie Puth)

[Charlie Puth:]
It's been a long day without you, my friend
And I'll tell you all about it when I see you again
We've come a long way from where we began
Oh, I'll tell you all about it when I see you again
When I see you again
(Hey)

[Wiz Khalifa:]
Damn, who knew?
All the planes we flew
Good things we've been through
That I'll be standing right here talking to you
'Bout another path
I know we loved to hit the road and laugh
But something told me that it wouldn't last
Had to switch up
Look at things different, see the bigger picture
Those were the days
Hard work forever pays
Now I see you in a better place (see you in a better place)

Uh
How can we not talk about family when family's all that we got?
Everything I went through you were standing there by my side
And now you gon' be with me for the last ride

[Charlie Puth:]
It's been a long day without you, my friend
And I'll tell you all about it when I see you again (I see you again)
We've come a long way (yeah, we came a long way) from where we began (you know we started)
Oh, I'll tell you all about it when I'll see you again (let me tell you)
When I'll see you again

(Aah oh, aah oh
Wooooh-oh-oh-oh-oh-oh)
Yeah

[Wiz Khalifa:]
First you both go out your way
And the vibe is feeling strong
And what's small turn to a friendship
A friendship turn to a bond
And that bond will never be broken
The love will never get lost (and the love will never get lost)
And when brotherhood come first
Then the line will never be crossed
Established it on our own
When that line had to be drawn
And that line is what we reach
So remember me when I'm gone (remember me when I'm gone)

How can we not talk about family when family's all that we got?
Everything I went through you were standing there by my side
And now you gon' be with me for the last ride

[Charlie Puth:]
So let the light guide your way, yeah
Hold every memory as you go
And every road you take, will always lead you home, home

It's been a long day without you, my friend
And I'll tell you all about it when I see you again
We've come a long way from where we began
Oh, I'll tell you all about it when I see you again
When I see you again

(Aah oh)
(Uh)
(Aah oh)
(Yeah)
(Wooooh-oh-oh-oh-oh-oh)
(Ya, ya)
When I see you again
(Uh)
See you again
(Wooooh-oh-oh-oh-oh-oh)
(Yeah, yeah, uh-huh)
When I see you again


Wednesday, February 11, 2015

Mami, Papi, dan Aku

Semalam adalah malam kedua aku tidur bertiga bersama Mami dan Papi setelah hampir 30 tahun kami tidak pernah tidur bertiga lagi. Tentu saja setelah adikku lahir, kami sudah tidak tidur bertiga lagi, tapi berempat. 

Apalagi saat aku masuk TK, aku harus pindah ke rumah Oma-Opa karena lebih dekat dengan sekolah, dibanding rumah Mami-Papi yang pada saat itu masih jadi tempat “Jin buang anak” a.k.a jauh dari mana-mana. Sehingga mulai saat itu, aku hanya pulang ke rumah Mami Papi kalau liburan tiba. Itu pun biasanya jarang bisa lebih dari 2 minggu, karena setiap pulang ke rumah Mami Papi, aku selalu sakit. 

Selepas SMP aku semakin jarang pulang ke rumah Mami Papi karena aku sempat bertengkar hebat dengan papi yang menyebabkan aku sempat tidak bertegur sapa dengan Papi selama hampir 13 tahun. Saat ini meski hubunganku dengan Papi sudah mulai membaik, namun kekakuan diantara kami belum bisa mencair seperti saat aku masih kecil dulu. 

Namun banjir yang melanda Jakarta 3 hari terakhir ini, membuatku terjebak tidak bisa pulang dari kantor ke rumah Oma, sehingga aku terpaksa harus pulang ke rumah Mami Papi. Kecuali aku bersedia keluar uang lebih untuk menyewa kamar hotel. Tapi dengan kondisi keuanganku sekarang, aku lebih memilih pulang ke rumah Mami Papi yang sudah jelas tidak perlu bayar untuk menginap.

Malam pertama aku kembali tidur bertiga, aku masih belum punya waktu untuk memerhatikan kedua orang tuaku. Aku terlalu lelah setelah seharian bekerja dan terjebak macet yang luar biasa. Aku hanya tidak bisa tidur karena bukan tidur dikasurku yang biasa, dan tidak memeluk gulingku yang biasa. 

Malam kedua aku kembali tidur bertiga, aku baru mulai memperhatikan kebiasaan-kebiasaan orangtuaku yang ternyata agak berbeda denganku. Mungkin karena aku jadi lebih mengikuti kebiasaan-kebiasaan Oma Opaku. 

Mami ternyata tidak bisa tidur kalau tidak ada nyala lampu sama sekali. Sedangkan aku justru tidak terbiasa tidur dengan adanya nyala lampu. Aku lebih suka mematikan lampu dan menikmati cahaya bulan dari jendela kamarku. 

Mami dan Papi juga terbiasa menyalakan AC semalam suntuk dan baru dimatikan ketika bangun tidur, sedangkan aku justru tidak bisa tidur kalau suhu ruangan terlalu dingin. 
 
Papi terbiasa tidur cepat, lalu bangun dini hari untuk membaca dan mengerjakan tugas-tugasnya, sedangkan aku lebih suka menyelesaikan tugas-tugasku dulu agar bisa bangun lebih siang esok harinya. 

Mami tidak suka sarapan pagi, sedangkan aku jarang sekali bisa meninggalkan rumah tanpa sarapan. Bila aku tidak sempat sarapan pun, aku akan selalu menyediakan bekal untuk aku sarapan di kantor atau di jalan. 

Tidak tinggal bersama memang membuat banyak kebiasaan-kebiasaan kami yang berbeda jauh, namun sejauh apapun perbedaan kami semoga aku masih bisa berbakti untuk kedua orang tuaku.